Selasa, 23 Desember 2014

BAB 11 PART 1

SEBELUM berangkat ke kampus, Sandy memutuskan untuk menelepon orangtuanya. Meski tidak yakin apakah orangtuanya sudah tahu tentang kebakaran itu atau belum, ia tetap berpikir sebaiknya mereka diberitahu. Siapa tahu mereka malah sudah mendapat kabar dan tidak bisa menghubunginya karena ia sendiri baru mengaktifkan ponsel hadiah dari Jung Tae-Woo tadi pagi. Orangtuanya tentu akan khawatir setengah mati.
Beberapa saat yang lalu Bibi Chon sudah datang untuk membereskan rumah. Sebelum berangkat ke bandara tadi pagi, Jung Tae-Woo memberitahu Sandy, bibi itu biasa datang membereskan rumah tiga kali seminggu. Jung Tae-Woo juga menambahkan Bibi Chon sudah bekerja untuk keluarganya sejak lama dan bahwa dia bisa dipercaya seratus persen, sehingga Sandy lebih tenang. Bagaimanapun keadaan tidak terlalu aman saat ini. Kalau kenyataan ia tinggal di rumah Jung Tae-Woo tercium wartawan, entah kehebohan apa lagi yang akan terjadi.
Setelah memperkenalkan diri kepada Bibi Chon dan membiarkan wanita setengah baya bertubuh gemuk itu menjalankan tugasnya, Sandy mengambil telepon rumah dan masuk ke kamar untuk menelepon orangtuanya. Seperti dugaan pertamanya, ternyata orangtuanya tidak tahu-menahu tentang kebakaran itu dan sekarang Sandy malah harus berusaha keras menenangkan mereka.
Pertama-tama ia berbicara dengan ibunya, jadi ia berbicara dalam bahasa Indonesia.
“Ya, Sandy nggak apa-apa, Ma. Nggak ada yang luka. Apinya memang besar dan Sandy nggak sempat mengambil barang-barang… Apa? … Oh, setahu Sandy sih nggak ada yang meninggal. Semuanya selamat… Tapi pemadam kebakarannya agak terlambat, jadi apartemen Sandy sudah hangus semua.”
116
Tiba-tiba Sandy mendengar suara ayahnya di ujung sana dan ia ganti berbicara dalam bahasa Korea. “Ayah, Ayah tidak usah khawatir begitu. Aku tidak apa-apa. Sungguh. Tidak terluka sedikit pun. Mama kenapa?”
Sepertinya ibunya sedang berusaha merebut telepon dari tangan ayahnya. Sandy tersenyum sendiri mendengar ibunya yang tidak sabaran. Akhirnya ibunya kembali menguasai telepon sehingga Sandy kembali berbicara dalam bahasa Indonesia.
“Sandy, bagaimana kalau kamu pulang dulu ke sini untuk sementara?” ibunya menawarkan.
Sandy tertawa kecil. “Sandy kan masih harus kuliah. Mama ini bagaimana?”
“Jadi, sekarang kamu tinggal di rumah siapa?” tanya ibunya langsung.
Sandy bingung harus menjawab apa. “Sekarang? … Ng, sementara ini Sandy tinggal di rumah teman. Dia tinggal sendiri jadi nggak keberatan kalau Sandy numpang sebentar. Lagi pula di rumahnya ada kamar kosong. Hari ini rencananya Sandy mau cari tempat tinggal baru.”
“Kamu bukan tinggal di rumah Young-Mi?” tanya ibunya lagi.
“Bukan. Mama kan tahu sendiri rumah Young-Mi hanya cukup untuk mereka sekeluarga. Kalau tinggal di sana, Sandy hanya bakal menambah beban Paman dan Bibi, kan? Young-Mi sudah meminjamkan pakaiannya untuk Sandy, jadi Sandy nggak mau lebih merepotkan lagi.”
“Oh, begitu? Terus, siapa nama teman kamu itu? Berapa nomor teleponnya? Alamatnya di mana?”
Sekarang Sandy agak enggan menjawab, “Teman Sandy?”
“Iya, teman kamu yang mengizinkan kamu tinggal di rumahnya itu. Siapa namanya? Mama kenal dia?”
“Oh… oh… itu…” Dilema. Apakah ia harus berterus terang?
“Jangan-jangan kamu sekarang ada di rumah artis itu.”
Kata-kata ibunya seperti petir di siang bolong. Jadi ibunya sudah tahu? Bagaimana bisa?
“Mama ini ngomong apa sih?” Sandy masih berusaha mengelak.
“Ada teman Mama yang cerita.” Suara ibunya berubah datar. “Jadi?”
Sandy tidak bersuara. Ia duduk bersila di tempat tidur sambil menatap jari-jari kakinya.
“Coba bilang terus terang sama Mama, apa kamu memang punya hubungan dengan artis itu?”
Sandy menelan ludah dan menarik napas pelan. “Memang kenal,” sahutnya agak takut-takut.
117
“Kenal? Seperti apa?” desak ibunya. “Terus, bagaimana ceritanya sampai kamu sekarang ada di rumahnya?”
Sandy menggigit bibir dan akhirnya memilih berterus terang. “Ma, kami sama sekali nggak ada hubungan apa-apa. Sandy hanya bermaksud membantu Jung Tae-Woo ssi, nggak lebih dari itu. Mama harus percaya sama Sandy. Memang benar, Sandy sekarang tinggal di rumahnya, tapi ini juga hanya untuk sementara.”
Sandy mendengar ibunya mendesah lirih. “Mama nggak tahu, Sandy. Memangnya kamu nggak punya teman lain yang bisa membantu? Kenapa harus di rumahnya?”
Sandy memejamkan mata, salah satu tangannya terangkat ke kening.
Ibunya melanjutkan lagi, “Entahlah, Sandy, Mama benar-benar nggak tahu harus ngomong apa. Terus terang saja, Mama merasa… Kenapa artis itu lagi?”
Sandy juga pernah berpikir seperti itu. Sejak ia mengatakan setuju membantu Jung Tae-Woo, setiap hari ia selalu teringat pada hal-hal yang tidak seharusnya diingat-ingat lagi. “Tapi, Ma, Jung Tae-Woo ssi orang yang baik,” katanya.
“Kamu sudah besar, sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang nggak. Terserah keputusanmu saja,” kata ibunya. “Mama akan mengirimkan pakaian untukmu. Kamu perlu apa lagi?”
Setelah ibunya menutup telepon, Sandy duduk merenung. Dadanya terasa sesak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya pelan-pelan. Cara itu biasa dilakukannya untuk menenangkan diri.
”Nona.”
Sandy menoleh ke arah pintu kamar ketika mendengar suara Bibi Chon memanggilnya dari luar. Sandy segera turun dari tempat tidur dan berjalan ke pintu. Ia membuka pintu dan melihat wajah Bibi Chon yang berseri-seri.
Sebelum Sandy sempat membuka mulut, Bibi Chon sudah lebih dulu mengulurkan tangan dan berkata, “Saya menemukan ini di lantai. Apakah ini milik Anda?”
Sandy menatap benda yang ada di telapak tangan Bibi Chon. Benda itu bros berbentuk hati dan berwarna merah mengilat dengan pinggiran keemasan. Tenggorokannya tercekat. Ia baru ingat, di malam kebakaran itu ia sedang memandangi bros tersebut. Ternyata waktu itu tanpa sadar ia lalu memasukkannya ke saku piama. Sandy bahakn sudah hampir melupakannya sampai benda itu muncul lagi di hadapannya sekarang.
“Apakah ini milik Anda?” Bibi Chon mengulangi pertanyaannya.
Sandy tersentak. “Ya, benar. Terima kasih sudah menemukannya.”
Sandy menerima bros itu dan Bibi Chon kembali mengerjakan tugasnya. Sandy menutup pintu kamar. Ia kembali duduk di tempat tidur sambil menatap bros itu. Ia mendongak memandang langit-langit kamar, menarik napas panjang sekali lagi, lalu
118
mengembuskannya perlahan. Sekali, dua kali, tiga kali, dan tiba-tiba saja air matanya bergulir turun. Ia menghapusnya dengan telapak tangan, lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya lagi.
Kang Young-Mi merapikan rambutnya yang tertiup angin dengan jari-jari tangan. Ia dan Sandy sedang duduk-duduk di kafe langganan mereka. Karena cuaca sore hari ini bagus sekali, mereka memilih meja di luar yang dinaungi payung besar bergaris-garis biru dan putih. Young-Mi mengamati temannya yang duduk di hadapannya dengan dahi berkerut. Sandy sedang mengaduk-aduk cappuccino-nya dengan gerakan lambat. Young-Mi merasa sikap temannya agak lain. Akhir-akhir ini Sandy sering melamun, sepertinya banyak sekali yang dipikirkannya. Young-Mi pernah berusaha mencari tahu apa yang ada dalam benak Sandy, tapi tidak mendapat jawaban yang memuaskan.
“Soon-Hee, hari ini Jung Tae-Woo pulang, ya?” tanya Young-Mi sambil lalu.
Sandy tidak menjawab, bahkan mengangkat wajah pun tidak. Ia masih terus mengaduk cappuccino-nya.
Kang Young-Mi menarik napas dalam-dalam. “Hei, Han Soon-Hee!”
Kali ini Sandy tersentak dan menatapnya dengan pandangan bertanya. “Apa? Kenapa?”
“Aku tanya, Jung Tae-Woo kembali hari ini, bukan?”
“Oh, tidak. Tadi siang dia menelepon dan bilang tidak jadi pulang hari ini,” jawab Sandy sambil mengangkat bahu. “Katanya ada urusan mendadak atau semacamnya. Mungkin besok baru pulang.”
“Begitu?” Young-Mi mengangguk-angguk dan terdiam. Setelah berpikir sebentar, ia bertanya lagi, “Wah, jangan-jangan dia selingkuh dengan artis Jepang?”
Sandy tertawa ringan. “Kalau dia memang bisa selingkuh atau setidaknya punya hubungan dengan wanita, bukankah sejak awal aku tidak dibutuhkan?”
Young-Mi ikut tertawa. “Benar juga,” katanya. “Jadi kau akan pindah setelah dia pulang nanti?”
Sandy mengangkat wajah dan memiringkan kepala. “Mmm, begitulah. Rasanya tidak enak kalau aku pindah begitu saja tanpa bilang dulu padanya, kan?”
Young-Mi mencondongkan tubuhnya ke depan. “Maksudku, kenapa kau tidak tetap tinggal di rumah Jung Tae-Woo saja? Aku rasa dia tidak akan keberatan.”
Mata Sandy melebar. “Kau gila? Kalau ketahuan, itu bisa jadi skandal besar! Para wartawan tabloid gosip bakal jungkir balik saking senangnya,” katanya. “Lagi pula ibuku juga marah-marah. Akan jauh lebih baik kalau aku punya tempat tinggal sendiri.
119
Masa aku bisa berdiam diri membiarkan Jung Tae-Woo menanggungku? Masa dia mau menanggungku? Yang benar saja.”
Young-Mi berdeham, menatap kesepuluh kuku jari tangannya yang dipotong rapi dan berkata, “Bukankah dia suka padamu?”
Walaupun Sandy tidak menunjukkan ekspresi apa pun, sudah tentu Young-Mi bisa menduga hubungan Soon-Hee dan Jung Tae-Woo tidak sesederhana yang mereka katakan. Ia yakin Jung Tae-Woo tertarik pada Sandy. Kenapa ia bisa yakin? Karena Jung Tae-Woo mengizinkan gadis itu tinggal di rumahnya, membelikan ponsel untuknya, dan merayakan ulang tahunnya. Lalu selama berada di Jepang, laki-laki itu sering menelepon Sandy, kalau tidak menelepon, ia akan mengirim pesan singkat melalui ponsel. Young-Mi nyaris yakin sebenarnya Sandy juga tertarik pada Jung Tae-Woo, tapi ia tidak punya alasan kuat yang mendukung keyakinannya itu. Sandy snediri tidak pernah secara blakblakan mengatakan ataupun menunjukkan perasaan tentang masalah yang satu ini.
“Bagaimana?” tanya Young-Mi. “Kau sendiri juga bisa merasakannya, kan?”
Sandy menatapnya sambil tersenyum samar. “Merasakan apa? Kau ini ada-ada saja. Oh ya, aku belum berterima kasih padamu karena sudah seharian ini kau menemaniku mencari apartemen baru. Kau mau membantuku memilih perabot, kan? Harus kukatakan dulu bahwa aku hanya sanggup membeli beberapa perabot dasar. Kalau pindah nanti, aku pasti akan membutuhkan bantuanmu lagi.”
Young-Mi tidak berkomentar apa-apa. Ia mengembuskan napas perlahan dan bersandar kembali ke kursi plastiknya. “Tentu saja,” katanya setelah terdiam beberapa saat. “Aku akan membantumu.”

BAB 10 PART 2

Jeong-Su tersentak dan menatap wanita yang duduk di hadapannya. Jin Da-Rae memang wanita yang cantik dan menawan. Wanita itulah alasannya meninggalkan Soon-Hee dulu. Tapi sekarang sepertinya ada sedikit penyesalan dalam hatinya.
“Aku tidak menyangka Soon-Hee punya teman yang terkenal seperti Jung Tae-Woo. Bagaimana bisa?” kata Jin Da-Rae sambil mengerutkan kening. “Aku memang pernah membaca di majalah tentang hubungan Jung Tae-Woo dengan wanita yang bernama Han Soon-Hee, tapi aku tidak menyangka berita itu benar dan wanita yang dimaksud adalah Han Soon-Hee yang ini.”
Jeong-Su hanya bergumam tidak jelas menanggapi perkataannya.
“Nah, kau sudah tidak perlu mengkhawatirkannya karena sekarang dia sudah punya pacar yang terkenal,” Jin Da-Rae melanjutkan tanpa memandang Jeong-Su.
Jeong-Su bergumam sekali lagi dan melirik ke arah Soon-Hee. Gadis itu tertawa sambil menutup mulut dengan sebelah tangan, sedangkan Jung Tae-Woo menatapnya sambil tertawa kecil. Apa yang mereka tertawakan? Apa yang mereka bicarakan? Kapan terakhir kalinya ia melihat Soon-Hee tertawa seperti itu? Ia sudah lupa. Tiba-tiba saja ia merasa rindu pada tawa gadis itu.
“Lee Jeong-Su ssi!”
Jeong-Su tersentak sekali lagi mendengar namanya disebut dengan nada tinggi.
Jin Da-Rae sedang menatapnya kesal. “Kau sama sekali tidak mendengarkan apa yang baru saja kukatakan, kan?”
“Tentu saja aku mendengarkan,” Jeong-Su mencoba membantah.
“Bagaimana kau bisa mendengarku kalau kau terus memerhatikan Han Soon-Hee?”
“Aku tidak memerhatikannya.”
Jin Da-Rae mengangkat kedua tangan. “Sudah cukup. Sekarang juga aku ingin pergi dari sini. Kita pergi ke tempat lain saja.”
Jeong-Su mengerutkan kening. “Da-Rae, kau sendiri yang bilang kau ingin makan malam di sini. Kenapa sekarang kau ingin pergi?”
Jin Da-Rae melipat tangan di depan dada dan mendengus kesal. “Aku berubah pikiran. Aku ingin pergi ke tempat lain. Ayo, kita pergi.”
Tanpa menunggu lagi, Jin Da-Rae meraih tas tangannya dan bangkit dari kursi. Jeong-Su berusaha menahannya, tapi tidak berhasil. Ia mendesah dan menoleh ke arah Soon-Hee sekali lagi. Tentu saja gadis itu tidak sedang melihat ke arahnya. Jeong-Su menarik napas, membayar makanan, dan menyusul Jin Da-Rae.
Sandy menyadari kepergian Jin Da-Rae dan Lee Jeong-Su dari restoran itu. Jung Tae-Woo juga.
108
“Mereka pergi,” kata Tae-Woo sambil melihat ke arah pintu restoran.
Sandy hanya berdeham dan menatap piringnya yang sudah hampir kosong. Ia kesal. Kenapa perasaannya masih tidak enak ketika melihat Lee Jeong-Su dan Jin Da-Rae bersama? Kenapa ia masih belum bisa melupakan masalah delapan bulan yang lalu? Tidak mungkin ia masih mengharapkan Lee Jeong-Su, kan?
“Lagi-lagi ekspresi itu.”
Sandy mengangkat wajahnya dan memandang Jung Tae-Woo. Laki-laki itu sedang mengamati wajahnya. “Apa?” tanya Sandy.
Jung Tae-Woo menyandarkan punggung ke kursi dan tersenyum kecil. “Setiap kali menyebut nama mantan pacarmu dan setiap kali kau menerima telepon darinya, ekspresi wajahmu pasti jadi seperti itu. Ekspresi wajah yang tertekan, seakan-akan kau harus menyelesaikan semua masalah yang ada di dunia.”
Sandy menunduk. “Maaf.”
Jung Tae-Woo memandang ke luar jendela. “Nah, apa yang bisa kita lakukan agar kau tidak memasang wajah seperti itu lagi? Mmm… Ah, aku tahu!”
Sandy menatap Jung Tae-Woo dengan penuh rasa ingin tahu.
Jung Tae-Woo berpaling kembali ke arahnya sambil tersenyum lebar. “Tunggu sebentar.”
Sandy bertambah bingung ketika Jung Tae-Woo bangkit dari kursi dan berjalan keluar dari restoran. Apa yang akan dilakukannya?
Tidak lama kemudian Jung Tae-Woo kembali dan berkata kepada Sandy, “Setelah makan, aku akan membawamu ke suatu tempat.”
Ketika mereka sudah menyelesaikan makan malam mereka, Jung Tae-Woo membawa Sandy turun ke lantai dasar gedung hotel itu.
“Jung Tae-Woo ssi, kita mau ke mana?” tanya Sandy ketika mereka menyeberangi lobi utama hotel.
“Kau akan tahu,” Jung Tae-Woo menjawab pendek.
Ternyata Jung Tae-Woo membawanya ke taman belakang hotel. Taman itu luas sekali dengan kolam renang besar di tengah-tengahnya. Lampu-lampu taman dinyalakan sehingga walaupun hari sudah malam, taman itu tidak terlihat gelap. Lampu-lampu di dalam kolam renang juga dinyalakan sehingga mereka bisa melihat dasar kolam renang dengan jelas.
“Ah, menyenangkan sekali berada di udara terbuka,” kata Jung Tae-Woo sambil duduk di salah satu kursi kayu di pinggir kolam renang.
Sandy melihat ke kiri dan kanan dengan bingung. Kenapa Jung Tae-Woo membawanya ke sini? Tidak ada orang lain di taman itu. Meski sepi sekali, Sandy menikmati kesunyian itu.
109
“Jung Tae-Woo, kenapa kita ke tempat ini?” tanyanya sambil duduk di kursi di samping laki-laki itu.
“Kalau tidak salah, beberapa hal yang bisa membuatmu bahagia adalah mendengarkan musik, makan keripik kentang, bunga, kembang api, hujan, dan bintang. Aku benar, kan?”
Sandy agak kaget mendengar kata-kata Jung Tae-Woo. Ia sendiri tidak ingat kapan ia memberitahu Tae-Woo tentang hal itu.
Jung Tae-Woo melanjutkan, “Sekarang aku tidak punya keripik kentang, aku tidak tahu kau suka musik apa. Bunga, kau sudah memegangnya.”
Sandy menatap mawar yang sedang dipeluknya. Ia masih tidak mengerti apa yang ingin dikatakan Jung Tae-Woo.
Jung Tae-Woo mendongak menatap langit yang gelap dan berkata, “Tidak ada bintang malam ini dan sayang sekali aku tidak bisa memanggil hujan.” Ia menoleh ke arah Sandy. “Kalau begitu, hanya tinggal satu yang bisa dilakukan.”
Alis Sandy terangkat ketika Jung Tae-Woo mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
“Halo? Ya, Anda bisa memulainya sekarang,” katanya kepada seseorang di ponsel. Setelah itu ia menutup ponsel dan tersenyum kepada Sandy. Ia mengangkat sebelah tangan dan menunjuk ke langit. “Coba lihat di sana.”
Sandy memandang ke langit yang gelap dengan dahi berkerut. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan Jung Tae-Woo. Ia baru saja akan membuka mulut untuk bertanya lagi ketika ia mendengar bunyi desingan lalu letupan. Saat itu juga matanya melihat cahaya warna-warni di langit. Bunyi desingan dan letupan itu terdengar lagi, sambung-menyambung. Langit malam pun tampak semakin semarak dengan cahaya indah warna-warni.
Kembang api! Banyak sekali kembang api!
Tanpa sadar Sandy berdiri dari kursinya. Sebelah tangannya terangkat ke mulut. Matanya terpaku pada berkas-berkas sinar yang meluncur ke langit dan meledak menjadi bunga-bunga api. Ini pertama kalinya ia melihat kembang api sebanyak itu secara langsung dan merasa begitu takjub sampai-sampai dadanya terasa sesak.
“Bagaimana?”
Sandy menoleh dan melihat Jung Tae-Woo berdiri di sampingnya. Ia kembali menatap langit. “Ini pertama kalinya aku melihat kembang api sungguhan, dan bukan dari televisi.”
“Perasaanmu sudah baikan?”
Sandy menoleh kembali ke arah Jung Tae-Woo. Ia tidak menyangka ternyata laki-laki itu sedang berusaha menghiburnya. Sandy tersenyum dan berkata, “Jauh lebih
110
baik. Kau tahu kau tidak perlu melakukan semua ini. Tapi, bagaimanapun, terima kasih.”
Jung Tae-Woo balas tersenyum. “Aku tahu akhir-akhir ini kau merasa tertekan. Kau sudah membantuku. Jadi kalau aku bisa membantu meringankan sedikit bebanmu, kenapa tidak? Aku hanya ingin melihatmu gembira seperti sekarang, itu saja.”
“Haah… malam ini indah sekali,” kata Sandy ketika ia dan Jung Tae-Woo tiba di rumah. Sandy menciumi mawar yang ada dalam pelukannya dan tersenyum-senyum sendiri.
Sementara itu Jung Tae-Woo sudah berjalan ke arah dapur, membuka lemari es, mengeluarkan sebotol air dingin, dan meminumnya langsung dari botolnya.
“Kau punya vas bunga?” tanya Sandy.
“Entahlah, tapi kalau tidak salah ada di dalam lemari yang itu.” Ia menunjuk lemari dapur lalu berjalan ke pianonya.
Sandy membuka-buka lemari sambil bersenandung pelan. “Ini dia.” Ia mengeluarkan vas bunga berwarna biru, mengisinya dengan air, dan memasukkan bunga mawarnya ke sana. Ia mendengar Jung Tae-Woo memainkan beberapa nada lagu di pianonya.
Sandy menoleh ke arah Tae-Woo. “Jung Tae-Woo ssi, nyanyikan satu lagu,” pintanya. Lalu ia menghampiri laki-laki itu sambil membawa vas bunganya.
“Bukankah aku pernah bilang kau harus membayar kalau mau mendengarkanku menyanyi?”
Sandy meletakkan vas bunga di atas piano dan meringis. “Bukankah kau bilang kau mau membuatku gembira?”
Alis Jung Tae-Woo terangkat. “Aku pernah bilang begitu?”
Sandy mengangguk. “Kau juga pernah bilang kau akan memberikan apa pun yang kuinginkan kalau aku bersedia berfoto denganmu. Sudah lupa?”
“Aku pernah bilang begitu?” Jung Tae-Woo menengadah dan berusaha mengingat-ingat.
Sandy mengangguk dan bersandar pada piano, menunggu Jung Tae-Woo memulai lagunya.
Jung Tae-Woo mendesah. “Baiklah, kau ingin mendengar lagu apa?”
Sandy berpikir sejenak, lalu berkata, “Lagunya Jo Sung-Mo. Piano. Aku suka sekali lagu itu. Amat sangat romantis.”
Jung Tae-Woo menggaruk-garuk kepalanya. “Piano? Kenapa kau meminta lagu yang sedih? Tidak ada lagu lain yang lebih menyenangkan?”
111
“Tapi lagu itu bagus. Tidak suka? Kalau begitu, terserah kau saja mau menyanyikan lagu apa,” kata Sandy cepat-cepat.
Jung Tae-Woo berpikir sebentar, lalu meletakkan jari-jarinya di atas tuts piano dan mulai memainkannya sambil bernyanyi dalam bahasa Inggris.
I see trees of green, red roses too
I see them bloom for me and you
And I think to myself, what a wonderful world
Sandy bertepuk tangan dengan gembira ketika mengenali lagu What A Wonderful World yang sedang dinyanyikan Jung Tae-Woo itu.
I see skies of blue, and clouds of white
The bright blessed day, the dark sacred night
And I think to myself, what a wonderful world
The colors of the rainbow so pretty in the sky
Are also on the faces of people going by
I see friends shaking hands saying, “How do you do?”
They‟re really saying, “I love you”
I hear babies crying, I watch them grow
They‟ll learn much more than I‟ll ever know
And I think to myself, “What a wonderful world”
And I think to myself, “What a wonderful world”
Walaupun bahasa Inggris aktif Sandy tidak terlalu lancar, ia bisa mengerti bila mendengar orang lain berbicara dalam bahasa itu. Lagu yang dinyanyikan Jung Tae-Woo membuat dirinya seolah terbang ke angkasa, begitu damai, ringan, walaupun ia kembali menginjak bumi setelah lagu itu berakhir.
“Bagus sekali, bagus sekali,” puji Sandy sambil bertepuk tangan. “Tidak sia-sia kau tinggal lama di Amerika. Bahasa Inggris-mu sangat bagus.”
Jung Tae-Woo hanya tertawa kecil. “Sudah paus?”
“Mmm, puas dan senang,” ujar Sandy.
Jung Tae-Woo merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan kotak berbentuk persegi hijau berhiaskan pita kuning. Ia meletakkan kotak itu di atas piano dan mendorongnya ke arah Sandy.
Sandy mengangkat alisnya begitu melihat kotak itu. “Apa ini?”
112
“Buka saja.”
Sandy membuka kotak itu dan tercengang ketika melihat di dalamnya ada ponsel yang sama persis seperti ponselnya yang hilang dalam kebakaran.
“Selamat ulang tahun.”
Sandy mengangkat wajahnya dan menatap Jung Tae-Woo dengan pandangan bingung dan kaget.
Tanpa menunggu kata-kata Sandy, Jung Tae-Woo melanjutkan, “Susah sekali menghubungimu kalau kau tidak punya ponsel. Sebenarnya aku ingin membeli ponsel yang lain sehingga kau tidak akan salah mengambil ponselku lagi, tapi aku berubah pikiran. Bagaimana? Aku juga sudah meminta nomor yang sama, jadi ponsel itu masih menggunakan nomor yang sama seperti ponselmu yang dulu. Bisa langsung digunakan.”
“Ooh… Terima kasih.” Sandy masih agak bingung. Ia mengamati ponsel pemberian Jung Tae-Woo, lalu berkata lagi, “Tapi ulang tahun? Jung Tae-Woo ssi, ulang tahunku besok, bukan hari ini.”
Jung Tae-Woo tersenyum lebar dan menunjuk ke arah jam dinding di belakang Sandy. Sandy berbalik dan melihat jam dinding.
“Sudah lewat tengah malam. Jadi hari ini hari ulang tahunmu,” kata Jung Tae-Woo. “Kau bahkan tidak sadar ya? Berarti kejutan yang sudah kusiapkan bisa dikatakan berhasil?”
Sandy tertegun, lalu tertawa. “Astaga, jadi makan malam tadi, bunga, kembang api, dan ponsel ini, smeua itu untuk merayakan ulang tahunku?”
Jung Tae-Woo mengangguk. “Jangan lupa, aku juga baru menyanyikan lagu untukmu. Itu juga harus dihitung.”
“Bagaimana kau bisa tahu hari ulang tahunku?”
Jung Tae-Woo hanya tersenyum dan tidak menjawab.
Sandy masih bingung. “Tapi kenapa harus dirayakan malam sebelumnya? Kita bisa merayakannya beramai-ramai besok, maksudku hari ini, eh, besok. Ah, pokoknya bisa dirayakan pada harinya.”
“Sebenarnya pagi-pagi nanti aku harus berangkat ke Jepng, jadi aku tidak bisa ikut merayakan ulang tahunmu pada harinya,” Jung Tae-Woo menjelaskan.
“Ke Jepang?” tanya Sandy. “Untuk apa?”
“Kerja,” sahut Jung Tae-Woo. “Kaukira untuk berlibur?”
“Berapa lama kau akan di sana?”
Jung Tae-Woo mengangkat bahu. “Belum tentu, tapi mungkin sekitar tiga hari.”
Sandy merenung.
“Oh ya, bagaimana ini? Tidak ada kue ulang tahun,” kata Jung Tae-Woo tiba-tiba.
113
“Tidak perlu kue segala,” sela Sandy. “Sudah banyak yang kaulakukan malam ini. Bagiku itu sudah lebih dari cukup dan aku sangat gembira.”
“Terharu juga?”
“Terharu juga. Aku belum pernah merayakan ulang tahunku di tengah malam.” Sandy tertawa.
Jung Tae-Woo bangkit dari kursi piano dan berkata, “Baiklah, sudah malam, kau—“
“Tunggu dulu.” Sandy menahannya. “Nyanyikan satu lagu lagi ya?”
“Lagi?”
“Ayolah,s ekali lagi saja,” katanya sambil duduk di samping Jung Tae-Woo. “Aku suka melihatmu memainkan piano.”
Jung Tae-Woo menyerah dan duduk kembali. “Baiklah, lagu apa?”
“Terserah kau saja.”
Jung Tae-Woo menatap tuts-tuts pianonya sambil berpikir, lalu ia mengangkat wajahnya dan menoleh menatap Sandy. “Ini salah satu lagu favoritku. Judulnya Fly Me to the Moon.”
Kemudian Sandy memerhatikan jari-jari panjang Jung Tae-Woo menari-nari di atas tuts-tuts piano sementara bunyi dentingan piano yang lembut dan suara Jung Tae-Woo yang indah menghiasi kesunyian malam.
Poets often use many words to say a simple thing
It takes thought and time and rhyme to make a poem sing
With music and words I‟ve been playing
For you I have written a song
To be sure that you know what I‟m saying
I‟ll translate as I go along
Sambil bernyanyi, Jung Tae-Woo sesekali melihat ke arahnya dan mereka berdua tersenyum. Sandy tidak pernah merasa begitu… begitu… istimewa. Ya, istimewa. Makan malam, mawar, kembang api, hadiah yang diberikan Jung Tae-Woo untuknya, dan sekarang ia sedang duduk di sebelah Jung Tae-Woo sambil mendengarkan laki-laki itu menyanyi khusus untuknya. Ia merasa bahagia. Entah sejak kapan ia menyadari jantungnya berdebar dua kali lebih cepat setiap kali ia bertemu pandang dengan Jung Tae-Woo atau bila laki-laki itu tersenyum kepadanya. Entah sejak kapan juga ia mulai suka mendengar Jung Tae-Woo bernyanyi. Matanya kini tidak bisa lepas dari sosok Jung Tae-Woo yang bernyanyi sambil memainkan piano.
114
Fly me to the moon and let me play among the stars
Let me see whatSpring is like on Jupiter and Mars
In other words, hold my hand
In other words, darling, kiss me
Fill my heart with song and let me sing forever more
You are all I long for, all I worship and adore
In other words, please be true
In other words, I love you
(Hiro, album: Coco d‟Or)

BAB 10 PART 1

ENTAH sudah yang keberapa kalinya Park Hyun-Shik melihat Tae-Woo sedang menelepon. Jadwal kerja Tae-Woo hari ini cukup padat, tapi ia selalu telrihat menelepon setiap kali ada waktu luang. Tanpa perlu bertanya, Park Hyun-Shik tahu siapa yang sedang dihubunginya.
“Tae-Woo, kau mau terus menelepon sampai kapan? Kau harus tampil sebentar lagi,” tegur Park Hyun-Shik sambil menepuk punggung temannya.
Tae-Woo yang sedang duduk di kursi putar dengan kaki terjulur tersentak dan menutup ponselnya. “Oh, Hyong.”
“Ada apa? Kenapa wajahmu kusut begitu?”
“Tidak ada di rumah.” Tae-Woo seakan sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Park Hyun-Shik pura-pura tidak tahu siapa yang dimaksud Tae-Woo. “Siapa?”
Tae-Woo mendesah. “Sudah. Lupakan, tidak ada apa-apa.”
“Sebaiknya kau bersiap-siap,” ia mengingatkan Tae-Woo sekali lagi.
Kali ini Tae-Woo menoleh ke arahnya dan bertanya, “Hyong, setelah ini aku tidak punya jadwal kerja lagi, kan?”
Sandy baru saja masuk ke rumah ketika ia mendengar telepon rumah berdering. Ia menutup pintu dan meletakkan kunci di meja. Harus diangkat atau tidak? Bagaimanapun ini rumah Jung Tae-Woo dan ia tidak bisa sembarangan menjawab teleponnya. Akhirnya ia membiarkan mesin penjawab telepon yang menerima.
“Kalau kau ada di rumah, angkat teleponnya.”
102
Sandy kaget mendengar suara Jung Tae-Woo di mesin. Ia cepat-cepat mengangkat telepon. “Halo?”
“Akhirnya kau menjawab juga. Aku sudah mencoba menghubungimu sejak tadi.” Suara Jung Tae-Woo terdengar agak jengkel.
Sandy melirik jam tangannya. “Oh, aku tidak sadar sudah sore. Ada apa mencariku? Ada yang harus kulakukan?”
“Tidak juga.”
“Lalu kenapa?”
“Hanya ingin tahu keadaanmu.”
Sandy tersenyum sendiri. “Aku baik-baik saja. Sekarang kau di mana?”
“Di jalan. Aku akan pulang sebentar lagi.”
“Mmm, kau mau kubuatkan makan malam?” tanya Sandy sambil menimbang-nimbang. “Aku memang tidak bisa memasak, tapi aku bisa membuat bibimbab* atau…”
Ia mendengar Jung Tae-Woo tertawa di ujung sana. “Aku belum seberani itu untuk mencoba masakan orang yang mengaku tidak bisa memasak.”
“Aku hanya ingin berterima kasih padamu,” protes Sandy.
“Sudahlah, tidak usah. Hari ini kita makan di luar saja. Aku yang traktir.”
“Makan di luar? Kau ini bagaimana? Kau ingin orang-orang melihat kita?”
“Kalau dilihat pun kenapa? Bukankah kemarin wartawan sudah terlanjur tahu siapa dirimu?”
Sandy tepekur. Benarkah hal itu baru terjadi kemarin? Kenapa sepertinya sudah lama sekali?
“Sebentar lagi wajahmu akan terpampang jelas di tabloid. Apa lagi yang bisa disembunyikan? Seluruh Korea akan tahu kau kekasihku. Apakah aku tidak boleh makan malam dengan kekasihku sendiri?”
Sandy merasa jantungnya seakan berhenti berdegap dan napasnya tertahan. Apa yang terjadi pada dirinya?
“Halo? Sandy, kau masih di sana?”
Sandy tersentak. “Ya… ya.”
“Ya sudah, aku tutup dulu.”
Perlahan Sandy meletakkan telepon. Ada apa dengannya? Ketika tadi Jung Tae-Woo berkata…
Sandy menepuk pipi dengan kedua tangannya. “Sandy, sadarlah,” katanya pada dirinya sendiri. “Banyak hal yang lebih penting yang harus kaupikirkan.”
* * *
*Nasi campur khas Korea dengan berbagai macam sayuran dan bumbu lada merah kental.
103
“Jung Tae-Woo ssi, kau serius mau makan di sini?” Sandy tahu suaranya terdengar khawatir.
Ia dan Jung Tae-Woo sedang berada di dalam lift yang membawa mereka ke lantai teratas gedung hotel itu. Setelah tahu Jung Tae-Woo akan mengajaknya makan malam di restoran hotel mewah, ia tidak bisa menekan rasa cemas di hatinya.
“Memangnya kenapa?” tanya Jung Tae-Woo tanpa menatap Sandy.
Sandy merentangkan tangan. “Lihat pakaianku. Aku tidak bisa masuk ke restoran itu. Bisa-bisa aku diusir.” Ia hanya mengenakan kemeja lengan pendek dan celana panjang jins milik Young-Mi.
“Siapa yang berani mengusirmu?” tukas Jung Tae-Woo. “Tidak ada yang salah dengan pakaianmu. Ayo, masuk.”
Pintu lift terbuka dan tanpa menunggu komentar Sandy lebih lanjut, Jung Tae-Woo berjalan sambil menarik tangan gadis itu. Mereka masuk ke restoran dan segera disambut salah satu pelayan yang langsung mengantarkan mereka ke meja untuk berdua di dekat jendela kaca besar. Restoran itu cukup sepi, lampu-lampunya menyala redup menciptakan suasana remang-remang. Selain suara percakapan yang sepertinya dilakukan dengan berisik, terdengar alunan lembut musik jazz. Tidak banyak tamu yang terlihat dan itu bukan hal yang mengherankan. Tentunya hanya orang-orang dari kalangan kelas ataslah yang bisa makan di tempat seperti ini.
“Wah, bagus sekali,” Sandy bergumam senang ketika melihat ke luar jendela. Pemandangan malam kota Seoul dari ketinggian memang menakjubkan. “Kita ada di lantai berapa ya? Tinggi sekali.”
“Ah, aku lupa,” kata Jung Tae-Woo tiba-tiba.
Sandy menoleh ke arahnya dengan pandangan bertanya-tanya.
“Kau tunggu di sini sebentar. Aku harus mengambil sesuatu,” kata Jung Tae-Woo sambil bangkit dari kursi.
“Oke. Jangan lama-lama,” sahut Sandy. Lalu ia kembali mengagumi kerlap-kerlip cahaya lampu kota Seoul di bawah sana.
Beberapa menit berlalu dan Jung Tae-Woo belum kembali. Sandy mendesah dan memandang ke sekeliling ruangan. Akhirnya ia bangkit dan berjalan ke toilet. Ketika Sandy keluar dari toilet dan sedang berjalan kembali ke mejanya, ia mendengar seseorang memanggil namanya. Sandy berbalik mengikuti sumber suara dan melihat wanita cantik bertubuh langsing dan tinggi sedang melambai ke arahnya sambil tersenyum lebar. Perasaan Sandy langsung tidak enak begitu melihat wanita itu. Perasaannya pun bertambah berat seiring langkah yang diambil wanita itu untuk mendekati dirinya.
104
“Wah, Han Soon-Hee. Apa kabar? Aku tidak menyangka bisa berjumpa denganmu di sini,” sapa wanita itu dengan ramah, tapi bagi telinga Sandy keramahan itu terdengar dibuat-buat, sama seperti senyumnya.
Sandy hanya tersenyum samar. “Apa kabar, son-bae*? Lama tidak bertemu.”
Jin Da-Rae mengibaskan rambut panjangnya dan berkata, “Jeong-Su ssi akan ke sini sebentar lagi. Kau sendirian?” Namun tanpa menunggu jawaban Sandy, Jin Da-Rae meneruskan, “Kebetulan aku bertemu denganmu, ada yang ingin kubicarakan.”
Sandy diam saja, berdiri bergeming, dan menunggu kata-kata selanjutnya.
Jin Da-Rae menatap Sandy dalam-dalam. “Aku sudah mendengar tentang apartemenmu yang terbakar dari Jeong-Su ssi. Aku senang kau selamat. Tapi aku agak mengkhawatirkan Jeong-Su ssi.”
Alis Sandy terangkat kaget. Apa yang sedang dia bicarakan?
“Aku tidak suka berputar-putar, jadi aku akan bicara langsung saja. Aku melihat Jeong-Su ssi ikut cemas karena kejadian yang kaualami. Padahal seharusnya ia tidak perlu repot-repot seperti itu karena kau baik-baik saja. Ya, kan? Bagaimanapun juga hubungan kalian sudah lama berakhir. Masalahmu sudah bukan masalahnya lagi.”
Sandy tersenyum pahit. “Son-bae—“
“Oh, Soon-Hee.”
Sandy menoleh dan melihat Lee Jeong-Su menghampiri mereka. Ia mendesah dan berpikir kenapa kedua orang itu bisa datang ke tempat ini pada saat yang sama dengan dirinya.
“Kau baik-baik saja, kan?” tanya Lee Jeong-Su sambil menatap Sandy dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Sandy merasa risi diamati seperti itu, apalagi Jin Da-Rae juga sedang menatapnya tajam.
“Kau lihat sendiri, dia tidak apa-apa,” sela Jin Da-Rae sambil menyelipkan lengannya ke lengan Lee Jeong-Su. “Benar, bukan, Soon-Hee?”
Sandy meringis. “Ya, seperti yang bisa kalian lihat.”
“Kau sekarang tinggal di mana?” tanya Lee Jeong-Su lagi dan Sandy melihat air muka Jin Da-Rae langsung berubah.
“Di rumah teman,” jawab Sandy pendek.
“Oh ya, kau sendirian? Bagaimana kalau bergabung dengan kami?” tanya Jeong-Su mengalihkan pembicaraan.
Astaga. Apakah kedua orang itu sungguh-sungguh berpikir ia sudah begitu putus asanya sampai memutuskan untuk datang ke restoran semewah ini sendirian?
* kakak kelas.
105
Jin Da-Rae menarik lengan Lee Jeong-Su dan cepat-cepat menyela, “Tadi Soon-Hee bilang dia sedang menunggu temannya. Nanti temannya malah merasa tidak enak kalau diajak bergabung karena tidak kenal dengan kita.”
Sandy ingin sekali tertawa keras-keras melihat sikap kakak kelasnya yang seperti anak berumur lima tahun yang tidak mau melepaskan boneka beruang kesukaannya. Kapan ia pernah memberitahu Jin Da-Rae ia sedang menunggu seseorang? Tapi herannya tebakan wanita itu benar. Ia memang sedang menunggu Jung Tae-Woo.
“Maaf, sudah menunggu lama?”
Sandy dan dua orang yang berdiri di hadapannya itu serentak menoleh ke arah sumber suara. Jung Tae-Woo menghampiri Sandy sambil tersenyum lebar dan dengan kedua tangan di belakang punggung. Sandy mendengar sentakan napas Jin Da-Rae. Ada sedikit rasa puas di hati Sandy ketika melihat Jung Tae-Woo muncul, apalagi didukung kenyataan bahwa Jung Tae-Woo artis terkenal.
“Sudah menunggu lama?” tanya Jung Tae-Woo sekali lagi sambil menatap lurus ke arah Sandy, mengabaikan dua orang yang ada di dekatnya.
“Oh, tidak. Tidak lama,” sahut Sandy agak linglung.
“Tadi aku pergi membeli ini,” kata Jung Tae-Woo.
Sandy tercengang melihat seikat besar mawar merah yang disodorkan Jung Tae-Woo ke arahnya.
Setelah Sandy menerima bunga yang disodorkan Jung Tae-Woo, laki-laki itu seakan baru menyadari kehadiran dua orang lain yang melongo memerhatikan mereka. “Oh, maafkan saya. Saya tidak melihat Anda tadi. Apa kabar? Anda teman-teman Sandy, ah, maksudku Soon-Hee?”
Sandy melihat mata Jin Da-Rae berkilat-kilat, tatapannya tertuju lekat pada Jung Tae-Woo. “Anda Jung Tae-Woo ssi, bukan?” tanyanya bersemangat.
“Benar,” kata Jung Tae-Woo ramah. “Dan hari ini saya berencana menikmati makan malam yang romantis.” Ia mengangkat sebelah tangannya dan merangkul bahu Sandy.
Sandy menatap Jung Tae-Woo dengan pandangan terkejut, kemudian matanya ganti memandang dua orang di hadapannya yang juga sedang menatapnya bingung.
“Sepertinya Anda berdua juga ingin menikmati makan malam yang romantis,” Jung Tae-Woo melanjutkan dengan nada ramah seperti tadi. “Kami tidak akan mengganggu acara Anda lebih lama lagi. Senang berjumpa Anda berdua.”
Selesai berkata begitu, dengan masih merangkul bahu Sandy, Jung Tae-Woo menuntunnya kembali ke meja mereka.
“Terima kasih atas mawarnya,” kata Sandy ketika mereka sudah duduk kembali. Ia memandang bunga pemberian Jung Tae-Woo dengan gembira.
“Kau suka?”
106
“Mm, suka sekali.” Sandy menatap Jung Tae-Woo sambil tersenyum. “Kau sering memberikan bunga untuk wanita?”
Laki-laki itu hanya meringis. “Menurutmu begitu?”
“Ngomong-ngomong, memangnya hari ini hari apa?”
“Kenapa?”
“Kita makan di restoran mewah. Lalu mawar ini.” Sandy menatap Jung Tae-Woo sambil berusaha mengingat. “Hari ini hari ulang tahunmu?”
Jung Tae-Woo tertawa. “Kalau aku yang berulang tahun, kenapa aku yang memberimu bunga? Bukankah seharusnya aku yang menerima hadiah?”
Sandy berpikir-pikir lagi. “Kau baru tanda tangan kontrak baru atau semacamnya?”
“Tidak juga.”
“Lalu kenapa?”
Jung Tae-Woo tersenyum lebar. “Nanti kau akan tahu sendiri.”
Sandy memiringkan kepala, lalu mengangkat bahu.
“Laki-laki yang tadi itu mantan pacarmu?” tanya Jung Tae-Woo dengan hati-hati.
Sandy mendesah. “Mm, dan wanita yang bersamanya itu kakak kelasku yang sekarang menjadi pacarnya.”
Jung Tae-Woo menatapnya. “Kau ingin kita pergi ke tempat lain?”
Sandy tertawa. “Untuk apa?”
Jung Tae-Woo masih terlihat kurang yakin.
“Tidak apa-apa,” kata Sandy menenangkan. “Bukankah ada kau yang menemaniku di sini?”
Jung Tae-Woo tersenyum. “Benar, ada aku di sini. Nah, sekarang kau mau makan apa?”
Lee Jeong-Su tidak menikmati makan malamnya. Ia terus-menerus melirik ke arah meja Soon-Hee dan Jung Tae-Woo. Ia berharap gadis itu menoleh ke arahnya, tapi kenyataannya Soon-Hee tidak meliriknya sama sekali. Gadis itu mengobrol dan tertawa gembira dengan Jung Tae-Woo. Tentu saja Jeong-Su sudah pernah membaca tentang hubungan Jung Tae-Woo dengan Soon-Hee, tapi waktu itu ia masih tidak ingin percaya. Hari ini Jeong-Su benar-benar melihat mereka berdua dengan mata kepalanya sendiri dan ternyata memang seperti yang ditulis di tabloid. Ia harus mengakui ia sama sekali tidak ingin melihat mereka berdua bersama.
“Jeong-Su ssi, aku sedang bicara padamu.”

BAB 9 PART 2

“Kau teman Sandy?” tanyanya ramah. “Apa kabar? Namaku Park Hyun-Shik.”
Sandy agak geli melihat temannya yang biasanya begitu cerdas tiba-tiba berubah menjadi agar-agar di depan dua pria tampan.
“Ehm… Apa kabar? … N-nama saya Kang Young-Mi.”
“Tidak usah bersikap resmi seperti itu,” kata Park Hyun-Shik. “Kau teman Sandy, itu artinya kau teman kami juga. Oh ya, apakah Sandy sudah mengatakan padamu dia akan tinggal di sini untuk sementara?”
Young-Mi melirik Sandy dan menjawab, “Sudah, tentu saja sudah. Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya pada siapa-siapa.”
“Terima kasih banyak. Kami sangat menghargainya.”
Jung Tae-Woo juga ikut tersenyum kepada Young-Mi dan Sandy merasa temannya sudah hampir ambruk ke lantai. “Maaf, tidak bisa mengobrol denganmu. Kami harus pergi sekarang, tapi kau bisa menemani Sandy di sini. Pasti kalian ingin mengobrol banyak. Anggap saja rumah sendiri.”
“Ooh… tentu saja. Terima kasih,” bisik Young-Mi sambil tersenyum lebar.
Jung Tae-Woo berpaling kepada Sandy. “Apa yang akan kaulakukan hari ini?”
“Nanti aku akan keluar sebentar. Ada yang harus kubeli,” kata Sandy. “Aku juga ingin mampir dan melihat kondisi apartemenku.”
“Sendiri?”
“Oh, Young-Mi akan menemaniku. Ya, kan?”
Young-Mi cepat-cepat mengangguk dan memasang senyum termanisnya ketika Jung Tae-Woo berpaling memandangnya.
Jung Tae-Woo mengangguk dan kembali menatap Sandy. “Baiklah, kunci cadangan ada di laci sebelah sana. Jangan lupa mengunci pintu kalau kau keluar. Aku akan meneleponmu nanti. Aku pergi dulu.”
Keempat orang itu saling bertukar kalimat “selamat jalan dan sampai nanti”. Lalu setelah kedua laki-laki itu pergi dengan mobil masing-masing, seperti air bah, Young-Mi menumpahkan semua kata yang dipendamnya sejak tadi, “Wah, mereka berdua tampan sekali. Yang satu lagi itu siapa? Artis juga?”
Sandy tertawa. “Bukan, paman itu manajer Jung Tae-Woo.”
Young-Min mengangguk-angguk. “Manajernya? Namanya Park Hyun-Shik, ya? Tapi kenapa kau memanggilnya „paman‟? Dia masih muda begitu.”
Sandy hanya menggeleng dan tersenyum.
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Sandy ketika melihat Young-Mi menatapnya dengan mata disipitkan.
“Aku ingin tanya, kau yakin tidak ada hubungan istimewa antara kau dan Jung Tae-Woo? Kau hanya menjadi pacarnya dalam foto? Hanya itu?”
100
“Begitulah. Kenapa?”
“Kau yakin? Lalu kenapa aku merasa kalian terlihat seperti suami-istri. Dan—astaga, aku baru sadar kau memakai pakaian laki-laki. Pakaiannya?”
Sandy menunduk memandang baju Tae-Woo yang kebesaran untuknya. Bingung harus berkata apa. Untungnya sandy tidak perlu menjawab karena Young-Mi tiba-tiba berkata, “Oh ya, aku hampir lupa memberitahumu Lee Jeong-Su meneleponku kemarin malam.”
Sandy mengangkat wajahnya. “Oh?”
Young-Mi melanjutkan, “Karena tidak bisa menghubungimu, dia meneleponku untuk menanyakan kabarmu. Kukatakan padanya kau tidak apa-apa, tapi kemudian dia ingin tahu kau berada di mana.”
“Kau bilang apa?”
“Tidak bilang apa-apa. Kemarin malam kupikir kau bermalam di rumah salah seorang temanmu atau semacamnya. Itu yang kukatakan pada Lee Jeong-Su. Hari ini aku baru tahu kau ada di rumah Jung Tae-Woo.”
“Kau tidak akan memberitahunya, kan?”
“Memangnya aku bodoh? Tentu saja tidak,” sahut Young-Mi tegas. “Sudahlah, jangan bicarakan Lee Jeong-Su lagi. Ayo, sekarang ceritakan padaku apa yang terjadi kemarin malam. Tentang kebakaran itu dan bagaimana kau bisa berakhir di sini. Ada lagi, apa yang harus kukatakan pada ibuku? Ibu menyuruhku memintamu tinggal di rumah kami.”

BAB 9 PART 1

JAM dinding menunjukkan pukul 00:52 ketika Tae-Woo tiba di rumah. Ia melemparkan kunci mobil ke meja dan mengempaskan tubuh ke sofa. Ia mengusap wajahnya dan melepaskan jaket. Hari ini benar-benar melelahkan. Setelah mengantar Sandy pulang siang tadi, ia dan Park Hyun-Shik langsung mengantar ibunya ke bandara. Setelah itu Tae-Woo kembali disibukkan dengan jadwal kerjanya yang padat. Tentu saja sepanjang hari itu ia terus dikejar-kejar wartawan yang tidak henti-hentinya bertanya tentang Sandy, tapi Park Hyun-Shik menyuruhnya tidak berkomentar dulu. Mereka harus membicarakan langkah selanjutnya dengan Sandy.
Sejak sore tadi Tae-Woo ingin menelepon Sandy. Ia ingin tahu apakah gadis itu baik-baik saja, tapi ia tidak punya waktu. Sekarang ia mengeluarkan ponsel dari saku dan membuka flap-nya. Apakah sekarang sudah terlalu malam untuk menelepon?
Sepertinya tidak ada salahnya mencoba.
Tae-Woo menekan angka sembilan dan menempelkan ponsel ke telinga. Keningnya agak berkerut ketika mendengar suara operator telepon yang memberitahunya telepon yang dihubungi sedang tidak aktif. Tae-Woo menutup kembali ponselnya dan menimbang-nimbang.
Baiklah, hair ini tidak perlu diperpanjang lagi. Besok ia akan langsung pergi menemui gadis itu.
Setelah mandi dan kembali berpakaian—kaus longgar jingga dan celana panjang putih, Tae-Woo merasa lebih nyaman. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, ia berjalan ke ruang duduk dan menyalakan televisi. Kemudian ia berjalan ke dapur yang terletak tidak jauh dari ruang duduk dan membuka-buka lemari.
91
“Tidak ada makanan. Kenapa Ibu cuma beli mi instan?” gerutunya sambil mengeluarkan sebungkus mi instan. Ia berbalik, memandang sekilas televisi, lalu membungkuk untuk membuka pintu lemari bagian bawah. Tiba-tiba gerakannya terhenti dan dengan sekali sentakan ia kembali menegakkan tubuh. Matanya terbelalak menatap layar televisi.
Layar televisi menampilkan reporter wanita yang melaporkan berita di lokasi kejadian. Di latar belakangnya terlihat gedung yang dilalap api. Para petugas pemadam kebakaran berlalu-lalang dan para polisi berusaha menertibkan orang-orang yang berkerumun di tempat kejadian. Suasana sepertinya hiruk pikuk, terdengar teriakan dan tangisan orang-orang.
Tae-Woo menyambar remote control dan mengeraskan volume televisinya untuk mendengar kata-kata si reporter.
“…sampai sekarang pemadam kebakaran sedang berusaha memadamkan api. Kami belum mendapat konfirmasi apakah gedung apartemen itu sudah kosong atau belum. Api begitu besar, kami berharap semua penghuni sudah berhasil keluar…”
Mata Tae-Woo terpaku pada layar televisi. Tubuhnya menegang, jantungnya berdebar begitu keras. Ini tidak mungkin. Mustahil itu gedung apartemen Sandy. Siang tadi ia baru saja dari sana. Tuhan, katakan ini tidak benar. Namun si reporter kini menyebutkan nama dan lokasi gedung yang sedang terbakar. Darah Tae-Woo langsung terasa membeku.
Tanpa berpikir lagi, Tae-Woo melemparkan handuk ke lantai, menyambar kunci mobil, dan keluar dari rumah.
Ia melajukan mobil dengan kecepatan penuh, tangannya mencengkeram kemudi erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih. Perasaannya kacau… gelisah… takut. Jantungnya masih terus berdebar keras dan seluruh tubuhnya terasa dingin. Ia mencoba menghubungi ponsel Sandy tapi hasilnya masih tetap sama. Ponselnya tidak aktif. Sepanjang perjalanan ia terus berdoa semoga Sandy tidak apa-apa. Semoga Sandy sudah keluar dan tidak terluka. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana keadaan Sandy? Bagaimana kalau…
Astaga, ia bisa gila!
Ketika ia hampir sampai di tempat kejadian, jalanan sudah ditutup sehingga tidak ada mobil yang bisa lewat. Tae-Woo langsung melompat keluar dari mobil dan berlari menerobos kerumunan orang. Suasana yng kacau dan udara yang begitu panas karena asap dari kobaran api terasa begitu menyesakkan. Tae-Woo berlari ke sana kemari dan melihat ke sekeliling, mencari sosok Sandy. Ia berjalan cepat di antara orang-orang sambil berteriak-teriak memanggil nama Sandy. Di mana gadis itu?
92
Tae-Woo bolak-balik memutar kepala dan terus mencari. Tiba-tiba matanya terpaku pada sosok yang berdiri agak jauh dari kerumunan. Orang itu hanya mengenakan piama, berdiri menatap gedung yang dilalap api dengan pandangan kosong.
“Sandy!” Tae-Woo berseru namun gadis itu tetap bergeming.
Rasa lega membanjiri dirinya ketika ia berlari menghampiri gadis itu.
“Sandy…” Kini Tae-Woo sudah berdiri di samping Sandy dan menyentuh lengannya.
Gadis itu menoleh dengan linglung dan Tae-Woo melihat wajahnya kotor karena asap. Ada sinar ketakutan di mata besarnya. Ketika Tae-Woo memegang lengan Sandy, ia baru menyadari tubuh gadis itu gemetaran.
“Kau tidak apa-apa? Ada yang luka?” tanya Tae-Woo dengan nada khawatir sambil mengamati Sandy dari atas ke bawah. Gadis itu hanya mengenakan piama tanpa alas kaki. Rambutnya tergerai kusut di bahu dan kedua tangannya meremas syal basah bermotif kotak-kotak hitam dan putih. Syal yang diberikan Tae-Woo kepadanya sewaktu acara jumpa penggemar dulu.
Sandy mengangguk masih dengan raut wajah linglung. “Ya, aku tidak apa-apa,” sahutnya pelan. Tae-Woo mendengar suaranya juga bergetar.
Tae-Woo mengembuskan napas lega dan langsung memeluk gadis itu. “Syukurlah kau tidak apa-apa.”
“Aku tidak sempat membawa apa-apa,” gumam Sandy.
Tae-Woo merenggangkan pelukannya dan menatap Sandy yang sepertinya masih terguncang. “Tidak apa-apa. Asalkan kau selamat, itu sudah cukup. Ayo, ikut aku.”
Sandy menurut dan membiarkan Tae-Woo menuntunnya ke tempat mobilnya ditinggalkan. Mata Sandy terus terpaku pada api yang berkobar dan asap yang bergulung-gulung.
Sepanjang perjalanan Sandy tidak berbicara dan Tae-Woo juga tidak mengajaknya bicara. Ketika akhirnya mereka tiba di rumahnya, Tae-Woo baru menyadari rumahnya terang benderang, pintu rumahnya lupa dikunci, dan televisinya lupa dimatikan karena ia begitu terburu-buru keluar rumah tadi.
“Kau duduk dulu di sini,” katanya sambil mendudukkan Sandy di sofa. “Aku akan mengambil minuman untukmu.”
Ketika kembali membawa secangkir teh hangat, ia melihat Sandy menangis. Sepertinya kesadaran gadis itu sudah kembali sepenuhnya dan akibat guncangan tadi mulai terasa olehnya.
Tae-Woo meletakkan cangkir di meja, duduk berhadapan dengan Sandy, lalu memandang khawatir gadis itu. “Ada yang sakit?”
93
Sandy menggeleng-geleng sambil menghapus air mata dengan punggung tangannya. Lalu ia berbicara sambil terisak-isak. Dengan agak susah payah, Tae-Woo mendengarkan kata-kata yang tidak terlalu jelas karena diucapkan sambil menangis, tapi ia bisa menarik kesimpulan dari kalimat Sandy yang kacau-balau.
Sandy bercerita api itu berasal dari apartemen sebelah. Saat itu ia sedang menonton televisi lalu tiba-tiba merasa panas dan susah bernapas. Kemudian segalanya menjadi kacau. Alarm tanda kebakaran berbunyi nyaring dan orang-orang berteriak. Ia panik dan hanya sempat berpikir harus mengambil sesuatu untuk menutupi hidung dan mulutnya. Ia pun menyambar syal pemberian Tae-Woo yang tergeletak di samping tempat tidurnya dan langsung berlari keluar dari apartemen.
Tae-Woo menyodorkan sekotak tisu kepada Sandy dan gadis itu menerimanya. “Baiklah, aku sudah mengerti. Sudah, tidak apa-apa.”
Sandy terlihat lebih tenang. Ia mengeringkan air mata dan membersihkan hidung. Lalu ia memandang Tae-Woo dengan cemas. “Sekarang bagaimana?”
“Di sini banyak kamar kosong. Sebaiknya malam ini kau tinggal di sini dulu.” Tae-Woo menunjuk cangkir teh di meja. “Minumlah. Masalah lainnya kita pikirkan besok saja.”
Sandy mengangkat cangkir itu dengan kedua tangannya. Walaupun Sandy masih agak tegang, Tae-Woo melihat tangan gadis itu sudah tidak gemetar lagi. Sandy meminum tehnya pelan-pelan, lalu memandang piamanya yang kotor.
Tae-Woo berdeham. “Ibuku tidak meninggalkan pakaiannya di sini, tapi kalau kau tidak keberatan, aku bisa meminjamkan bajuku.”
Sementara Sandy membersihkan diri dan berganti pakaian, Tae-Woo menelepon manajernya dan menceritakan apa yang terjadi.
“Baiklah, aku akan ke sana besok pagi,” kata Park Hyun-Shik sebelum menutup telepon. “Syukurlah dia tidak apa-apa.”
Sandy kembali ke ruang duduk ketika Tae-Woo menutup telepon. Tae-Woo tersenyum kecil ketika melihat penampilan gadis itu. Sandy mengenakan kaus lengan panjang yang kebesaran untuknya, dan celana panjang yang ujungnya harus dilipat berkali-kali. Wajahnya sudah dibersihkan dan rambutnya basah karena baru keramas.
“Boleh aku pinjam teleponmu?” tanya Sandy. “Aku ingin menelepon temanku, Young-Mi. Aku tidak tahu dia sudah dengar tentang kejadian ini atau belum. Kalaupun sudah, aku hanya ingin memberitahunya aku baik-baik saja.”
“Tentu saja,” sahut Tae-Woo sambil menyodorkan telepon kepada Sandy. Ia berjalan ke dapur untuk memberikan sedikit privasi, walaupun tentu saja dari sana ia masih bisa mendengar ucapan gadis itu.
94
“Young-Mi. Ini aku,” kata Sandy. “Oh, kau sudah tahu? … Tidak, tidak, aku baik-baik saja. Kau tidak usah cemas… Sekarang?”
Tae-Woo menyadari Sandy meliriknya sekilas.
“Emm… aku di rumah teman,” gumam Sandy, lalu cepat-cepat menambahkan, “begini, Young-Mi, aku mau minta tolong. Aku boleh pinjam pakaianmu? Aku tidak sempat membawa apa-apa. Bahkan ponselku tidak sempat kuselamatkan… Besok pagi? Terima kasih banyak… Oh, alamatnya?”
Sandy menyebutkan alamat rumah Tae-Woo dan setelah itu menutup telepon.
“Apa kata temanmu?” tanya Tae-Woo.
“Dia sudah tahu tentang kebakaran itu dan sudah berusaha menghubungiku sejak tadi. Katanya dia bisa meminjamkan pakaiannya untukku. Tadi dia menawarkan diri untuk mengantarkan pakaiannya ke sini. Kuharap kau tidak keberatan karena aku sudah memberikan alamat rumahmu kepadanya.”
Tae-Woo hanya mengangkat bahu. “Dia temanmu yang kauceritakan itu, kan? Yang sudah tahu segalanya tentang kita? Kurasa tidak masalah.”
Sandy mengangguk dan mengangsurkan pesawat telepon yang dipegangnya kepada Tae-Woo. “Jung Tae-Woo ssi, bagaimana kau bisa tahu tentang kebakaran itu?”
Tae-Woo menerima teleponnya dan menunjuk ke arah televisi. “Dari televisi.”
Sandy menatap Tae-Woo sambil tersenyum. “Kenapa rambutmu begitu?”
Tangan Tae-Woo langsung menyentuh kepalanya. Ia baru menyadari rambutnya acak-acakan. Ia baru ingat ia tadi sedang mengeringkan rambut ketika melihat berita kebakaran itu di televisi. Saking paniknya, ia langsung melesat keluar tanpa memikirkan penampilan.
Tae-Woo berdeham dan menyisir rambut dengan jari-jari tangannya. “Tadi baru keramas,” gumamnya tidak jelas, lalu kembali menyodorkan pesawat telepon yang dipegangnya kepada Sandy. “Masih ada yang ingin kautelepon? Orangtuamu?”
Sandy berpikir sejenak. “Orangtuaku ada di Jakarta. Kurasa mereka tidak akan tahu tentang gedung apartemen yang terbakar di Korea. Aku juga tidak ingin membuat mereka khawatir. Lagi pula sekarang sudah larut sekali. Lain kali saja baru kuceritakan kepada mereka.”
“Baiklah, terserah kamu,” kata Tae-Woo. “Sebaiknya sekarang kau istirahat. Ayo, kuantar kau ke kamarmu.”
Ia membawa Sandy ke kamar tamu di lantai dua. “Silakan,” kata Tae-Woo setelah membuka pintu kamar itu.
Sandy mengangguk dan melangkah masuk. Ketika berbalik, Tae-Woo mendengar Sandy memanggilnya. Ia pun menoleh.
95
Sandy berdiri di sana dengan tangan memegang pintu kamar yang terbuka. “Terima kasih,” katanya sambil tersenyum kecil. “Untuk semuanya.”
Tae-Woo membalas senyumnya. “Selamat malam.”
Ketika membuka mata keesokan harinya, Sandy tertegun sejenak sebelum menyadari ia sedang berada di rumah Jung Tae-Woo. Ia bangun dan duduk bersila di tempat tidur. Otaknya memutar kembali kejadian semalam. Ia tidak bisa melukiskan perasaannya ketika kebakaran itu terjadi. Sepertinya saat itu ia dalam keadaan setengah sadar karena entah bagaimana ia sudah keluar dari gedung dan berdiri di tepi jalan. Semuanya terjadi begitu cepat dan samar. Dalam sekejap ia sudah tidak punya apa-apa lagi.
Sejak menyadari gedungnya terbakar, hati Sandy diserang rasa panik, namun ia tahu ia harus tetap kuat dan tenang karena ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Namun ketika ia berdiri kebingungan di tepi jalan sambil memandang apartemennya yang terbakar, Jung Tae-Woo datang. Sandy merasa begitu lega melihat pria itu. Tiba-tiba ia tahu ia tidak perlu memasang sikap tegar dan tidak perlu berpura-pura takut. Ia bisa melepaskan sedikit ketegangan dalam dirinya. Ia tidak sendirian lagi.
Apa yang sedang kupikirkan? Sandy menggeleng-geleng. Sudah jam berapa sekarang? Ia melihat jam kecil yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurnya. Ternyata sudah pukul 09.25
Sandy turun dari tempat tidur dan memandang ke sekelilingnya. Kira-kira pintu apa di situ? Kamar mandi?
Ketika Sandy memutar kenopnya, ternyata memang benar itu pintu kamar mandi. Kamar mandinya cukup besar, ada bak mandi dan pancuran. Di sana juga sudah tersedia keperluan dasar seperti sabun, sikat gigi, pasta gigi, dan handuk. Ternyata mereka sudah mempersiapkan semuanya bagi tamu yang mungkin datang menginap. Kemarin Sandy tidak memakai kamar mandi yang ini, tapi kamar mandi lain di lantai bawah, jadi ia cukup terkesan.
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, ia turun ke lantai bawah. Ia menuruni tangga dengan perlahan sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
“Sudah bangun?”
Sandy terlompat kaget mendengar suara Jung Tae-Woo. Ternyata laki-laki itu sedang duduk di meja makan sambil tersenyum kepadanya. Ia tidak sendirian. Park Hyun-Shik juga duduk di sana sambil memegang surat kabar pagi.
“Oh, Paman sudah datang?” Sandy menghampiri mereka berdua. “Maaf, aku terlambat bangun.”
96
Ia agak risi karena Park Hyun-Shik terus menatapnya dengan pandangan penuh arti. Meski bisa menduga paman yang satu itu sedang memandangi pakaiannya, ia bertanya juga, “Paman, kenapa melihatku seperti itu?”
Park Hyun-Shik tersenyum dan menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku lega kau tidak terluka. Ayo duduk. Mau sarapan? Ini ada roti.”
“Terima kasih.”
Park Hyun-Shik melipat koran dan meletakkannya di meja. “Tadi pagi aku mampir ke gedung apartemenmu. Kelihatannya buruk. Kurasa tidak ada yang tersisa. Aku dengar dari Tae-Woo apinya berasal dari apartemen di sebelah apartemenmu?”
Sandy mengangguk.
“Kalau begitu, kurasa tidak ada lagi yang bisa diharapkan.”
Sandy mendesah dan mengerutkan kening dengan cemas.
“Apa rencanamu selanjutnya?” Park Hyun-Shik bertanya.
Sandy memandangnya. “Belum tahu. Mencari tempat tinggal baru mungkin. Aku masih punya uang di bank, tapi…”
“Kau akan tinggal di mana? Bisa tinggal bersama teman?”
Sandy berpikir-pikir. “Temanku hanya Kang Young-Mi dan dia pasti akan mengizinkan aku tinggal di rumahnya untuk sementara. Masalahnya, rumahnya tidak besar dan selain dia dan orangtuanya, masih ada dua adik laki-laki. Kalau aku tinggal di sana, kurasa aku hanya akan merepotkan mereka.”
Park Hyun-Shik menatap Jung Tae-Woo, lalu kembali menatap Sandy. “Bagaimana kalau kau tinggal di sini saja dulu untuk sementara?”
Sandy tersentak kaget. Ia langsung menoleh ke arah Jung Tae-Woo dan buru-buru menjawab, “Oh, itu tidak perlu. Itu—“
“Kenapa tidak di rumah Hyong saja?” sela Jung Tae-Woo.
Park Hyun-Shik tertawa kecil. “Kau tahu sendiri di apartemenku hanya ada satu kamar tidur. Kau mau dia tidur sekamar denganku? Di rumahmu ini ada banyak kamar, jadi seharusnya tidak ada masalah.”
Sandy merasa wajahnya panas. Apa yang sedang mereka bicarakan? “Tidak, itu tidak perlu,” katanya. “Aku akan segera mencari tempat tinggal baru.”
Jung Tae-Woo mengerutkan dahi dan memandangnya. “Kaukira kau bisa mendapatkan tempat tinggal yang cocok dalam satu hari?”
“Soal itu…” Sandy tidak tahu harus berkata apa.
Jung Tae-Woo akhirnya mengangguk dan mendesah. “Kurasa yang dikatakan Hyong benar.”
Park Hyun-Shik menyandarkan punggung ke kursi dan melipat tangan di depan dada. “Baiklah, kita putuskan begitu saja. Untuk sementara Sandy akan tinggal di sini
97
sambil mencari tempat tinggal baru. Tentu saja aku juga akan membantumu mencari. Katakan saja padaku tempat seperti apa yang kauinginkan.”
“Ini…,” Sandy memandang Jung Tae-Woo. “Tapi aku… Apakah tidak apa-apa?”
Jung Tae-Woo mengangkat bahu. “Kurasa kau tidak punya pilihan lain, kan? Atau kau mau pulang ke Indonesia?”
“Aku masih harus kuliah.”
“Kalau begitu, kau memang tidak punya pilihan,” kata Jung Tae-Woo.
“Tapi…”
Jung Tae-Woo menatapnya. “Kenapa? Kau takut padaku?”
Sandy membelalakkan mata. “Ah, tidak. Bukan begitu.”
Park Hyun-Shik tertawa dan berkata pada Sandy, “Kau boleh tenang, Sandy. Kau pastinya juga sudah tahu Tae-Woo digosipkan sebagai gay, bukan playboy.”
Sontak wajah Tae-Woo menampilkan ekspresi kesal. Sandy ikut tertawa melihat raut wajahnya.
Tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu. Jung Tae-Woo bangkit dari kursi dan berjalan ke pintu. Lalu, “Oi, Sandy,” panggilnya.
“Ada apa?” Sandy berdiri dan menyusulnya ke pintu.
Jung Tae-Woo menunjuk ke monitor kecil di samping pintu. Ternyata monitor itu menunjukkan siapa yang sedang berada di depan pintu rumah. Sandy melihat wajah gadis bermata sipit dengan rambut dikucir dan tangan memeluk kantong kertas.
“Itu temanmu?” tanya Jung Tae-Woo memastikan.
“Ya. Itu Young-Mi,” kata Sandy.
Sandy bisa melihat temannya nyaris pingsan karena sesak napas begitu mendapati Jung Tae-Woo yang membukakan pintu untuknya. Mata Young-Mi yang sipit melebar dan salah satu tangannya langsung naik ke dada seakan untuk menahan jantungnya supaya tidak jatuh.
“Young-Mi, kau tidak apa-apa?” tegur Sandy sambil menyentuh lengan Young-Mi yang tiba-tiba kaku.
Dengan agak tergagap-gagap, Young-Mi mengucapkan selamat pagi kepada Jung Tae-Woo sambil membungkukkan badan. Jung Tae-Woo membalas salamnya dan mempersilakannya masuk.
“Astaga, aku tidak percaya ini,” bisik Young-Mi ketika ia duduk di sofa panjang ruang duduk dan melihat ke sekeliling. Saat itu Jung Tae-Woo sudah berjalan kembali ke ruang makan, meninggalkan mereka berdua di ruang duduk.
“Kenapa kau ini?” goda Sandy sambil menyikut lengan temannya.
Young-Mi menatap Sandy dengan mata berbinar-binar. “Aku tidak percaya aku baru saja bertemu Jung Tae-Woo dan sekarang berada di dalam rumahnya. Aku duduk
98
di sofanya. Aku menginjak lantai rumahnya. Astaga! Hei, kenapa kemarin kau tidak bilang kau berada di rumah Jung Tae-Woo?”
Sandymeringis melihat tingkah temannya. “Hei, temanmu ini baru mengalami bencana.”
Young-Mi berpaling dengan cepat ke arah Sandy. “Oh, ya, maaf. Aku lega kau tidak apa-apa. Ini kubawakan beberapa pakaian. Pakaian dalam juga. Pakaian dalamnya baru kubeli tadi pagi. Baju-baju itu punyaku. Ukurannya pasti cocok untukmu.”
Sandy menerima kantong kertas yang disodorkan Young-Mi. “Terima kasih banyak. Aku pasti akan mengembalikannya nanti.”
Young-Mi mengibaskan tangan. “Tidak usah dipikirkan. Lalu selanjutnya bagaimana?”
Alis Sandy terangkat. “Mm?”
“Kau tahu kau bisa tinggal di rumah kami. Kami tidak akan keberatan sama sekali.”
Sandy tersenyum. “Aku tahu. Terima kasih banyak. Tapi kurasa tidak perlu. Aku pasti hanya akan merepotkan kalian.”
Mata Young-Mi melebar. “Merepotkan bagaimana? Kau boleh tidur denganku Young-Joon dan Young-Ho bisa pindah tidur di ruang tengah—“
“Mana mungkin aku membiarkan adik-adikmu tidur di ruang tengah?” sela Sandy. “Aku tahu kalian akan dengan senang hati menerimaku, tapi aku sendiri akan merasa tidak enak kalau begitu.”
Young-Mi terdiam sesaat, lalu berkata, “Kalau begitu kau akan tinggal di mana?”
Sandy berdeham. “Aku akan mencari tempat tinggal baru.”
“Hei, kaukira kau bisa mendapatkan tempat tinggal baru dalam satu hari? Selama kau mencari kau akan tinggal di mana?”
Nah, kenapa kata-kata temannya ini persis seperti kata-kata Jung Tae-Woo? Sandy memiringkan kepala dan berkata ragu, “Kurasa aku akan tinggal di… sini…”
Sandy melihat Young-Mi menahan napas dan menatapnya kaget. Lalu Young-Mi mengerjapkan mata. “Di sini? Di rumah Jung Tae-Woo?”
“Di sini banyak kamar kosong,”Sandy mengulangi kata-kata Paman Park Hyun-Shik tadi. “Jadi kurasa… Ah, lagi pula Jung Tae-Woo ssi yang menawarkan.”
Tidak, sebenarnya tidak persis begitu, tapi kira-kira seperti itulah.
“Kau yakin?” tanya Young-Mi ragu.
“Aku tidak punya pilihan lain.” Kali ini giliran kata-kata Jung Tae-Woo yang Sandy pinjam.
Tepat pada saat itu Park Hyun-Shik masuk ke ruang duduk bersama Jung Tae-Woo. Young-Mi yang melihat kedatang mereka langsung melompat berdiri seperti disengah lebah. Park Hyun-Shik pun menyunggingkan senyumnya yang menawan.

BAB 8 PART 2

Sandy menutup pintu apartemen dan menarik napas panjang. Ia melemparkan tasnya ke kursi lalu duduk di lantai.
Kenapa bisa begini? Acara makan siang yang menyenangkan berubah menjadi kekacauan. Sandy tidak bisa menggambarkan perasaannya ketika ia keluar dari restoran dan tiba-tiba berhadapan dengan segerombolan wartawan yang tidak henti-hentinya menjepretkan kamera, meneriakkan namanya, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Seakan kejadian yang dialaminya tadi tidak nyata, seperti mimpi.
Apa yang harus ia lakukan? Apa yang sudah ia lakukan?
Mungkin sejak awal seharusnya ia tidak terlibat dengan Jung Tae-Woo. Namanya kini sudah tersebar dan mungkin besok wajahnya akan terpampang jelas di tabloid-tabloid. Sebenarnya hanya satu hal yang mencemaskannya, yaitu reaksi orangtuanya. Bagaimana ia harus menjelaskan semua ini kepada orangtuanya?
Sandy meraih tas dan mengeluarkan ponsel. Baterai ponsel itu masih belum dipasang. Ia menatap ponselnya. Apakah ia harus menelepon orangtuanya? Kalau orangtuanya tahu, mereka pasti tidak akan tinggal diam, apalagi ibunya. Meski ia menjelaskan bahwa semua itu tidak benar dan sesungguhnya ia sama sekali tidak punya hubungan apa pun dengan Jung Tae-Woo, ia yakin keadaannya tidak akan berbeda.
Jung Tae-Woo. Pikiran Sandy kembali melayang ke saat ia berada dalam pelukan laki-laki itu. Ketika Jung Tae-Woo memeluknya, waktu seakan berhenti berputar. Ketika Jung Tae-Woo mengatakan semuanya akan baik-baik saja, ia benar-benar percaya. Ketika Jung Tae-Woo melepaskan pelukannya, keyakinan diri itu hilang lagi. Kenapa begini?
89
Jung Tae-Woo. Sandy tidak sepenunya jujur pada laki-laki itu. Apakah ini adil baignya? Sandy bangkit dan menghampiri lemari kecil di samping televisi. Ia membuka lemari itu dan mengeluarkan kantong ungu kecil yang terbuat dari kain beludru. Ia membuka ikatan kantong itu, merogohnya dan mengeluarkan bros berbentuk hati berwarna merah mengilat dengan pinggiran keemasan. Sandy menatap bros di telapak tangannya itu sambil berpikir. Sejak awal ia seharusnya tidak boleh terlibat dengan Jung Tae-Woo. Andai saja ia menolak…
Tapi saat itu ia benar-benar ingin tahu.
Apakah sekarang ia sudah mendapatkan jawaban?
Bel pintu berbunyi, menarik pikiran Sandy kembali ke alam sadar. Sandy berjalan tanpa suara ke pintu dan mengintip dari lubang kecil di pintunya. Ia melihat wajah Lee Jeong-Su. Lagi-lagi dia. Sandy tidak ingin bicara dengannya, terlebih lagi saat ini.
Lee Jeong-Su mengetuk pintu dan berkata, “Soon-Hee, buka pintunya. Aku tahu kau ada di dalam.”
Sandy mengerutkan kening. Ia tetap tidak bergerak dari balik pintu.
“Kita harus bicara, Soon-Hee,” kata Lee Jeong-Su lagi. “Aku akan terus menunggu di sini sampai kau mau membuka pintu.”
Sandy mendengus pelan. Terserah saja, katanya dalam hati. Kau mau menunggu sampai besok? Silakan. Ia membalikkan tubuh dan berjalan ke tempat.

BAB 8 PART 1

BEBERAPA hari sudah berlalu sejak Kang Young-Mi tahu tentang Sandy dan Jung Tae-Woo. Sebenarnya Sandy ingin segera memberitahukan hal ini kepada Park Hyun-Shik dan Jung Tae-Woo, tapi belum punya kesempatan untuk itu. Kedua laki-laki itu begitu sibuk dan susah dihubungi. Kalaupun bisa dihubungi seperti sekarang, Jung Tae-Woo sedang sibuk dan Sandy tidak bisa bicara banyak.
“Jung Tae-Woo ssi, sekarang kau sedang sibuk?” tanya Sandy di telepon.
“Aku? Sebentar lagi aku harus tampil. Ada apa?”
“Mm, setelah ini kau ada acara lagi?”
Jung Tae-Woo terdiam sejenak lalu berkata, “Sebenarnya tidak ada, tapi sesudah acara ini selesai, aku harus pergi menemui ibuku. Oh ya, ibuku datang ke Seoul hari ini. Baru tiba siang tadi. Aku sudah janji makan malam dengannya. Kenapa? Ada masalah?”
Sandy cepat-cepat berkata, “Tidak, tidak ada masalah. Hanya saja ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bukan masalah penting. Lain kali saja kita bicarakan.”
“Atau kau mau ikut makan malam bersama kami?” Jung Tae-Woo menawarkan.
“Kau gila?” Sandy berseru. “Sudahlah, tidak apa-apa. Kau makan saja dengan ibumu.”
Jung Tae-Woo tertawa. “Baiklah, nanti kutelepon.”
Sandy menutup flap ponsel dan meletakkannya di meja ruang duduk. Ia mengembuskan napas, meraih remote control, lalu menyalakan televisi.
* * *
81
“Jadi temanmu sudah tahu tentang kita?” tanya Park Hyun-Shik sambil mengusap-usap dagu.
Sandy duduk di hadapannya dengan kepala tertunduk. Jung Tae-Woo yang duduk di sebelahnya hanya bisa duduk bertopang dagu. Mereka bertiga berkumpul di kantor Park Hyun-Shik. Sandy baru saja selesai bercerita kepada kedua laki-laki itu tentang Kang Young-Mi yang sudah tahu kesepakatan mereka.
“Jadi alasan kau meneleponku kemarin adalah karena ingin memberitahukan masalah ini?” tanya Jung Tae-Woo.
“Ya. Maafkan aku,” gumam Sandy dengan kepala tertunduk.
“Bukan salahmu,” kata Jung Tae-Woo sambil mengibaskan tangan. “Siapa yang bisa menduga temanmu bisa menelepon tepat ketika kau muncul di televisi?”
Park Hyun-Shik mendesah. “Tidak perlu merasa bersalah… Lalu apa yang dikatakan temanmu?”
Sandy mengangkat wajah dan menatap Jung Tae-Woo serta Park Hyun-Shik bergantian. “Yah, dia memang agak terkejut… Tapi dia teman baikku dan aku percaya padanya. Dia sudah berjanji tidak akan mengatakan apa-apa.”
“Baiklah,” kata Park Hyun-Shik pada akhirnya. “Sepertinya kita tidak punya pilihan lain selain percaya padanya.”
Mereka bertiga terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa saat berlalu, kemudian kesunyian itu dipecahkan dering telepon di meja Park Hyun-Shik. Park Hyun-Shik mengangkatnya.
“Apa? Siapa katamu?” katanya di telepon sambil menegakkan punggung dengan satu gerakan cepat. “Baiklah.”
Ia meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya. Sandy memandangnya dengan tatapan bertanya-tanya.
“Ada apa, Hyong?” tanya Jung Tae-Woo.
Park Hyun-Shik bangkit dari kursi dan berkata, “Ibumu ada di sini.”
Tepat pada saat itu pintu kantor Park Hyun-Shik terbuka. Sekretaris Park Hyun-Shik muncul diikuti wanita cantik berpostur tinggi semampai.
Sandy terkesiap dan duduk mematung di tempatnya. Wanita itu Choi Min-Ah, penulis buku terkenal. Ibu Jung Tae-Woo. Apa yang harus dilakukannya sekarang?
“Ibu?” Jung Tae-Woo melompat dari kursi dan menghampiri ibunya dengan ekspresi kaget. “Sedang apa Ibu di sini?”
“Oh, halo, Tae-Woo,” sapa ibunya riang. Ia menoleh ke arah Park Hyun-Shik dan menyalaminya. “Hyun-Shik, apa kabar? Senang sekali melihatmu lagi.”
Park Hyun-Shik tersenyum hangat dan berkata, “Saya juga senang bertemu Bibi lagi. Maafkan saya karena kemarin saya tidak bisa makan malam bersama Bibi.”
82
“Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. Kau memang sangat sibuk. Orangtuamu baik-baik saja?” tanya Choi Min-Ah. “Sudah lama tidak bertemu mereka. Mereka masih di Kanada?”
“Iya, mereka masih di sana. Ibu saya juga sering bertanya kapan bisa bertemu Bibi lagi.”
Choi Min-Ah mengangguk. “Benar, kita harus berkumpul lagi. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya.”
“Ibu, kenapa Ibu datang ke sini?” tanya Jung Tae-Woo sekali lagi sambil menggandeng lengan ibunya.
Choi Min-Ah menoleh memandang anak laki-lakinya. “Oh, pesawatku baru akan berangkat sore nanti, jadi aku ingin mengajak kalian makan siang bersamaku. Hyun-Shik, kau tidak boleh menolak.”
Saat itu pandangan Sandy bertemu dengan tatapan penuh tanya Choi Min-Ah. Wanita itu tersenyum dan Sandy membalas senyumnya dengan kaku.
“Nah, sebentar. Apakah ini Han Soon-Hee ssi?” tanya ibu Jung Tae-Woo.
Dengan kikuk Sandy menatap Jung Tae-Woo dan Park Hyun-Shik bergantian, lalu bangkit dari kursinya. “Apa kabar?” katanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
“Tae-Woo, kau ini bagaimana? Kenapa tidak memperkenalkan kami?” kata Choi Min-Ah sambil memukul pelan lengan anaknya.
Jung Tae-Woo tersadar dan menghampiri Sandy. “Ibu, ini Han Soon-Hee. Sandy, ini ibuku.”
Choi Min-Ah mengerutkan kening dan mendecakkan lidah. “Perkenalan macam apa itu?” Lalu ia memandang Sandy sambil tersenyum. “Senang sekali akhirnya bisa bertemu denganmu, Soon-Hee. Kau tidak keberatan kalau kupanggil Soon-Hee saja, bukan?”
“Tentu, tentu saja tidak,” kata Sandy cepat-cepat.
“Begini saja, bagaimana kalau kita berempat pergi makan siang? Kita bisa mengobrol sambil makan. Soon-Hee, kau ada waktu, kan? Kau mau, kan?” bujuk ibu Jung Tae-Woo ramah.
Sandy membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Apakah ia boleh makan siang bersama ibu Jung Tae-Woo? Atau sebaiknya ia segera pamit dan pergi dari sana saja? Ia memandang kedua laki-laki yang sedang berdiri tanpa suara itu, menunggu isyarat.
Jung Tae-Woo dan Park Hyun-Shik berpandangan. Akhirnya Park Hyun-Shik berkata, “Baiklah, Bibi. Saya juga sedang tidak punya jadwal kerja siang ini.”
Choi Min-ah bertepuk tangan. “Bagus sekali. Ayo, cepat. Kita mau makan di mana ya?”
83
“Kau kenal ibunya?” tanya Park Hyun-Shik kepada Sandy dengan nada rendah ketika ibu Jung Tae-Woo keluar duluan dari kantornya, meninggalkan mereka bertiga di dalam.
Sandy merasa kesulitan, susah menjelaskannya. “Itu… waktu itu aku tidak sengaja—“
Jung Tae-Woo menyela, “Hyong, nanti saja kujelaskan.Sebaiknya sekarang kita segera menyusul ibuku.”
Awalnya Tae-Woo agak mencemaskan sikap ibunya terhadap Sandy, tapi sepertinya kekhawatiran tersebut tidak beralasan karena kedua wanita itu cepat sekali akrab. Tampak jelas ibunya menyukai Sandy dan begitu juga sebaliknya. acara makan siang itu berjalan ringan dan menyenangkan. Bahkan ketika ibunya menanyakan bagaimana pertemuan pertama mereka, Sandy menjawab dengan lancar, “Jadi kalau Paman tidak salah mengambil ponsel saya waktu itu, saya rasa saya tidak akan pernah bertemu Paman maupun Jung Tae-Woo ssi,” kata Sandy.
“Wah, rupanya cinta pada pandangan pertama,” kata ibu Jung Tae-Woo penuh minat.
Sandy tersedak dan Tae-Woo otomatis menyodorkan segelas air kepada gadis yang duduk di sebelahnya itu. Park Hyun-Shik yang duduk berhadapan dengan Tae-Woo hanya bisa menahan senyum.
“Oh ya, Soon-Hee, Hyun-Shik kan belum setua itu. Kenapa kau memanggilnya „paman‟?” tanya ibu Tae-Woo lagi sambil menepuk tangan Park Hyun-Shik yang duduk di sebelahnya. “Hyun-Shik, kau hanya dua tahun lebih tua daripada Tae-Woo, kan?”
Park Hyun-Shik membenarkan.
“Sepertinya saya sudah terbiasa memanggilnya begitu. Saya sendiri juga tidak tahu kenapa, tapi mungkin karena penampilan dan sikapnya yang dewasa sekali,” jawab Sandy.
Tae-Woo menyadari ibunya mengamati dirinya, lalu Park Hyun-Shik. “Benar juga,” kata ibunya. “Hyun-Shik memang kelihatan lebih dewasa kalau dibandingkan Tae-Woo. Tapi, Hyun-Shik, kenapa sampai sekarang kau masih sendiri? Bagaimana kalau kusuruh Soon-Hee mencarikan gadis untukmu?”
Sementara ibunya mendesak Park Hyun-Shik, Tae-Woo mendengar dering ponsel. Ia meraba saku jasnya, tapi lalu berpaling kepada Sandy. “Punyamu.”
Sandy merogoh tas dan mengeluarkan ponsel. Ia menatap layar ponsel sekilas. Sambil berdeham pelan, ia membuka dan langsung menutup flap ponselnya. Beberapa
84
detik kemudian ponselnya berbunyi lagi. Tae-Woo menoleh ke arah Sandy dan mendapati gadis itu sedang mencopot baterai ponselnya.
“Dia lagi?” tanya Tae-Woo setelah Sandy memasukkan ponsel dan baterai ke dalam tas.
Sandy tidak menjawab, hanya memandangnya sambil tersenyum samar.
“Kenapa tidak dijawab?”
“Kemungkinan besar dia akan membicarakan hal-hal yang tidak penting. Seperti biasa.”
Lee Jeong-Su menutup ponselnya dengan kesal dan berdiri di tepi jalan dengan perasaan tidak menentu. Rupanya Sandy tidak mau menjawab teleponnya. Ia mengangkat tangan kirinya yang sedang memegang tabloid hiburan yang memuat foto Jung Tae-Woo bersama wanita dengan kacamata hitam dan rambut disanggul. Di bawah foto itu ada foto lain yang juga memperlihatkan Jung Tae-Woo berdiri dekat sekali dengan si wanita misterius, tapi kali ini wanita itu bertopi merah dengan rambut dikepang. Di bawah foto itu ada tulisan besar-besar “IDENTITAS KEKASIH JUNG TAE-WOO”.
Artikel kecil itu sudah dibacanya berkali-kali dengan perasaan tidak percaya, tapi Lee Jeong-Su ingin meyakinkan dirinya sekali lagi. Ia pun membaca kembali artikel itu dengan hati-hati. Matanya terhenti pada kalimat yang menyatakan wanita misterius yang menjadi kekasih Jung Tae-Woo akhirnya diketahui bernama Han Soon-Hee.
Han Soon-Hee.
Mata Lee Jeong-Su kembali menatap foto-foto itu. Tidak salah lagi. Semakin diperhatikan, wanita di foto itu memang mirip sekali dengan Soon-Hee. Benarkah itu? Inilah yang ingin ia tanyakan pada Soon-Hee, tapi gadis itu tidak mau menjawab teleponnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Lee Jeong-Su tidak mengerti kenapa hatinya tidak bisa tenang. Ia merasa kesal dan gelisah. Ia harus terus berusaha menghubungi Soon-Hee sampai berhasil mendapatkan penjelasan dari gadis itu. Kalau perlu, ia akan pergi ke rumah Soon-Hee dan menunggunya di sana.
Kang Young-Mi mendecakkan lidah dengan geram. Sejak tadi ia mencoba menghubungi ponsel Soon-Hee, tapi anak itu tidak mengaktifkan ponselnya. Ke mana dia?
Young-Mi menatap majalah di tangannya. Ia mengerutkan dahi. Apakah Soon-Hee sudah tahu tentang ini? Sepertinya belum. Kalau sudah tahu, Soon-Hee pasti akan
85
meneleponnya. Apakah anak itu sedang bersama Jung Tae-Woo? Kalau begitu seharusnya dia sudah tahu.
“Young-Mi, di mana majalan yang baru Ibu beli tadi?” tanya ibunya tiba-tiba.
Young-Mi tersentak kaget dan berusaha menyembunyikan majalah itu. “Oh? Majalah yang mana?”
Ibunya berkacak pinggang. “Yang sedang kausembunyikan di balik punggungmu itu. Sini.”
Young-Mi tidak bisa berbuat apa-apa sementara ibunya mulai membuka-buka majalah itu. Jantungnya berdebar keras. Ia sangat berharap bakal ada tamu yang datang ke restoran mereka, karena dengan begitu ibunya akan sibuk untuk sesaat, memberinya kesempatan menyembunyikan majalah itu. Tapi harapannya tidak terkabul. Tidak ada tamu yang datang dan ibunya terus asyik membaca gosip artis.
“Astaga!”
Ini dia yang sudah ia takutkan sejak tadi.
“Hei, Young-Mi, lihat ini!” Ibunya mendorong majalah itu ke arahnya.
“Ada apa?” Young-Mi berpura-pura tidak tahu.
“Lihat ini! Ini Soon-Hee, bukan? Soon-Hee temanmu itu?”
Young-Mi melihat majalah itu sekilas dan mendorongnya kembali kepada ibunya. “Ah, Ibu. Mana mungkin itu Soon-Hee. Masa Soon-Hee pacaran dengan artis terkenal?”
Ibunya tetap ngotot. “Tapi di sini ditulis namanya Han Soon-Hee.”
Young-Mi berkata dengan tidak sabar, “Bisa saja namanya sama. Banyak orang yang bernama Han Soon-Hee.”
Ibunya terdiam sejenak. Young-Mi melirik ibunya untuk melihat bagaimana reaksinya. Ibunya mengamati foto-foto di majalah itu dengan kening berkerut. Ini gawat, ibunya terlalu cerdik untuk dibohongi.
“Tidak, ini memang Han Soon-Hee temanmu,” kata ibunya pasti. “Memang wajahnya tidak jelas, tapi lihat tulang pipinya dan senyumnya. Ibu yakin seyakin-yakinnya ini Han Soon-Hee yang kita kenal. Kau mau bertaruh dengan Ibu?”
Young-Mi tidak menjawab. Sepertinya ibunya juga tidak menginginkan jawaban karena ibunya tidak memandangnya.
“Ternyata dia pacaran dengan Jung Tae-Woo si penyanyi itu, ya…?” gumam ibunya sambil terus memerhatikan foto-foto dalam majalah. “Bagaimana bisa? Kau sudah tahu tentang ini, Young-Mi?”
Mata Young-Mi bertemu pandang dengan ibunya, ia lalu cepat-cepat berkata, “Mana aku tahu? Tidak, aku tidak tahu apa-apa.”
* * *
86
Jung Tae-Woo merasa senang siang itu. Perasaannya ringan sekali selama makan siang tadi. Tapi perasaan itu tidak berlangsung lama. Ketika mereka berempat selesai makan siang dan keluar dari restoran, tiba-tiba saja begitu banyak orang mencegat mereka. Para wartawan mulai berebut mengajukan pertanyaan dan kamera-kamera diarahkan kepada mereka.
“Jung Tae-Woo, benarkah ini Han Soon-Hee, kekasih Anda?”
“Anda berempat sedang apa di sini, Jung Tae-Woo?”
“Nyonya Choi, apakah Anda baru bertemu Han Soon-Hee ssi?”
“Ada komentar, Han Soon-Hee ssi?”
Tae-Woo tidak bisa mendengar kata-kata lain karena semua orang berteriak bersamaan. Ia merasakan Sandy membeku di sampingnya. Ia memahami perasaan gadis itu, ia sendiri juga sangat terkejut karena mendadak harus berhadapan dengan kerumunan wartawan seperti ini. Dan dari mana mereka tahu nama Sandy?
Suasana menjadi kacau. Park Hyun-Shik berusaha menenangkan para wartawan yang tidka henti-hentinya memotret. Ibu Tae-Woo ikut kebingungan, tapi tetap bisa bersikap tenang. Sandy hanya bisa menunduk. Secara otomatis, Tae-Woo menarik Sandy ke belakang punggungnya. Ia menyadari tubuh gadis itu tegang.
Tepat pada saat itu mobil mereka sudah diantarkan ke depan restoran. Tae-Woo segera merangkul pundak Sandy dan menuntunnya menerobos kerumunan wartwan. Sandy dan ibunya berhasil masuk ke mobil. Lalu ketika Tae-Woo ikut masuk dan duduk di samping kemudi, Park Hyun-Shik sudah menyalakan mesin mobil.
“Apa yang sedang terjadi?” tanya Park Hyun-Shik ketika mereka melaju di jalan raya.
Tae-Woo tidak menjawab. Ia memutar tubuhnya dan memandang Sandy yang duduk di belakang bersama ibunya. “Kau tidak apa-apa?”
Sandy tidak kelihatan sehat. Wajahnya agak pucat, tapi ia memaksakan seulas senyum. “Ya.”
“Bagaimana mereka bisa tahu nama Sandy?” Tae-Woo bertanya kepada manajernya.
Park Hyun-Shik menatapnya sekilas, lalu kembali memusatkan perhatian ke jalan raya. “Entahlah.”
“Kalian belum memberi keterangan lengkap tentang Soon-Hee pada wartawan, ya?”
Tae-Woo memandang ibunya yang tampak sangat gelisah. “Belum. Memangnya kenapa, Bu?”
Ibu Tae-Woo agak salah tingkah ketika menjawab, “Sepertinya Ibu yang telah membocorkannya kepada wartawan.”
87
Tae-Woo hanya bisa mendengarkan dalam diam sementara ibunya menjelaskan apa yang terjadi saat wawancara di toko buku. Park Hyun-Shik tidak berkomentar. Sandy juga hanya duduk di sana tanpa suara.
“Maafkan Bibi, Soon-Hee. Bibi tidak sengaja. Bibi tidak tahu kalian tidak ingin orang-orang tahu.”
Sandy tersenyum lebar menenangkan wanita cantik itu. “Tidak apa-apa, Bibi. Bukan masalah besar. Lagi pula cepat atau lambat mereka akan tahu juga.”
Tae-Woo menduga Sandy sebenarnya risau, hanya saja ia tidak mau menunjukkannya karena takut ibunya merasa bersalah.
“Benar, ini bukan masalah besar,” kata Park Hyun-Shik memecah kesunyian. “Sekarang yang penting kita antar Sandy pulang dulu, lalu kita ke bandara untuk mengantar Bibi.” Ia memandang ibu Tae-Woo melalui kaca spion. “Bibi tidak usah khawatir. Semuanya akan baik-baik saja.”
Ketika mereka tiba di gedung apartemen Sandy, Tae-Woo mengantarnya sampai ke depan pintu apartemennya.
“Oke, aku sudah sampai,” kata Sandy di depan pintu apartemen. “Pergilah. Kau masih harus mengantar ibumu ke bandara.”
Tae-Woo menatap gadis yang berdiri di hadapannya itu. Walaupun Sandy tersenyum, Tae-Woo bisa melihat senyum itu bukan senyum ceria yang biasa.
“Apa yang kaupikirkan sekarang?” tanya Tae-Woo.
Mata Sandy tampak menerawang. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan. “Aku tidak tahu,” sahutnya. “Banyak sekali yang kupikirkan sampai-sampai aku sendiri bingung.”
Tae-Woo tidak mengatakan apa-apa. Ia menunggu karena sepertinya gadis itu masih ingin berkata-kata.
“Semua orang sudah tahu. Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Sandy, lebih kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba matanya melebar dan ia menatap cemas Tae-Woo. “Orangtuaku. Mereka pasti juga akan tahu. Apa yang harus kukatakan pada mereka?”
Tae-Woo tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu, tapi tiba-tiba, saat itu juga, ia sangat yakin akan satu hal. Ia tidak ingin gadis yang berdiri di hadapannya itu mendapat kesulitan. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Ia kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengatakan sesuatu yang menghibur.
Perlahan ia maju selangkah dan memeluk gadis itu. Sandy tidak menghindar. Entha kenapa Tae-Woo merasa segalanya tepat seperti seharusnya ketika gadis itu dalam
88
pelukannya. Seluruh rasa lelah seolah mengalir keluar dari tubuhnya. Ia ingin sekali terus seperti ini. Ia ingin sekali tetap berdiri di sana dan memeluk Sandy selamanya.
“Tidak usah dipikirkan,” kata Tae-Woo pelan. “Kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku.”
Aku akan pastikan kau tidak mendapat masalah….
Ia melepaskan pelukannya dan menatap Sandy. Sandy menarik napas dan tersenyum kecil.
“Aku tahu,” kata Sandy sambil mengangguk tegas. “Aku bisa mengatasinya. Kau pergilah.”
Tae-Woo menunggu sampai Sandy masuk ke apartemen sebelum berbalik pergi. Ia berjalan menuju lift tanpa menyadari ada pria berpostur tinggi besar sedang memerhatikan kepergiannya tidak jauh dari sana.