Selasa, 23 Desember 2014

BAB 6 PART 2

“Lalu bagaimana?”
“Kita pesan pizza saja,” usul Sandy cepat. “Sudah lama aku tidak makan pizza. Oke?”
“Sakit tenggorokan malah mau makan pizza?” tanya Jung Tae-Woo. “Kau makan bubur saja.”
“Tenggorokanku sudah sembuh,” protes Sandy.
“Kapan kau akan membawaku menemui ibumu?”
Tae-Woo mengangkat kepala dan menatap gadis yang sedang menggigit potongan pizza di hadapannya itu dengan kaget. Lalu Sandy tertawa dan berkata, “Bercanda. Tidak usah bingung begitu.”
Tae-Woo kembali memakan pizza-nya tanpa berkata apa-apa.
“Bulan lalu sewaktu kau ke Amerika, apakah kau pergi untuk mengunjungi orangtuamu?” tanya Sandy sambil lalu.
“Bagaimana kau bisa tahu aku pergi ke Amerika bulan lalu?” Tae-Woo balik bertanya.
Sandy mengedikkan bahu. “Semua orang juga tahu,” katanya. “Di masa sekarang ini, tidak ada yang bisa disembunyikan selebriti. Orang-orang punya banyak cara untuk mencari tahu. Dari hal-hal yang mendasar, misalnya soal ibumu yang penulis, ayahmu komponis, dan soal mereka tinggal di Amerika Serikat, sampai ukuran bajumu dan jam berapa kau tidur di malam hari.”
“Benarkah?” Tae-Woo tersenyum dan menambahkan, “Jadi menurutmu tidak ada yang tidak diketahui orang-orang tentang aku?”
Sandy terdiam sebentar untuk berpikir. Lalu, “Eh, ada,” kata Sandy tegas.
“Apa?”
Sandy tersenyum bangga dan menjawab, “Orang-orang tidak tahu kau mengenalku.”
Ah, dia benar. Mereka berdua punya rahasia. Entah kenapa hal ini membuat Tae-Woo senang.
“Ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Tae-Woo tiba-tiba.
Sandy menatapnya, menunggu kata-katanya.
“Aku ingin tahu siapa orang yang meneleponmu tadi,” kata Tae-Woo. Ia melihat raut wajah Sandy berubah maka ia cepat-cepat menambahkan, “Jangan katakan lagi dia itu teman dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan.”
Sandy membuka mulut dan menutupnya kembali. Tae-Woo menyadari gadis itu bimbang.
66
“Dia mantan pacarmu yang pernah kauceritakan?” tanya Tae-Woo hati-hati.
Sandy menarik napas panjang dan mengembuskannya. Lalu ia mengangguk.
Tae-Woo tiba-tiba merasa tidak bersemangat. Ia bertanya lagi, “Untuk apa dia meneleponmu lagi setelah apa yang dilakukannya padamu?”
Sandy mengangkat bahu. “Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Dia hanya mengajak ngobrol, makan, dan hal-hal kecil seperti itu.”
Tae-Woo tidak menyadari suaranya bertambah keras. “Lalu kenapa kau masih mau menemuinya?”
Sandy sampai menatapnya heran. “Kurasa aku… aku… entahlah.”
Tae-Woo bisa melihat Sandy agak bingung menjawab pertanyaannya.
“Lagi pula… memangnya setelah berpisah harus bermusuhan?” kata Sandy akhirnya.
“Sampai sekarang… kau masih menyukainya?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Tae-Woo tanpa bisa dicegah. Lalu tanpa disadarinya, tubuhnya menegang menunggu jawaban gadis itu.
Sandy terlihat ragu-ragu, lalu akhirnya menjawab, “Mungkin.”
“Apa?”
Sandy menatapnya dengan agak bingung. “Mungkin,” katanya sekali lagi. “Mungkin aku memang masih punya perasaan terhadapnya. Entahlah.”
Mendadak Tae-Woo merasa susah bernapas. Matanya tertuju ke meja tapi tatapannya kosong. Pikirannya juga kosong.
Lalu ia mendengar suara Sandy lagi. “Ini masalah pribadiku dan tidak ada hubungannya denganmu dan Paman. Tidak perlu cemas. Aku berjanji tidak akan mengatakan apa pun mengenai kalian berdua pada orang itu. Aku orang yang bisa membedakan masalah pribadi dengan pekerjaan.”
Tae-Woo tertawa masam. “Begitu?”
“Ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Sandy tiba-tiba.
Tae-Woo menatap wajah gadis itu berubah serius, “Apa?”
Sandy tidak menatap Tae-Woo, tapi memandang pizza di tangannya. “Kejadian empat tahun lalu… Bisa kauceritakan?”
Tae-Woo tertegun. Ia tidak menyangka Sandy akan menanyakan hal itu.
Sandy meliriknya sekilas dan menambahkan, “Aku hanya ingin mendengar ceritanya dari sisimu… kalau kau tidak keberatan.”
Entah kenapa Tae-Woo merasa agak gelisah. Sampai sekarang ia masih belum bisa melupakan kejadian tersebut. Kecelakaan yang seakan-akan baru terjadi kemarin.
“Apa yang ingin kauketahui?”
“Semuanya.”
67
Tae-Woo menarik napas dalam-dalam. Pandangannya menerawang. Kata-katanya meluncur pelan dan datar. “Saat itu acara sudah berakhir. Hujan turun. Aku sudah berada di dalam mobil yang menunggu di pintu utama. Para penggemar masih berkerumun di sekeliling mobilku. Mereka berteriak-teriak, berdesak-desakan. Sopirku nyaris tidak bisa menjalankan mobil. Para petugas keamanan juga kewalahan membuka jalan agar mobil bisa lewat. Akhirnya mereka berhasil menahan para penggemar. Mobil pun mulai bergerak. Pelan, tidak cepat, karena aku masih melambaikan tangan kepada para penggemar. Lalu hal itu terjadi begitu saja.”
Tae-Woo mengernyitkan dahi mengingat saat-saat itu.
“Mobil direm mendadak. Ketika aku bertanya pada sopirku apa yang terjadi, dia berkata salah seorang penggemarku tertabrak. Seperti mimpi buruk. Semua orang jadi panik dan gadis itu cepat-cepat dilarikan ke rumah sakit. Kami tidak diizinkan melihatnya karena dokter harus melakukan pemeriksaan di ruang gawat darurat.
“Aku sendiri tidak tahu pasti bagaimana kejadian sesungguhnya, tapi menurut beberapa saksi mata, para penggemar saling mendesak dan gadis ini terdorong jatuh ke depan tepat ketika mobilku lewat. Walaupun mobil tidak melaju kencang, kepala gadis itu membentur aspal sehingga…”
Tae-Woo mendengar napas Sandy tersentak. Namun ketika mengangkat wajah, ia melihat gadis itu mengangguk kecil, meminta Tae-Woo melanjutkan cerita. Apa yang ada dalam benak gadis itu? Tae-Woo ingin tahu.
Masih dengan agak enggan, Tae-Woo melanjutkan, “Kudengar gadis itu bukan dari Seoul. Ia datang dari jauh untuk… Aku bahkan tidak sempat menjenguknya di rumah sakit karena ia langsung dibawa pulang entah ke mana. Kami hanya bisa menyampaikan ucapan turut berdukacita melalui media.”
Sandy hanya diam.
“Bagaimana menurutmu?”
Sandy tersentak dari lamunan. “Eh, apa?”
“Bagaimana menurutmu?” ulang Tae-Woo.
“Oh… entahlah… tapi kurasa… kau tidak salah.”
Tae-Woo menduga Sandy gugup karena tidak tahu apa yang harus dikatakan setelah mendengar cerita itu. Tapi Tae-Woo merasa sikap itu lebih baik daripada berpura-pura memahami perasaannya.

BAB 6 PART 1

PONSELNYA masih berdering. Sandy ragu apakah ia harus menjawabnya atau tidak. Ia sudah melihat huruf-huruf muncul di layar ponselnya. Dari Mister Kim. Hari ini hari Minggu dan seharusnya Sandy tidak bekerja. Kenapa atasannya menelepon? Tapi Sandy juga tahu kalau teleponnya tidak dijawab, Mister Kim akan terus meneleponnya sampai laut mengering.
Akhirnya ia menyerah dan meraih ponselnya.
“Hha-lho...” Salah satu alasannya malas menjawab telepon adalah karena tenggorokannya sedang sakit dan ia tidak bisa berbicara seperti biasa. Sekarang suaranya nyaris seperti bisikan angin.
Di seberang sana terdengar suara Mister Kim yang melengking. “Astaga, Miss Han. Kenapa suaramu seperti hantu begitu? Aku tahu, aku tahu, hari ini Minggu. Tapi aku harus tetap meneleponmu untuk meminta bantuan. Tolong kauantarkan pakaian untuk Jung Tae-Woo, ya? Kami di sini sibuk sekali. Ya, sibuk sekali. Tidak ada yang sempat membawakan pakaiannya. Tolong ya? Antarkan ke rumahnya. Kau tahu alamat rumahnya? Tentu saja tidak, bodoh sekali aku. Eeh... alamatnya di mana ya? Sebentar, ya... Mister Cha... MISTER CHA! Di mana kutaruh alamat Jung Tae-Woo? Tolong carikan untukku. Miss Han, kembali ke pembicaraan kita tadi. Begini saja, akan kukirim alamat Jung Tae-Woo lewat SMS begitu kutemukan nanti. Kau bisa mengambil pakaiannya dari butik lalu langsung pergi ke rumahnya ya? Thank you very much. Miss Han, kau baik sekali. Bye-bye!”
Sandy mendengar telepon ditutup di ujung sana. Ia sama sekali tidak punya kesempatan bicara. Kalaupun punya kesempatan, ia tidak akan bisa bicara banyak. Ia
59
menarik napas perlahan-lahan dan mengembuskannya perlahan-lahan juga. Mungkin atasannya ini dari dulu sampai sekarang tidak akan bisa berubah. Seenaknya sendiri.
Diktator, pikir Sandy dalam hati sambil melotot kepada ponselnya. Sebaiknya kau menambah gajiku atau aku akan mengundurkan diri. Lihat saja siapa yang mau bekerja untukmu.
Kata-kata ini sudah sering diucapkannya, tapi ia belum pernah benar-benar mengajukan surat pengunduran diri. Walaupun Mister Kim orang yang aneh dan seenaknya, Sandy merasa bisa belajar banyak darinya. Sejak kecil Sandy suka sekali dunia fashion. Jadi, walaupun jalan tidak selalu lancar, ia senang bisa bekerja dengan perancang busana terkenal yang tidak segan-segan mengajarinya banyak hal.
Sandy meneguk teh panasnya lagi dan duduk meringkuk di tempat tidur. Hari memang sudah siang, tapi ia masih segan bangun dari sana. Pagi tadi begitu ia bangun, tenggorokannya terasa sakit dan suaranya mulai serak. Mungkin ini efek segala jeritan dan teriakannya kemarin di acara jumpa penggemar Jung Tae-Woo. Kemarin ia memang menjerit sekuat tenaga bersama-sama ribuan penggemar lain. Entah apa yang diteriakkannya, ia sendiri juga sudah lupa. Ia hanya terus menjerit untuk meramaikan suasana. Akibatnya, hari ini berbisik saja susah!
Sandy baru saja akan terlelap kembali ketika ia teringat perintah Mister Kim. Sambil mendecakkan lidah dengan kesal dan mengumpat-umpat dalam hati, ia bangun dan berganti pakaian.
Sekitar satu setengah jam kemudian, Sandy sudah berdiri di depan pintu rumah Jung Tae-Woo yang berada di kawasan perumahan mewah. Ia hanya bisa terkagum-kagum dalam hati. Malam itu, ketika pertama kalinya datang ke sana, ia tidak begitu memerhatikan sekelilingnya. Saat itu ia kan sedang frustasi. Sekarang Sandy baru bisa melihat jelas bentuk rumah yang tersembunyi di balik pagar besi tinggi itu. Ia membiarkan matanya berpesta sepuasnya.
Rumah berlantai dua itu lumayan besar, dengan tembok putih, beranda yang luas, dan banyak jendela kaca. Sandy menyukai beranda di lantai dua. Ia mengangkat tangan untuk menaungi mata dari sinar matahari dan mendongak memerhatikan rumah itu dengan perasaan senang.
Lalu ia mengulurkan tangan dan memencet bel pintu.
Selanjutnya terdengar suara Jung Tae-Woo dari interkom.
Sandy ragu. Ia berdeham, walaupun tindakan itu tidak membantu sama sekali, memencet tombol interkom, dan menyebutkan namanya dengan suara serak.
“Apa? Siapa? Maaf, suaranya kurang jelas,” suara Jung Tae-Woo terdengar lagi.
60
Sandy mengulangi ucapannya sambil mengerutkan kening. Seharusnya Jung Tae-Woo bisa melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu. Rumah besar seperti ini pasti dilengkapi kamera pengawas. Pasti. Kenapa laki-laki itu harus membuat tenggorokannya bertambah sakit?
“Aku masih tidak mengerti apa yang kauucapkan. Tapi, baiklah. Masuk saja, Sandy.”
Sandy memalingkan wajahnya dan mendengus. Benar, kan? Jung Tae-Woo sudah tahu siapa yang berdiri di depan pintu.
Sambil menjinjing gantungan baju beberapa pakaian yang dibungkus plastik, Sandy melewati pagar besi yang terbuka secara otomatis, lalu mendorongnya sampai menutup dengan kakinya. Ia menaiki anak-anak tangga menuju rumah besar itu.
Jung Tae-Woo sudah menunggu di depan pintu. Laki-laki itu mengenakan kaus longgar kelabu dan celana panjang hitam. Rambutnya agak berantakan karena tidak ditata. Sandy menyadari Tae-Woo menatapnya dari kepala sampai ke kaki, lalu tatapan laki-laki itu kembali ke wajahnya. “Ada apa denganmu? Mana yang sakit?” tanya Jung Tae-Woo tanpa basa-basi.
Sandy menunjuk lehernya.
“Sudah minum obat?” tanya Jung Tae-Woo lagi.
Sandy tersenyum dan mengangguk.
Jung Tae-Woo memandangnya, lalu bertanya, “Kenapa kemari?”
Sandy mengacungkan pakaian-pakaian yang dibawanya. “Misther Kim... coba pakhaian...”
Jung Tae-Woo mengibaskan tangan. “Astaga... Aku tidak tahan mendengar suaramu yang mengerikan itu. Ikut aku, Aku punya obat untukmu. Ayo, masuk.”
Sandy berusaha berbicara, tapi lehernya terlalu menyiksa. Akhrinya ia menurut saja. Bagaimanapun ia tidak bisa melawan kata-kata Jung Tae-Woo dalam keadaan seperti ini. Tunggu saja sampai suaranya kembali seperti semula.
Di dalam rumah, ia melepaskan sepatu dan mengenakan sandal rumah yang ditunjukkan Jung Tae-Woo.
Bagian dalam rumah itu ditata rapi sekali. semua perabot dan hiasan di dalam rumah itu terkesan mewah. Setelah meletakkan pakaian di sofa terdekat, Sandy mengamati foto-foto yang tergantung di dinding. Kebanyakan foto sepasang pria dan wanita setengah baya. Sandy menduga mereka orangtua Jung Tae-Woo. Ada juga beberapa foto Jung Tae-Woo sewaktu kecil, remaja, dan saat ini.
Begitu asyiknya Sandy mengamati foto-foto itu sampai-sampai ia tidak menyadari Jung Tae-Woo sudah berdiri di sampingnya.
61
“Kenapa tiba-tiba sakit tenggorokan? Kemarin bukannya biasa-biasa saja?” tanyanya.
“Kemarinh... jhumpa pengghemar... menjerith,” Sandy berusaha menjelaskan terpatah-patah.
Jung Tae-Woo tertawa. “Ah, jadi karena kemarin kau ikut menjerit-jerit? Anak bodoh. Minum ini,” katanya sambil mengulurkan gelas berisi cairan berwarna cokelat pekat.
Sandy menerimanya dengan bimbang.
“Tidak usah kuatir. Itu bukan obat bius. Minum saja dan sebentar lagi tenggorokanmu akan membaik.”
Sandy menatap Jung Tae-Woo yang berjalan kembali ke dapur. Setelah dengan ragu-ragu meminum cairan itu, yang ternyata lumayan enak, ia kembali melihat-lihat sekeliling ruangan. Ada grand piano putih di ruang tengah yang tidak diingatnya ada di sana ketika pertama kali datang ke rumah itu. Sandy mengelus permukaan piano tersebut dan membuka tutupnya. Ia memang tidak bisa memainkan alat musik, tapi ia suka mendengarkan musik. Ia menekan salah satu tuts piano dan tersenyum sendiri.
“Hei, jangan pegang-pegang sembarangan.”
Sandy mengangkat kepala dan melihat Jung Tae-Woo berjalan menghampirinya. Ia melambai-lambaikan tangan menyuruh Jung Tae-Woo datang sambil menunjuk piano.
“Apa?” tanya Jung Tae-Woo bingung setelah berdiri di dekat piano.
“Mainhkhan,” Sandy berbisik serak sambil menggerak-gerakkan jari tangan seperti sedang bermain piano.
“Kau mau aku main piano?”
Sandy mengangguk dan menarik Jung Tae-Woo supaya duduk di kursi piano.
Jung Tae-Woo duduk dengan enggan dan berkata, “Kau mau bayar berapa?”
“Appha?” tanya Sandy sambil menggerakkan dagu.
“Kau mau bayar berapa untuk permainanku ini?” Jung Tae-Woo mengulangi.
Sandy mendorong bahu laki-laki itu dan menunjuk piano dengan tegas.
“Ya, ya. Aku mengerti,” kata Jung Tae-Woo.
Suara dentingan piano yang lembut mulai terdengar. Sandy berdiri di samping piano, menopangkan dagu di atasnya sambil melihat jemari tangan Jung Tae-Woo menari-nari di atas tuts piano. Ketika alunan nada yang dimainkan laki-laki itu akhirnya berhenti, Sandy bertepuk tangan.
“Bagus sekali!” katanya, lalu memegang leher. “Eh, tenggorokanku sudah tidak terlalu sakit lagi.”
Jung Tae-Woo tersenyum. “Sudah kubilang obatnya manjur.”
“Mainkan satu lagu lagi,” pinta Sandy.
Tiba-tiba terdengar nada dering ponsel. Sandy merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Raut wajahnya berubah ketika melihat layarnya. Ia segera membuka flap ponsel dan berjalan menjauh dari Jung Tae-Woo agar laki-laki itu tidak mendengar pembicaraannya.
“Halo? Ada apa, Jeong-Su ssi?” Sandy berbicara dengan nada rendah. “Apa? Sekarang? Aku... tidak bisa. Aku sedang... eh...”
“Telepon dari Hyun-Shik Hyong, ya?” seru Jung Tae-Woo keras.
Sandy terlompat kaget dan buru-buru menutup ponsel dengan tangan. Tapi tidak ada gunanya, Lee Jeong-Su sudah mendengar kata-kata itu dengan jelas.
“Soon-Hee, kau sedang bersama seseorang?” tanya Lee Jeong-Su dengan nada curiga.
Sandy membelalak kepada Jung Tae-Woo yang memasang tampang polos tak berdosa, lalu berkata pelan, “Ya. Aku harus pergi. Sudah dulu ya?”
Sandy menutup ponsel dan berkacak pinggang. Jung Tae-Woo sudah gila ya? Kalau memang Paman Park Hyun-Shik yang menelepon, Sandy kan tidak mungkin berbicara dengan suara pelan seperti tadi. Orang aneh!
“Jung Tae-Woo, kau ini kenapa? Kau mau orang-orang tahu tentang kita?” tanya Sandy sambil menatap Tae-Woo yang bangkit dari piano.
Jung Tae-Woo kelihatannya tidak peduli. Ia hanya melewati Sandy dan berkata, “Aku ke kamarku sebentar.”
Sandy memandangi sosok Jung Tae-Woo yang menaiki tangga dengan cepat, lalu menghilang di ujung tangga. Benar-benar orang aneh! Sandy menggeleng dan kembali melihat-lihat rumah Jung Tae-Woo. Jarang ada orang yang bisa masuk ke rumah artis. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Ia sedang mengamati tongkat pemukul bisbol dengan perasaan heran ketika mendengar ponselnya berbunyi lagi.
Siapa lagi? Jangan-jangan Lee Jeong-Su, katanya pada diri sendiri sambil melihat ke kanan-kiri, mencari asal bunyi. Tadi ponselnya ia taruh di mana ya? Ah, itu dia, di atas piano.
Ia berlari ke arah piano dan langsung membuka flap ponsel. “Halo?”
“Halo? Siapa ini?” tanya suara wanita di ujung sana.
Sandy mengerutkan dahi. Ia tidak mengenali suara wanita itu. Maka ia bertanya, “Ini Han Soon-Hee. Anda ingin mencari siapa?”
Suara wanita itu tidak ragu-ragu ketika menjawab, “Bukankah ini ponsel Jung Tae-Woo?”
63
Sandy terkejut. Astaga! Lagi-lagi ia mengambil ponsel yang salah. Ia memutar kepala ke sekeliling ruangan dan melihat ponselnya tergeletak di meja makan. Bagaimana ini?
“Oh... Benar, ini memang ponsel Jung Tae-Woo,” kata Sandy agak gugup. “Akan saya panggilkan dia.”
Wanita di ujung sana tiba-tiba menahannya. “Tunggu sebentar. Anda ini nona yang ada di foto bersama Tae-Woo itu, ya?”
Sandy menahan napas dan berpaling ke arah tangga, berharap Jung Tae-Woo segera muncul.
“Anu... saya...” Sandy sungguh tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia tidak pernah diberitahu bagaimana cara menghadapi orang-orang yang menanyakan hubungannya dengan Jung Tae-Woo.
“Tidak apa-apa,” suara wanita itu berubah ramah. “Aku ibu Jung Tae-Woo.”
Astaga! Ibunya? Pengetahuan ini malah membuat Sandy panik.
“Ah, apa kabar, Bibi?” kata Sandy berusaha terdengar tenang meski sebenarnya ia bergerak-gerak gelisah. Kemudian Sandy menutup ponsel dengan tangan dan berseru memanggil Tae-Woo dengan suaranya yang masih sedikit serak. “Jung Tae-Woo ssi!”
Ia kembali menempelkan ponsel ke telinga dan berkata, “Sebentar lagi Jung Tae-Woo ssi akan turun.”
Ibu Jung Tae-Woo tertawa pelan. “Senang sekali bisa mendengar suaramu walaupun Tae-Woo belum memperkenalkan kita. Dasar anak itu. Tadi kau bilang namamu Han Soon-Hee, bukan? Kedengarannya kau sedang flu. Kau tidak apa-apa?”
“Oh, saya tidak apa-apa.” Tepat pada saat itu ia melihat Jung Tae-Woo menuruni tangga, ia cepat-cepat berlari ke arah laki-laki itu.
“Jung Tae-Woo ssi sudah di sini. Silakan Anda bicara dengannya,” kata Sandy di telepon, lalu menyodorkan ponsel ke Tae-Woo.
Jung Tae-Woo menerima ponsel itu dengan bingung. “Siapa?”
“Ibumu,” bisik Sandy panik.
Tae-Woo mengangkat alis karena terkejut dan menjawab telepon. “Halo, Ibu?” Lalu tiba-tiba ia menjauhkan ponsel dari telinganya. Bahkan Sandy bisa mendengar suara ibu Jung Tae-Woo yang berteriak keras.
Akhirnya Jung Tae-Woo menempelkan ponsel kembali ke telinga dan berkata, “Bukannya aku tidak mau menceritakannya pada Ayah dan Ibu, hanya saja menurutku… Aku tahu… Apa? Aku di rumah. Ya, baiklah. Akan kujelaskan kepada Ayah nanti. Apa? … Dia?”
Sandy agak bingung ketika laki-laki itu menatapnya.
“Sebentar,” kata Jung Tae-Woo, lalu mengulurkan ponsel ke Sandy.
64
Sandy menatap Jung Tae-Woo dan ponsel itu bergantian.
“Ibuku mau bicara denganmu,” kata Jung Tae-Woo sambil meletakkan ponsel ke tangan Sandy. “Tidak apa-apa.”
Sandy menggigit bibir dan menatap Jung Tae-Woo. Kemudian ia menempelkan ponsel itu ke telinga dan menyapa ibu Jung Tae-Woo. Ia mendengarkan perkataan wanita yang lebih tua itu sebentar sambil mengangguk-angguk dan sesekali berkata “baik” dan “saya mengerti”. Akhirnya ia mengucapkan “sampai jumpa” dan menutup ponsel.
“Ibuku bilang apa?” tanya Jung Tae-Woo ketika Sandy mengembalikan ponselnya.
Sandy balas bertanya, “Apa yang kaukatakan pada ibumu tentang aku?”
“Aku bahkan belum sempat mengatakan apa-apa,” kata Jung Tae-Woo. “Ayahku melihat foto-foto kita di internet dan ibuku menelepon untuk menanyakan kebenarannya.”
Sandy hanya mengangguk-angguk. “Oh, foto-foto kita ada di internet juga?”
“Lalu ibuku bilang apa padamu?” tanya Jung Tae-Woo lagi.
Sandy tersenyum. “Katanya aku harus mengawasi makanmu karena kau sering lupa makan kalau sudah sibuk bekerja. Katanya aku harus banyak bersabar kalau menghadapimu, apalagi kalau kau sedang uring-uringan. Katanya sebenarnya kau anak yang baik dan tidak akan membuatku kecewa. Ibumu juga bilang ingin bertemu denganku dan memintamu membawaku ke Amerika untuk menemuinya.”
Jung Tae-Woo mengerang. “Cerewet sekali. Kenapa ibuku begitu baik padamu? Padaku tadi dia malah berteriak-teriak.”
Sandy mengangkat bahu. “Mungkin ibumu lebih suka anak perempuan. Hei, kalau tidak salah, ibumu penulis buku, ya? Aku pernah membaca salah satu bukunya dan aku suka sekali. Ibumu benar-benar berpikir aku pacarmu, ya? Wah, hebat.”
Jung Tae-Woo tidak mengacuhkan kata-kata Sandy dan bertanya, “Kenapa kau menjawab teleponku?”
Sandy berdeham dan menjawab, “Kupikir ponselku yang berbunyi. Tadi kan memang ada yang meneleponku. Sewaktu ponselmu berbunyi, kukira dia menelepon lagi. Sudah kubilang kau harus mengganti nada deringmu.”
“Siapa yang menelepon?”
“Teman,” sahut Sandy sambil memalingkan wajah. “Oh, coba lihat. Sudah waktunya makan siang. Pantas saja aku mulai lapar. Kau juga belum makan, kan?”
Jung Tae-Woo berkacak pinggang dan menunduk menatap lantai. Kemudian ia mengangkat kepala dan berkata, “Kalau begitu, kita pergi makan di luar saja.”
“Hei, kau mau kita berdua dilihat orang? Kau mau membuat hidupku susah?” tanya Sandy.

BAB 5

“BERUNTUNG sekali kita bisa dapat tiket ini. Tempat duduk kita di barisan paling depan, lagi! Kau tahu tidak, tiketnya sudah habis terjual dalam setengah jam! Tapi kurasa itu bukan berita aneh. Sudah empat tahun Jung Tae-Woo tidak mengeluarkan album, makanya aku yakin albumnya kali ini pasti hebat,” kata Young-Mi sambil mencium tiket masuk acara jumpa penggemar Jung Tae-Woo. “Apakah aku harus menelepon Mister Kim dan mengucapkan terima kasih?”
“Ah, tidak usah. Aku sudah berterima kasih padanya,” sahut Sandy cepat-cepat.
Park Hyun-Shik memenuhi janjinya dan memberikan dua lembar tiket kepada Sandy. Tentu saja Sandy langsung mengajak Kang Young-Mi dan karenanya ia harus mengarang cerita tentang asal-usul tiket itu. Ia berkata pada Young-Mi bahwa Mister Kim yang menghadiahkan tiket itu untuknya karena sudah menyelesaikan tugas dengan sempurna. Yang benar saja! Kalau Mister Kim pernah sebaik itu pada orang, namanya sudah pasti bukan Mister Kim. Tapi Young-Mi sama sekali tidak curiga dengan cerita itu.
Mereka tiba di tempat acara jumpa penggemar diselenggarakan dan melihat ratusan gadis remaja berkerumun di pintu masuk. Ternyata penggemar setia Jung Tae-Woo banyak sekali. Mereka membawa spanduk-spanduk besar, balon, dan papan karton yang bertuliskan nama Jung Tae-Woo. Sandy masih belum memahami kenapa orang-orang itu begitu tergila-gila pada Jung Tae-Woo walaupun ia sudah menghabiskan waktu bersama laki-laki itu seminggu terakhir ini. Ia bertanya-tanya apakah ia akan merasa aneh melihat Jung Tae-Woo berdiri di panggung dan menyanyi.
“Kali ini mereka membatasi jumlah penonton,” celetuk Young-Mi. “Acara jumpa penggemar yang sebelumnya jauh lebih ramai.”
Sandy mengalihkan pandangan dari kerumunan penggemar Jung Tae-Woo kepada temannya. “Benarkah?”
Kang Young-Mi mengangguk tegas. “Tentu saja. Aku juga datang ke acara jumpa penggemar yang dulu itu. Wah, yang datang banyak sekali. Kau tidak akan bisa membayangkannya. Waktu itu aku sampai susah bernapas. Tidak heran kalau banyak penggemarnya yang jatuh pingsan di acara itu, malah ada yang sampai meninggal. Aku pernah cerita, kan? Kau ingat, Soon-Hee?”
Sandy mengangguk dan merenung. “Aku pernah dengar tentang kejadian itu, tapi karena belum pernah menghadiri acara seperti ini, aku tidak tahu suasananya seperti apa.”
Kang Young-Mi tersenyum dan menggandeng lengan Sandy. “Walaupun jumlah penontonnya sudah dikurangi, aku yakin mereka tetap liar. Kau akan bisa merasakan suasananya. Oh ya, Jung Tae-Woo masih ingat padamu, tidak ya?”
Sandy menatapnya kaget. “Maksudmu?”
Young-Mi mendecakkan lidah. “Bukankah waktu itu kau sempat ke rumahnya, bahkan dia mengantarkanmu pulang? Hei, kauingatkan saja dia! Sewaktu acara pembagian tanda tangan nanti, bilang kau pernah berjumpa dengannya. Setelah itu kita pasti bisa mengobrol lebih lama. Ya? Ya? Kau harus menarik perhatiannya kepada kita.” “Apa? Bukannya sudah kubilang aku tidak mau orang-orang sampai tahu malam itu aku bertemu dengannya?” sahut Sandy. “Aku tidak mau terlibat gosip semacam itu.” Oh ya, ia tahu benar ucapannya ini bertolak belakang dengan keputusannya membantu Jung Tae-Woo.
“Kalau begitu tidak usah terang-terangan. Kau bisa memberikan petunjuk-petunjuk yang bisa membuatnya—“
“Hei, Kang Young-Mi! Sudahlah, kita masuk saja,” potong Sandy sambil cepat-cepat menarik tangan temannya masuk ke gedung.
Acara dimulai dan Jung Tae-Woo muncul diiringi jeritan para penggemarnya. sandy agak terperangah karena para penggemar jung Tae-Woo benar-benar penuh semangat dan jeritan mereka mengagumkan. Young-Mi juga menjerit dan mengibas-ngibaskan balon yang dipegangnya keras-keras. Melihat temannya seperti itu, Sandy jadi ikut bersorak dan menjerit walaupun suaranya sudah jelas tidak terdengar di antara lengkingan penggemar-penggemar lain yang lebih ahli dalam hal ini. Sandy melihat Jung Tae-Woo berdiri di depan penonton sambil tersenyum lebar dan melambaikan
52
tangan. Pria itu mengenakan kaus hitam, jaket putih, celana panjang putih, juga syal hitam-putih yang dibelinya bersama Sandy.
Kemudian Jung Tae-Woo mulai bernyanyi dan Sandy membiarkan dirinya dipengaruhi para penggemar Jung Tae-Woo yang liar. Ia ikut berteriak-teriak dan mengibas-ngibaskan balon seperti Young-Mi. Sandy mengakui suara Jung Tae-Woo memang bagus, sehingga ia tidak sempat memikirkan apakah memang terasa aneh melihat laki-laki itu di panggung.
Jung Tae-Woo menyanyikan lagu-lagu dari album barunya, diselingi perbincangan singkat dengan para penonton. Para penggemarnya terus saja menjerit-jerit kesenangan, bahkan tidak sedikit yang jatuh pingsan. Yang berikutnya adalah acara pembagian tanda tangan. Sandy dan Young-Mi ikut antre.
Sandy melihat para penggemar satu per satu menjabat tangan Jung Tae-Woo dan tersenyum bahagia, ada juga yang menangis saking gembiranya. Senyum ramah Jung Tae-Woo tidak pernah lepas dari wajahnya. Kadang-kadang ia berbicara pendek dan bercanda sebentar dengan beberapa penggemar. Sandy bertanya-tanya dalam hati apakah laki-laki itu tidak merasa lelah.
Ketika giliran Sandy dan Young-Mi sudah hampir tiba, Sandy bisa mendengar percakapan antara Jung Tae-Woo dan penggemarnya. Umumnya si penggemar akan memuji penampilan dan lagunya, lalu Jung Tae-Woo akan berterima kasih dengan sopan dan ramah sekali, setelah itu ia akan menanyakan nama si penggemar dan membubuhkan tanda tangan di atas CD, poster, atau apa pun yang disodorkan kepadanya.
Ketika akhirnya Sandy berdiri di depan Jung Tae-Woo, laki-laki itu tidak terlihat terkejut saat melihatnya. Sandy mencoba bersikap seperti kebanyakan penggemar Jung Tae-Woo yang lain dan menyodorkan CD Jung Tae-Woo yang baru dibelinya tadi.
“Tae-Woo Oppa, aku suka lagumu,” kata Sandy dengan menggebu-gebu. Ia tidak memedulikan Young-Mi yang terus-menerus menyikutnya.
Ia mendengar Jung Tae-Woo terbatuk pelan dan membubuhkan tanda tangan di sampul depan CD yang ia sodorkan. Kemudian dengan senyumnya yang biasa, ia mengembalikan CD itu kepada Sandy. Sandy langsung meraih dan meremas tangan Jung Tae-Woo yang menjulurkan CD, membuat laki-laki itu agak terperanjat.
“Terima kasih, Tae-Woo Oppa. Terima kasih. Aku cinta padamu,” serunya gembira. Di dalam hati ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah laki-laki itu.
Ketika berjalan kembali ke tempat duduknya, Sandy melihat Park Hyun-Shik berdiri tidak jauh dari Jung Tae-Woo. Park Hyun-Shik juga melihatnya. Sandy membungkukkan badan sedikit untuk memberi salam yang dibalas Park Hyun-Shik
53
dengan senyuman dan acungan jempol. Pasti paman yang satu itu sudah melihat adegan kecil tadi.
Setelah acara tanda tangan selesai, pembawa acara mengumumkan Jung Tae-Woo akan membagikan hadiah khusus kepada sepuluh penggemar.
“Wah! Dia mau membagikan hadiah! Apa ya?” Young-Mi begitu bersemangat sampai tidak berhenti bergerak-gerak di tempat duduknya.
“Topi,” jawab Sandy tanpa sadar.
Jung Tae-Woo yang berdiri di samping pembawa acara berkata ia akan menghadiahkan sepuluh topi yang sudah dibelinya sendiri. Kepala Young-Mi langsung menoleh ke arah Sandy.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya curiga.
Sandy menjadi serbasalah dan buru-buru berkata, “Cuma asal tebak. Biasanya artis suka memberikan hadiah topi. Kalau bukan topi ya gantungan kunci atau bros.”
Young-Mi tersenyum. “Mungkin kau benar. Dulu dia pernah memberikan hadiah bros untuk penggemarnya. Sayangnya waktu itu aku tidak kebagian.”
Topi-topi itu dibagikan kepada penggemar yang memenuhi syarat. Misalnya ketika pembawa acaranya bertanya siapa yang membawa poster resmi Jung Tae-Woo yang pertama, atau penggemar yang datang dari jauh, dan sebagainya. Ada juga yang dipilih secara acak dengan melemparkan bola, dan barang siapa yang menangkap bola itu akan mendapatkan hadiah. Semua orang bersenang-senang termasuk Sandy dan Young-Mi.
“Nah, sekarang kami hanya punya satu topi terakhir,” kata pembawa acara yang disambut jeritan para penggemar. Entah itu jeritan kecewa atau bahagia karena bagi telinga Sandy jeritan penggemar Jung Tae-Woo terdengar sama saja.
“Itu punyaku!” seru Young-Mi sekeras-kerasnya, berusaha mengalahkan teriakan penggemar lain sambil melambai-lambaikan kedua tangan ke arah si pembawa acara.
“Mungkin kalian ingat, sebelum acara dimulai kami meminta kalian menuliskan nomor ponsel kalian pada secarik kertas dan memasukkannya ke kotak besar yang di sana itu. Kalian tahu apa maksudnya?” tanya si pembawa acara.
terdengar gemuruh gumaman dari para penonton sementara mereka melihat ke kanan-kiri dan bertanya-tanya.
“Saya akan menjelaskannya,” kata si pembawa acara lagi dan suasana pun menjadi hening. “Begini, Jung Tae-Woo akan memilih salah satu nomor telepon di dalam kotak itu secara acak dan dia akan menghubungi nomor telepon itu. Barang siapa yang ponselnya nanti berbunyi, majulah ke depan, dan topi terakhir ini akan menjadi miliknya. Sekarang kalian harus memegang ponsel kalian dan pastikan ponsel kalian dalam keadaan aktif.”
54
Semangat para penonton melambung tinggi dan mereka sibuk mengeluarkan ponsel mereka. Sandy merasa ia sudah menjadi penggemar fanatik karena ia juga sedang memegang ponselnya penuh harap seperti Young-Mi.
“Sudah siap? Kita mulai ya?” seru Jung Tae-Woo yang disambut jeritan para penggemar.
Ia memasukkan tangannya ke kotak besar itu dan mengaduk-aduk, lalu mengeluarkan secarik kertas kecil. Para penggemar masih terus menjerit-jerit. Lalu Jung Tae-Woo mengeluarkan ponselnya sendiri dan membuka flap-nya. Jeritan ribuan penggemarnya semakin menjadi-jadi. Pembawa acara pun harus menenangkan para penonton dengan berkata mereka tidak mungkin bisa mendengar dering telepon kalau semua orang terus menjerit sepenuh hati seperti itu. Akhirnya suasana kembali hening, kini hanya terdengar bisikan lirih di sana-sini.
Jung Tae-Woo menekan-nekan tombol ponsel sambil melihat kertas kecil di tangannya, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga. Kertas kecil tadi dimasukkan kembali ke kotak.
Detik-detik menunggu hubungan tersambung terasa begitu lama. Semua roang di sana menatap ponsel mereka penuh harap. Tiba-tiba terdengar nada panggil.
“Astaga!” Sandy berteriak kaget ketika ponsel yang digenggamnya berbunyi nyaring.
“Soon-Hee, ponselmu!” Young-Mi menjerit sambil tertawa histeris.
Para penonton mulai bersuara dan pembawa acara menyuruh Sandy berdiri dan menjawab ponselnya.
“Nona yang memakai baju biru, coba dijawab dulu. Apakah benar yang menelepon Jung Tae-Woo?”
Sandy sebenarnya tidak perlu menjawab karena di layar ponselnya muncul tulisan “JTW”, nama yang disimpannya untuk nomor ponsel Jung Tae-Woo. Memang benar Jung Tae-Woo yang meneleponnya, tapi Sandy tetap membuka flap ponsel dan menempelkannya ke telinga. Walaupun suasana saat itu riuh sekali karena orang-orang bersorak dan bertepuk tangan, ia masih bisa mendengar suara Jung Tae-Woo di telepon yang berkata, “Hei, majulah ke depan.”
Young-Mi mencengkeram lengan Sandy dan mengguncang-guncang keras tubuhnya. Sandy heran dari mana asal tenaga temannya itu. Akhirnya ia berhasil membebaskan diri dari temannya dan maju dengan dikawal dua penjaga. Jantungnya berdebar keras karena ini kali pertama baginya berdiri di depan orang banyak yang terus bersorak dan menjerit. Ia bolak-balik membungkukkan badan ke arah para penggemar juga kepada pembaca acara di panggung.
55
Ketika Sandy berdiri di depan Jung Tae-Woo, ia menyadari baik Jung Tae-Woo ataupun pembawa acara tidak memegang topi. Ia melihat si pembawa acara memberi isyarat kepada salah seorang staf yang berdiri di pojok, tapi anggota staf itu menggeleng.
Ada apa ini? Tidak ada topi? Sandy yakin mereka sudah membeli sepuluh buah dan ia tadi menghitung ada sembilan topi yang sudah dihadiahkan. Pasti masih tersisa satu topi. Jangan-jangan Jung Tae-Woo mau mempermainkannya.
Si pembawa acara terlihat bingung tapi mencoba bersikap tenang. Namun Jung Tae-Woo tiba-tiba berkata, “Wah, sepertinya topi yang terakhir hilang. Saya benar-benar minta maaf. Bagaimana ya?”
Para penonton terdiam dan Sandy menatap Jung Tae-Woo dengan mata disipitkan. Pandangan curiga. Kalau Jung Tae-Woo memang sedang mempermainkannya, ini benar-benar tidak lucu. Ia sudah gugup sekali berdiri di bawah sinar lampu seperti ini dan sekarang ia harus menerima permainan Jung Tae-Woo?
Si pembawa acara ikut menimpali, “Ya, maaf sekali. Sepertinya memang topi yang terakhir hilang. Kami sedang mencarinya sekarang.”
Sandy merasa seperti orang tolol, hanya berdiri diam di depan semua orang. Ia memutuskan sebaiknya ia kembali ke tempat duduknya. Ketika ia membalikkan tubuh, Jung Tae-Woo menahannya.
“Tunggu dulu,” katanya sambil tersenyum meminta maaf. “Karena sudah tidak ada topi, bagaimana kalau kuberikan ini saja?”
Jung Tae-Woo melepaskan syal di lehernya dan melilitkannya di leher Sandy. Para penonton pun kembali berteriak dan menjerit. Sandy memandang syal bermotif kotak-kotak hitam-putih yang sekarang melilit lehernya. Ia menyentuh syal itu dan mendongak menatap Jung Tae-Woo dengan tercengang. Laki-laki itu sedang tertawa dan tawa di wajah itu membuat Sandy akhirnya ikut tersenyum.
“Waah... kau beruntung sekali, Soon-Hee! Kau memang tidak mendapat topi, tapi kau mendapat syal yang dipakainya. Aduh, aduh, jantungku... Kalau aku jadi kau, aku pasti tidak akan bisa tidur malam ini,” kata Young-Mi antusias dalam perjalanan pulang dari acara tadi. Mereka berdua duduk di barisan belakang bus yang tidak terlalu ramai.
“Ya, aku beruntung sekali,” kata Sandy menyetujui sambil tersenyum. Ia terus memandangi syal yang melilit lehernya. Tadi ia sempat mengira Jung Tae-Woo sedang mempermainkannya, tpai ternyata tidak begitu. Tadinya, kalau dugaan jelek Sandy terbukti benar, ia berniat meninju Tae-Woo saat itu juga.
56
Tiba-tiba Young-Mi menegakkan punggung dan mencengkeram lengan Sandy. “Tunggu dulu, Soon-Hee. Kau punya nomor telepon Jung Tae-Woo!”
Itu bukan pertanyaan dan Sandy hanya bisa mengerjapkan mata dengan bingung.
Young-Mi menepuk lengan Sandy dan berseru, “Tadi dia kan menghubungi ponselmu dengan ponselnya, jadi artinya di ponselmu sekarang pasti masih ada nomor ponselnya, kan?”
“Tidak!” bantah Sandy cepat-cepat. Apa yang harus dikatakannya? “Tadi... tadi sewaktu aku kembali ke tempat duduk setelah menerima hadiah, Jung Tae-Woo sendiri yang bilang ponsel itu milik salah satu anggota stafnya. Lagi pula, coba pikir, mana mungkin Jung Tae-Woo bisa sembarangan membiarkan nomor ponselnya diketahui orang tak dikenal?”
Young-Mi mengangguk-angguk. “Masuk akal juga.”
Sandy mengembuskan napas lega dan menggerutu dalam hati. Sepanjang kesepakatan ini, Jung Tae-Woo sudah banyak membuat masalah sendiri, tapi justru Sandy yang harus memperbaikinya. Mungkin laki-laki itu perlu ditinju.
“Hei, coba kulihat CD-mu yang ditandatangani tadi,” pinta Young-Mi sambil mengeluarkan CD miliknya sendiri.
Sandy mengeluarkan CD-nya dari dalam tas dan menyerahkannya kepada temannya itu.
“Lihat, dia menulis „Untuk Kang Young-Mi... dari Jung Tae-Woo‟,” kata Young-Mi sambil menunjukkannya kepada Sandy. Ia memekik senang dan mengelus-elus kotak CD-nya. Sandy hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan temannya. Kemudian Young-Mi beralih membaca tulisan di sampul depan CD milik Sandy. “Untuk Sandy... dari Jung Tae-Woo.” Ia terdiam sesaat, lalu bertanya, “Sandy?”
Sandy langsung menoleh. “Kenapa?”
“Memangnya tadi kau memberitahunya nama Indonesia-mu, ya?” tanya Young-Mi.
“Oh, itu...” Sandy agak gelagapan. “Ya, sepertinya begitu.”
Young-Mi mengerutkan dahi dan menggeleng. “Tidak, tidak. Sepertinya kau bahkan tidak menyebutkan namamu.”
“Masa sih?” ujar Sandy kaget. Ia mulai panik dan cepat-cepat memutar otak, berusaha keras mengingat acara tanda tangan tadi.
Young-Mi meneruskan, “Aku berdiri tepat di belakangmu waktu itu. Kau hanya bilang kau suka lagunya.”
Sandy ingat, tapi ia berusaha membantah, “Ah, tidak. Aku bilang „Apa kabar? Namaku Sandy. Tae-Woo Oppa, aku suka lagumu‟. Aku yakin kok. Kalau tidak, dari mana dia tahu namaku?”
57
Kenapa temannya yang satu ini pintar sekali sih? Untuk sesaat Sandy merasa takut akan ketelitian Kang Young-Mi. Lama-kelamaan, kalau ia dan Jung Tae-Woo terus melakukan kesalahan kecil seperti ini, ia akan kehabisan alasan.
Young-Mi berpikir, lalu akhirnya mengangguk. “Benar juga ya? Waktu itu berisik sekali, jadi mungkin aku tidak mendengarnya. Sudahlah, tidak penting. Ngomong-ngomong, lagu yang dinyanyikannya tadi benar-benar bagus ya?”
“Acara hari ini sukses sekali. Kuucapkan selamat untukmu,” kata Park Hyun-Shik. Ia dan Tae-Woo sudah kembali ke kantor manajemen. Dengan lega ia menyandarkan punggung ke kursi kerja dan menatap Tae-Woo dengan gembira.
Tae-Woo menoleh ke arah manajernya dan tersenyum. “Memang. Aku senang kita bisa melewatinya dengan baik sekali, tidak seperti yang dulu.”
“Semuanya baik-baik saja, kau tidak usah cemas,” kata Park Hyun-Shik. Ia mengembuskan napas dan berkata, “Aku tahu kau sengaja menelepon Sandy tadi. Nomor yang tertera di kertas itu bukan nomor ponsel Sandy, kan?”
Tae-Woo tertawa. “Memang. Tadi aku berniat mengerjainya, tapi tidak jadi.”
Park Hyun-Shik ikut tertawa dan melonggarkan simpul dasinya. “Aku sudah merasa aneh sewaktu kau memintaku menyimpan topi terakhir itu.”
Tae-Woo bangkit dari kursinya. “Hyong simpan di mana topi itu?”
Park Hyun-Shik mengeluarkan topi yang ditanyakan dari balik jasnya dan melemparkannya kepada Tae-Woo.
Tae-Woo menangkap topi kain kuning itu dengan santai dan memandanginya. Ia ingat ia dan Sandy sempat berbeda pendapat tentang topi kuning yang satu ini. Menurut Sandy topi itu bagus, sedangkan menurutnya warna kuningnya terlalu mencolok. Tapi sekarang kalau dipikir-pikir, topi kuning ini memang tidak jelek.
“Hyong aku pulang dulu,” katanya sambil melambaikan topinya.

“Ya, istirahat yang banyak. Minggu depan jadwalmu sangat padat,” Park Hyun-Shik mengingatkan.

BAB 4 PART 2

Sandy merasa tidak perlu memberitahu Jung Tae-Woo bahwa ia tadi bersama Lee Jeong-Su. Bagaimanapun, masalahnya dengan Lee Jeong-Su adalah masalah pribadi yang tidak ada hubungannya dengan Jung Tae-Woo maupun Park Hyun-Shik. Ditambah lagi kenyataan bahwa pertemuan dengan Lee Jeong-Su tadi hanyalah perbincangan singkat tanpa arti khusus.
Jung Tae-Woo menghentikan mobil di depan toko pakaian yang kelihatan mewah di Apgujeong-dong, salah satu kawasan paling trendi di Seoul, dipenuhi restoran kelas atas dan toko pakaian dari para desainer terkenal. Sandy tahu toko itu karena ia sering melewatinya. Kadang-kadang ia berhenti dan mengagumi pakaian yang dipajang di etalasenya, tapi tidak pernah sekali pun ia menapakkan kakinya di dalam toko itu. Ia tidak perlu masuk ke toko itu untuk tahu bahwa harga barang yang dijual di toko itu pasti mahal, sama seperti butik Mister Kim. Ia lebih suka berbelanja di Meyong-dong yang sering disebut Ginza-nya Seoul, salah satu kawasan perbelanjaan yang populer. Harga barang-barang di Myeong-dong memang tidak jauh berbeda dengan harga barang di Apgujeong-dong, tetapi Sandy merasa lebih nyaman karena sudah terbiasa berbelanja di sana.
Sandy mencondongkan badan dan mengamati bangunan itu. “Hei, kau mau masuk ke sana? Memangnya tidak apa-apa kalau kau dikenali orang? Lalu aku bagaimana? Aku tidak ingin terlihat bersamamu.”
Jung Tae-Woo melepaskan sabuk pengamannya dan mendesah. Ia menatap Sandy dengan kening berkerut, lalu berkata, “Aku ini bukan narapidana yang tidak boleh ke mana-mana. Lagi pula apa gunanya jadi artis kalau tidak ingin dikenal orang?”
Sandy masih tidak berniat melepas sabuk pengamannya. “Oh, begitu? Kau merasa senang kalau orang-orang mengenalimu, jadi histeris, lalu jatuh pingsan di hadapanmu?”
“Orang-orang tidak akan pingsan begitu melihatku,” kata Jung Tae-Woo. “Kau tenang saja. Aku kenal pemilik toko ini. Dia tidak akan banyak bertanya. Aku sering ke sini dengan staf manajemenku. Soal dirimu… anggap saja kau salah satu anggota stafku.”
Jung Tae-Woo membuka pintu, lalu mulai beranjak dari kursi ketika ia berhenti dan menoleh ke arah Sandy lagi. “Tunggu dulu. Kau kan memang anggota stafku. Kau bekerja untukku, bukan? Ayo, turun.”
Sandy mengangkat bahu, melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil.
“Sebenarnya kau ingin beli apa?” tanya Sandy bingung. Ia melihat-lihat barang-barang yang dijual di toko itu dan ia benar, harganya sama sekali tidak murah.
47
“Entahlah, aku belum tahu,” jawab Jung Tae-Woo sambil melepas kacamata gelapnya. “Bagaimana kalau kau saja yang pilih. Ayo, kita naik.”
“Hei, Jung Tae-Woo!”
Sandy dan Jung Tae-Woo serentak menoleh ke arah seruan penuh semangat itu. Ternyata suara itu milik laki-laki yang tampan sekali. Sandy merasa pernah melihat laki-laki itu. Di mana ya? Ah! Di televisi. Laki-laki itu kan bintang iklan pakaian olahraga. Tidak salah lagi.
“Apa kabar, Danny?” Jung Tae-Woo menyapa dan menepuk punggungnya.
Sandy menjauh dari sana dan membiarkan kedua laki-laki itu berbincang-bincang. Kalau tidak salah, ia memang pernah dengar Jung Tae-Woo berteman baik dengan Danny. Walaupun sudah berdiri agak jauh dan tersembunyi di balik rak pakaian, ia masih bisa mendengar jelas pembicaraan kedua laki-laki itu.
“Hei, kauganti nomor ponselmu, ya?” Sandy mendengar Danny bertanya kepada Jung Tae-Woo.
“Tidak. Kenapa?”
“Beberapa hari yang lalu aku meneleponmu, tapi yang menjawab wanita dan dia bilang dia tidak kenal denganmu.”
Sandy menutup mulut dengan sebelah tangan. Ia ingat hari itu, hari ketika ponselnya dan ponsel Jung Tae-Woo tertukar. Saat itu ia mengira orang itu salah sambung. Sandy mengalihkan tatapan ke arah Jung Tae-Woo, penasaran bagaimana jawaban pria itu.
“Kau pasti salah sambung. Nomor ponselku tetap seperti yang dulu,” katanya tenang sambil tersenyum.
“Tidak mungkin salah sambung,” Danny bersikeras. “Tapi sudahlah, itu bukan masalah. Kakakku terus menanyakan kabarmu. Katanya sudah lama kau tidak ke sini.”
“Maaf. Aku memang agak sibuk belakangan ini.”
Danny menatap Jung Tae-Woo penuh selidik. “Oh ya, aku baru ingat. Kenapa kau tidak cerita padaku?”
Jung Tae-Woo mengangkat alis. “Tentang apa?”
“Pacarmu.”
Sandy menahan napas.
Jung Tae-Woo terlihat bingung. “Pacar? Pacar yang man—Aah, itu…”
Bagaimana sih? Sandy merasa kesal. Jung Tae-Woo selalu khawatir Sandy akan membocorkan rahasia mereka, tapi sekarang ia sendiri yang hampir membongkar semuanya.
Danny tertawa. “Masa kau lupa pacarmu sendiri?”
48
Jung Tae-Woo ikut tertawa. “Lain kali saja kuceritakan. Nah, itu ada yang memanggilmu. Sudah, pergilah, tidak usah melayaniku.”
“Hei, tadi itu Danny yang bintang iklan itu ya?” tanya Sandy ketika Jung Tae-Woo sudah berada di sampingnya.
“Mmm. Memangnya kenapa?” Jung Tae-Woo balas bertanya.
“Ternyata dia tampan sekali,” kata Sandy. “Aku tidak percaya aku bisa melihat aslinya. Seharusnya tadi aku minta tanda tangan, siapa tahu Young-Mi mau.”
Jung Tae-Woo memandangnya, lalu bergumam pelan. “Untuk temanmu atau…”
“Hm?”
“Ah, tidak…. Sudah memilih sesuatu?”
“Katanya kau ingin memilih sendiri,” protes Sandy, tapi Jung Tae-Woo sudah berjalan pergi. Sandy membiarkan dirinya beberapa saat memandang sosok belakang Danny yang menjauh, lalu membalikkan tubuh menyusul Jung Tae-Woo yang sudah naik ke lantai dua toko itu.
“Ini tokonya?” tanya Sandy lagi setelah berhasil menyusul Jung Tae-Woo.
“Apa?” Jung Tae-Woo sibuk melihat-lihat aksesori yang dijual di sana.
“Maksudku, toko ini milik Danny?”
“Sebenarnya milik kakak perempuannya, tapi Danny sering ada di sini,” sahut Jung Tae-Woo. Lalu ia tiba-tiba menoleh dan menatap Sandy dengan pandangan menyelidik. “Kenapa tanya-tanya?”
Sandy membalas tatapan Jung Tae-Woo tanpa merasa bersalah. “Hanya ingin tahu. Eh, kau kenal siapa lagi? Kenap mantan personel H.O.T? Shinhwa?”
Jung Tae-Woo mendesah keras dan berkacak pinggang. “Kalau nona besar tidak lupa, kau di sini untuk membantuku memilih sesuatu!”
Sandy mencibir. “Oke, oke. Bagaimana kalau bros?” katanya sambil menunjuk barisan bros cantik yang dipajang di kotak kaca.
“Aku sudah pernah memberikan bros untuk penggemarku dulu,” kata Jung Tae-Woo.
“Aah, benar juga.” Sandy mengangguk-angguk sambil terus mengamati bros-bros itu. “Waktu itu sudah pernah ya…”
Beberapa detik berlalu tanpa tanggapan, meski begitu Sandy merasa Jung Tae-Woo sedang menatapnya. Sandy pun mengangkat kepala dan melihat ke arah laki-laki itu. Ah, sepertinya ia keliru, Tae-Woo sedang memandang ke arah lain.
“Kau kenapa?” tanya Sandy.
Jung Tae-Woo menoleh dan menunjuk ke bagian topi. “Kita ke sana.”
Sandy mengikuti laki-laki itu, namun ketika ia melewati salah satu manekin, langkahnya tiba-tiba terhenti. Mata Sandy tertuju pada syal panjang yang dipakaikan
49
pada manekin itu. Syal bermotif kotak-kotak hitam-putih yang kelihatan bagus sekali. Sandy menjulurkan tangan dan menyentuh syal itu.
“Sedang apa kau di sini?” Tiba-tiba Jung Tae-Woo sudah berdiri di belakangnya.
Sandy menoleh ke belakang dan berkata, “Lihat syal ini. Bagus, kan?”
“Menurutmu bagus?” tanya Jung Tae-Woo.
Sandy mengelus-elus syal itu. “Tentu saja. Aku suka sekali motif dan warnanya.”
Jung Tae-Woo melepaskan syal itu dari manekin dan memakainya. Ia berjalan ke cermin dan mematut diri. Sandy mengikuti dari belakang sambil menggerutu dalam hati, kenapa jadi Jung Tae-Woo yang mencoba memakainya?
“Memang bagus,” Jung Tae-Woo mengakui. “Cocok untukku, bukan?”
Sandy ikut melihat bayangan Jung Tae-Woo di cermin dan harus mengakui pria itu memang terlihat keren sekali dengan syal itu.
“Cocok. Kau bisa memakainya pada acara jumpa penggemarmu nanti,” usul Sandy sambil mengalihkan pandangan.
“Boleh juga,” kata Jung Tae-Woo dan berputar dari cermin. “Lalu soal hadiah untuk penggemar, kupikir sebaiknya mereka kubelikan topi saja. Bagaimana?”

BAB 4 PART 1

“HYONG, hari ini tidak ada jadwal kerja, kan? … Aku sedang di luar. Ada sedikit urusan… Oke, sampai jumpa.”
Tae-Woo melempaskan earphone dari telinga dan kembali memusatkan perhatian pada jalanan di depannya.
“Sepertinya di sini kampusnya,” gumamnya pada diri sendiri sambil menghentikan mobil di tepi jalan. Ia membuka flap ponselnya dan baru akan menekan angka sembilan ketika gerakannya terhenti.
Ia melihat Sandy melalui kaca jendela mobilnya. Gadis itu sedang berjalan keluar dari gerbang kampus bersama laki-laki tinggi besar. Tae-Woo terus mengamati mereka ketika laki-laki itu membukakan pintu mobilnya untuk Sandy dan gadis itu masuk.
Tae-Woo menutup ponsel, melemparkannya ke kursi penumpang di sampingnya, lalu memutar mobilnya untuk mengikuti mobil putih itu.
Ternyata mereka tidak pergi jauh. Mobil putih itu berhenti di depan kafe dan kedua orang itu turun. Tae-Woo menghentikan mobil di seberang jalan dan tetap diam di dalam mobil. Ia melihat Sandy dan laki-laki itu masuk ke kafe dan, untungnya, menempati meja di dekat jendela. Dari mobilnya, Tae-Woo bisa melihat mereka berdua dengan jelas. Si laki-laki tidak henti-hentinya tersenyum dan berbicara, Sandy juga sering tersenyum dan sesekali menanggapi kata-kata pria itu.
Tae-Woo meraih ponselnya dan menekan angka sembilan. Begitu mendengar suara operator telepon, Tae-Woo langsung menutup flap ponselnya dengan keras.
“Kenapa ponselnya dimatikan?” tanyanya kesal.
44
Tae-Woo memerhatikan Sandy yang sedang tersenyum kepada pelayan yang meng-antarkan minuman. Ia memalingkan wajah lalu bertanya pada dirinya sendiri dengan nada heran, “Kenapa aku harus peduli?”
Ia menghidupkan mesin dan menjalankan mobil dengan kasar sehingga rodanya berdecit.
“Kau mau pulang? Bagaimana kalau kuantar?”
Sandy menggeleng dan tersenyum. “Tidak usah, Jeong-Su ssi. Aku belum mau pulang.”
Lee Jeong-Su berdiri di samping mobil putihnya dan bertanya lagi, “Kalau begitu kau mau ke mana? Aku bisa mengantarmu.”
Sandy menggeleng lagi. “Tidak usah. Kau pasti sibuk. Pergi saja dulu.”
Karena tidak bisa membujuk Sandy, Lee Jeong-Su akhirnya melambaikan tangan dan masuk ke mobil.
Sandy memerhatikan mobil putih itu membelok di sudut jalan dan mengembuskan napas. Ia berbalik dan mulai berjalan pelan. Karena teringat ponselnya yang tadi ia matikan, ia merogoh tas dan menyalakan alat komunikasi itu segera setelah menemukannya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
“Halo?” katanya, menempelkan ponsel ke telinga.
“Ini aku,” ujar suara di seberang sana.
“Jung Tae-Woo ssi?” Sandy agak heran mendengar suara Jung Tae-Woo.
“Kau di mana sekarang?” tanya Jung Tae-Woo cepat.
“Aku… oh…” Sandy melihat sekelilingnya dan menyebutkan tempatnya.
“Tunggu di sana.” Lalu tanpa menunggu jawaban, Jung Tae-Woo langsung memutuskan hubungan.
Sandy menatap ponselnya dengan bingung. Orang aneh. Tunggu di sini? Kenapa? Dia mau datang?
Sandy sedang mempertimbangkan apakah ia harus menunggu sambil berdiri di tepi jalan atau masuk lagi ke kafe ketika mobil merah berhenti tepat di depannya. Jendela mobil itu diturunkan dan Sandy membungkukkan badan untuk melihat ke dalam. Ia melihat Jung Tae-Woo yang berkacamata gelap seperti biasa duduk di balik kemudi.
“Masuk,” kata laki-laki itu singkat.
Sandy mendengus pelan mendengar nada memerintah dalam suara Jung Tae-Woo, tapi ia masuk juga ke mobil.
“Kenapa cepat sekali datangnya? Tadi kau sedang ada di sekitar sini?” tanya Sandy ringan ketika mereka sudah melaju di jalan.
45
Tae-Woo tidak menjawab, hanya bergumam tidak jelas.
“Kenapa mencariku? Kita harus berfoto?” tanya Sandy lagi sambil menatap teman seperjalanannya yang entah kenapa agak aneh hari ini.
Sepertinya Jung Tae-Woo tidak bisa menahan emosi lagi karena ia mulai menggerutu. “Aku mencoba menghubungimu dari tadi. Kenapa ponselmu dimatikan? Bukankah Hyong sudah bilang padamu kau harus siap setiap saat kalau-kalau kami menghubungimu?”
Sandy menatap Jung Tae-Woo dengan jengkel. “Baiklah, aku minta maaf. Aku memang baru mengaktifkan kembali ponselku. Tapi bukankah sekarang kau sudah berhasil menghubungiku?”
“Kau tadi sedang apa sampai tidak bisa menjawab telepon?” tanya Jung Tae-Woo sambil tetap menatap lurus ke jalan.
“Sedang bersama teman,” jawab Sandy, lalu mengalihkan pembicaraan. “Kenapa kau mencariku? Kita mau ke mana?”
Sandy melihat Jung Tae-Woo agak ragu sesaat, lalu laki-laki itu berkata, “Aku sampai lupa apa yang ingin kukatakan saking terlalu lamanya menunggumu. Tapi sebaiknya kau menemaniku membeli sesuatu.”
“Beli apa?”
“Hadiah untuk penggemarku,” sahut Jung Tae-Woo sambil memandang Sandy sebentar, lalu kembali menatap ke depan. “Untuk dibagikan dalam acara jumpa penggemar Sabtu nanti.”
“Untuk semua orang?”
“Tidak, hanya untuk beberapa orang yang terpilih.”
“Ooh.” Sandy mengangguk-angguk. “Kenapa kau baik sekali? Kukira artis tidak membeli sendiri hadiah untuk penggemarnya. Kupikir hal-hal semacam itu diurus orang lain.”
“Aku lebih suka membelinya sendiri. Karena kebetulan kau tidak sibuk, kau bisa membantuku.”
Sandy menoleh cepat. “Hei, siapa bilang aku tidak sibuk? Dua jam lagi aku harus menemui Mister Kim. Lagi pula menurut perjanjian, kita hanya akan berfoto bersama. Tidak pernah disebut-sebut soal aku harus menemani atau membantumu mengerjakan apa pun.”
“Bukankah sejak awal sudah kukatakan, kita anggap saja kesepakatan ini sama dengan aku menawarkan pekerjaan untukmu. Kau tidak menolak. Jadi intinya, kau sekarang bekerja untukku. Bukankah begitu?” kata Jung Tae-Woo sambil tersenyum. “Soal Mister Kim-mu itu, tidak usah cemas. Kau akan bisa menemuinya tepat waktu. Sudah kubilang aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu di sana.”

Senin, 08 Desember 2014

BAB 3 PART 2

“Kau bisa baca sendiri beritanya di koran,” sahut Jung Tae-Woo sambil membolak-balikkan potongan daging di atas panggangan.
Sandy meringis, lalu menoleh ke arah Park Hyun-Shik yang sedang meneguk soju. “Paman tidak makan?” tanyanya ketika melihat pria itu tidak memegang sumpit.
Park Hyun-Shik meraih sumpit dan berkata, “Soon-Hee ssi…”
“Kalian boleh memanggilku Sandy saja,” Sandy menyela dengan cepat dan memandang Park Hyun-Shik dan Jung Tae-Woo bergantian.
Jung Tae-Woo mendengus pelan, tapi tidak menjawab.
Pakr Hyun-Shik berdeham dan melanjutkan, “Oke, kalau memang kau tidak keberatan. Sandy, sepertinya aku belum pernah bertanya, tapi apa kau punya pacar sekarang ini?”
Sandy tersedak mendengar pertanyaan Park Hyun-Shik. “Pacar?”
Park Hyun-Shik cepat-cepat berkata, “Aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu, tapi kalau kau memang punya pacar, itu bisa agak menyulitkan. Kau tidak mungkin bisa menyembunyikan hal ini darinya.”
Sandy mengangguk-angguk pelan. “Oh,” gumamnya. “Tenang saja, aku tidak punya pacar.”
“Siang tadi ketika aku meneleponmu, bukankah kau sedang bersama pacarmu?” Jung Tae-Woo menimpali.
Sandy menoleh ke arahnya. “Siang tadi? Aah… dia bukan pacarku.”
“Kedengarannya seperti pacar,” Jung Tae-Woo bersikeras.
Sandy menatap kedua laki-laki itu dengan mata disipitkan. “Baiklah,” akhirnya ia berkata. Ia meletakkan sumpitnya di meja. “Karena kalian curiga begitu, aku akan mengatakan yang sebenarnya.”
“Dia pacarmu?” tanya Jung Tae-Woo langsung.
“Bukan,” Sandy menegaskan. “Aku dan dia memang pernah berhubungan, tapi hubungan itu sudah berakhir delapan bulan yang lalu.”
“Lalu hubungan kalian sekarang masih baik?” Kali ini Park Hyun-Shik yang bertanya.
“Susah mengatakannya,” sahut Sandy agak bingung. Ia bertopang dagu dan mengerutkan kening. “Sebenarnya setelah berpisah, kami tidak bertemu lagi. Kemudian kira-kira sebulan lalu dia mulai menghubungiku. Aku juga tidak tahu apa maunya.”
“Itu artinya dia ingin kembali kepadamu,” kata Jung Tae-Woo. “Kenapa kau memutuskan dia waktu itu? Itu juga kalau kami boleh tahu.”
Alis Sandy terangkat. “Siapa bilang aku yang memutuskannya? Dia sendiri yang minta putus dariku karena dia tertarik pada wanita lain.”
40
Kedua laki-laki itu menatapnya dengan pandangan aneh. Apakah pandangan itu disebabkan rasa kasihan? Sandy memang merasa dirinya dulu sangat menyedihkan. Pacar yang ia percayai meninggalkannya demi wanita lain.
“Tidak usah melihatku seperti itu. Aku tidak apa-apa. Waktu itu aku memang sedih, tapi aku bukan tipe wanita yang histeris. Ada banyak hal yang bisa membuatku bahagia. Banyak sekali…”
Merasa canggung telah membicarakan masalah pribadinya pada kedua pria itu, sebelum Sandy bisa menghentikan dirinya sendiri, bibirnya terus mengoceh, “Mmm, aku suka mendengarkan musik, suka keripik kentang, bunga, kembang api, hujan, dan bintang. Jadi waktu itu untuk menenangkan diri, aku makan banyak sekali keripik kentang dan aku sering membeli bunga untuk diriku sendiri. Kedengarannya mungkin aneh, tapi perasaanku langsung jadi lebih baik.”
“Lalu kenapa sekarang dia mendekatimu lagi?” desak Jung Tae-Woo.
Sandy mengangkat bahu. “Mana aku tahu.”
“Mungkinkah dia sudah berpisah dengan wanita yang dulu itu?” tanya Park Hyun-Shik.
Sandy memiringkan kepala. “Sepertinya belum.”
“Bagaimana denganmu?” tanya Jung Tae-Woo sambil menatap Sandy ingin tahu.
Sandy membalas tatapannya. “Bagaimana apanya?”
“Kau masih mengharapkannya?”
Sandy terdiam sejenak, lalu ia mengetukkan sumpitnya ke piring dan berkata, “Sudahlah, jangan dibicarakan lagi. Yang penting sekarang aku tidak punya pacar dan tidak akan menyulitkan kalian berdua. Ayo, makan lagi.”
Jung Tae-Woo masih terlihat tidak puas, tapi kali ini Sandy berhasil mengendalikan mulutnya. Bagaimanapun, ia kan baru mengenal kedua laki-laki itu, rasanya tidak nyaman membicarakan masalah pribadinya dengan mereka.
Sandy berdeham untuk mengalihkan topik, lalu bertanya, “Lalu rencana selanjutnya apa? Paman akan memotret kami lagi?”
Park Hyun-Shik menggeleng. “Tidak. Untuk saat ini kau boleh bersantai dulu. Meski kau harus tetap siap seandainya kami tiba-tiba butuh bantuanmu.”
“Aku mengerti,” ujar Sandy. “Yang jadi bosnya kan kalian berdua.”
“Oh ya, hari Sabtu nanti Tae-Woo akan mengadakan jumpa penggemar untuk mempromosikan album barunya,” kata Park Hyun-Shik tiba-tiba. “Kau mau datang?”
Sandy tersedak dan terbatuk-batuk. Sumpitnya terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.
41
Sandy memungut sumpit yang jatuh dan mengulurkannya kepada Park Hyun-Shik. “Maaf, sepertinya aku makan terlalu buru-buru,” katanya sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya yang basah karena keringat dingin ke celana jins.
“Tidak perlu rakus seperti itu,” kata Jung Tae-Woo. Sama sekali tidak membantu.
Sandy tidak mengacuhkannya dan bertanya pada Park Hyun-Shik, “Jumpa penggemar? Seperti yang dulu?”
Jung Tae-Woo tertegun menatap daging panggangnya. Ia kaget Sandy tahu soal jumpa penggemar terakhir yang dilakukannya sebelum mengambil jeda dari dunia selebriti.
“Tidak, tidak seperti dulu,” Park Hyun-Shik cepat-cepat menyela sebelum suasana hati Tae-Woo berubah menjadi buruk. “Kali ini tidak seramai dulu. Kami akan membatasi jumlah penonton. Bagaimana? Kau mau datang?”
“Oh, begitu? Hmmm…” Sandy menerima sumpit baru yang diulurkan Park Hyun-Shik. “Aku boleh datang?”
Jung Tae-Woo mendengus dan meneguk soju-nya, rupanya Park Hyun-Shik terlambat menyelamatkan situasi. “Untuk apa kau datang? Memangnya kau termasuk penggemarku?”
“Memang bukan,” jawab Sandy terus terang, lalu menjepit daging panggang dan memasukkannya ke mulut. Ia melihat Jung Tae-Woo menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya, seolah menantinya memberi alasan.
Entah kenapa sandy merasa tidak nyaman dengan cara Tae-Woo memandangnya itu, ia pun berdecak. “Ya sudah, aku tidak akan datang. Lagi pula aku juga sudah bosan melihatmu. Aneh juga, kenapa teman-temanku begitu menyukaimu ya?”
Tae-Woo sudah membuka mulut untuk membalas komentar Sandy, tapi Park Hyun-Shik buru-buru menengahi, “Jangan begitu. Aku akan memberikan dua lembar tiket untukmu. Datanglah bersama temanmu hari Sabtu nanti. Kau belum pernah mendengar Tae-Woo menyanyi, kan?”
Sandy meringis dan menatap Jung Tae-Woo yang melahap daging panggang dengan kesal. “Sebenarnya pernah. Di televisi…,” katanya.
Setelah beberapa saat Sandy memutuskan untuk melunak, “Bagaimana? Aku boleh datang, tidak? Siapa tahu setelah pergi ke acara itu, aku jadi bisa melihat apa yang tidak kulihat selama ini. Siapa tahu nantinya aku jadi bisa mengerti kenapa banyak orang menyukaimu.”
Jung Tae-Woo menatapnya dan mendesah. “Datang saja kalau kau mau. Tapi jangan macam-macam.”
Sandy tersenyum jail, tiba-tiba saja ia merasa menggoda Tae-Woo adalah kegiatan yang menyenangkan, dan berkata, “Baiklah, kau mau aku berpura-pura menjadi
42
penggemarmu yang paling fanatik? Aku bisa berlari ke arahmu dan memelukmu kuat-kuat. Lalu menjerit-jerit memanggil namamu. Tae-Woo Oppa! Aku cinta padamu! Itu yang biasanya dilakukan para penggemarmu, kan?”
“Mungkin sebaiknya kau tidak usah datang,” kata Tae-Woo sambil meletakkan sumpitnya dengan keras. “Benar. Jangan datang!”
Sandy menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. “Kau tadi sudah setuju. Tidak boleh ditarik kembali. Lagi pula temanku Kang Young-Mi penggemar beratmu. Aku sudah merasa tidak enak karena harus menyembunyikan masalah ini darinya. Dia sangat ingin mendapatkan tanda tanganmu. Jadi, aku pasti akan mengajaknya ke acara jumpa penggemarmu Sabtu nanti.”
Jung Tae-Woo hanya bisa menarik napas panjang. “Ya, ya, terserah kau sajalah.”

BAB 3 PART 1

“SOON-HEE SSI, sebaiknya pinggiran topimu diturunkan sedikit lagi. Wajahmu harus tertutup,” perintah Park Hyun-Shik.
Sandy bergumam tidak jelas, menyerahkan ponsel yang dipegangnya kepada Jung Tae-Woo, lalu menarik turun topi merahnya. “Kalau begini aku sendiri tidak bisa melihat apa-apa,” desahnya. “Paman sebenarnya ada di mana? Dia sedang meneropong kita atau semacamnya?”
Ia dan Jung Tae-Woo sedang berada di dalam mobil Jung Tae-Woo yang diparkir di lapangan parkir depan gedung tempat Park Hyun-Shik bekerja. Saat itu pukul sepuluh malam dan suasana di tempat parkir sepi sekali. Jung Tae-Woo yang mengenakan topi hitam dan kacamata hitam duduk di balik kemudi, Sandy duduk di sampingnya, sementara Park Hyun-Shik mengawasi mereka entah dari mana. Semua komunikasi dilakukan lewat ponsel. Mereka sudah siap menjalankan tahap pertama rencana.
Jung Tae-Woo menempelkan ponsel ke telinga dan berkata, “Sudah bisa dimulai.”
Ia menutup ponsel dan memandang Sandy yang sedang merapikan kepang rambutnya. “Sekitar semenit lagi kita keluar,” katanya pendek.
“Jadi kita hanya perlu keluar dari mobil, bergaya sebentar, lalu masuk kembali ke mobil?” tanya Sandy memastikan.
Jung Tae-Woo mengangguk. Ia diam, lalu, “Nah, sepertinya Hyong sudah siap dengan kameranya. Kita keluar sekarang.”
Mereka berdua keluar dari mobil dan mulai berjalan berdampingan.
“Kenapa jauh begitu?” tanya Jung Tae-Woo.
Sandy menoleh dan menyadari Jung Tae-Woo sedang mengomentari jarak antara mereka berdua yang terlalu jauh. “Kenapa? Kurasa ini sudah cukup dekat.”
32
“Orang-orang tidak akan percaya aku punya hubungan khusus denganmu kalau kau berdiri sejauh itu.”
Sandy berhenti berjalan dan memutar tubuh menghadap Jung Tae-Woo. “Menurutku seperti ini juga sudah lumayan. Kita tidak perlu sampai berpelukan supaya orang percaya kita punya hubungan khusus, kan?”
Jung Tae-Woo tertawa pendek. “Apanya yang lumayan? Tubuhmu kaku begitu dan jalanmu seperti robot.”
Sandy tetap diam.
Jung Tae-Woo balas menatapnya, lalu berkata, “Kita harus melakukan sesuatu.”
Sandy terkejut ketika Jung Tae-Woo melangkah mendekati dirinya. “Mau apa kau?” tanyanya, tapi saking gugupnya ia tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri.
Jung Tae-Woo berdiri tepat di depannya. Sandy baru menyadari betapa dirinya begitu pendek dibandingkan pria itu. Kepalanya sampai harus mendongak kalau ia mau melihat wajah Jung Tae-Woo.
“Hei, Jung Tae-Woo ssi, kau sebenarnya mau apa?” tanya Sandy sekali lagi ketika setelah beberapa saat Jung Tae-Woo hanya berdiri diam tanpa melakukan apa-apa. Ia tidak bisa melihat ekspresi Jung Tae-Woo dengan jelas karena laki-laki itu memakai kacamata hitam, tapi Sandy bisa melihat bibir pria itu membentuk seulas senyum.
“Aku? Hanya memberikan pose yang bagus untuk foto kita,” katanya santai, lalu ia mundur kembali.
Sandy mendengus pelan. “Lucu sekali.”
“Misi selesai,” kata Sandy ketika mereka sudah duduk kembali di dalam mobil. “Hhhh… lelahnya. Benar-benar pekerjaan yang berat.”
Tae-Woo tersenyum kecil mendengar gurauan Sandy. Ternyata gadis ini bisa bercanda juga. Tae-Woo yakin sebenarnya Sandy orang yang ramah, meski saat ini gadis itu lebih sering bersikap kaku dan menjaga jarak, bahkan terkadang cenderung dingin. Bagaimanapun hal itu wajar saja mengingat mereka tidak terlalu saling mengenal.
“Aku merasa seperti sedang main film,” Sandy menambahkan. “Mungkin seharusnya aku jadi aktris saja. Bagaimana menurutmu?”
“Teruslah bermimpi,” sahut Tae-Woo sambil menghidupkan mesin mobil.
Saat itu terdengar dering ponsel. Mereka berdua serentak mencari ponsel mereka. Yang berdering ternyata ponsel Tae-Woo.
“Sebaiknya kauganti nada dering ponselmu,” gerutu Sandy sambil memasukkan ponselnya kembali ke saku celana.
33
“Kenapa harus aku? Kau saja yang ganti,” kata Tae-Woo sebelum menjawab teleponnya. “Ya, Hyong… Sudah?”
Tiba-tiba ponsel Sandy berdering juga. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Sandy langsung menjawab teleponnya. “Halo?”
Tae-Woo melihat gadis itu mendesah dan melepaskan topi merahnya. Siapa yang meneleponnya? Lamunan dalam benaknya buyar ketika ia sadar Park Hyun-Shik berulang kali menyebut namanya di telepon.
“Eh, apa, Hyong?... Oh, oke. Sampai jumpa besok,” kata Tae-Woo sebelum menutup ponsel.
“Aku? Sekarang? Sedang di luar,” kata Sandy dengan nada santai.
Tae-Woo memerhatikan alis Sandy terangkat ketika gadis itu mendengarkan jawaban orang di seberang sana.
“Sebentar lagi juga akan pulang. Kalau ada yang perlu dibicarakan, bicarakan nanti saja. Aku sekarang sedang sibuk. Tutup dulu ya.” Sandy langsung menutup teleponnya.
“Telepon dari siapa?” tanya Tae-Woo sambil lalu.
Sandy menoleh ke arahnya. “Teman,” sahut gadis itu pendek, lalu mengalihkan pembicaraan. “Kita sudah selesai sekarang? Paman bilang apa tadi?”
Tae-Woo memandang Sandy dengan kening berkerut. “Paman?” tanyanya heran. “Kenapa kau memanggil Hyong „paman‟? Dia kan belum setua itu. Kalau aku sih tidak akan sudi dipanggil „paman‟.”
Sandy baru akan membuka mulut untuk menjawab ketika Tae-Woo menambahkan, “Tapi terserah kau sajalah. Panggil saja dia „paman‟ atau apa pun sesukamu. Hyong tidak akan keberatan. Dia bukan orang yang suka ambil pusing untuk masalah seperti ini. Asal kau tidak memanggilnya „onni*‟ saja.”
Sandy menarik napas dan berdeham “Jadi Paman bilang apa tadi?” tanyanya sekali lagi.
“Katanya mungkin lusa foto-foto itu akan muncul di tabloid,” jawab Tae-Woo. Namun kemudian perkataannya selanjutnya seakan ditujukan kepada dirinya sendiri, “Harus lagi-lagi siap menghadapi wartawan. Tapi setidaknya reputasiku akan kembali seperti dulu…”
Tae-Woo menoleh dan mendapati Sandy sedang menatapnya dengan pandangan aneh. “Apa? Ada apa?”
“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Sandy agak ragu.
“Apa?”
* Kakak, panggilan wanita kepada wanita yang lebih tua.
34
“Sebenarnya… kau gay atau bukan?”
Tae-Woo melepas kacamatanya dan menatap Sandy dengan kesal.
Tanpa menunggu jawaban, Sandy mengibaskan tangan. “Oh, baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Kau gay atau bukan juga bukan urusanku.”
Seperti rencana Park Hyun-Shik, hari Senin pagi foto-foto mereka sudah mucul di tabloid. Sandy baru memasuki ruang kuliah ketika Kang Young-Mi berlari ke arahnya.
“Hei, Han Soon-Hee!” seru Young-Mi dengan suara menggelegar.
Sandy mengerjapkan matanya dengan bingung, lalu setelah pulih dari kekagetannya, ia menggerutu, “Sudah kubilang berkali-kali jangan panggil nama lengkapku seperti itu. Memangnya „Sandy‟ terlalu susah diucapkan?”
“Dan sudah kubilang berkali-kali kalau aku tidak suka nama yang kebarat-baratan,” balas Young-Mi lalu melanjutkan, “Sekarang itu bukan masalah penting. Lihat ini!” Ia melambai-lambaikan tabloid tepat di depan wajah Sandy.
“Apa ini?” tanya Sandy. Ia harus mundur selangkah supaya bisa melihat jelas apa yang ingin diperlihatkan temannya itu.
“Jung Tae-Woo ternyata punya pacar!” kali ini seruan Young-Mi begitu keras sampai-sampai Sandy terlompat kaget.
Sandy melihat halaman depat tabloid itu dan menahan napas. Ia membaca judul utamanya “JUNG TAE-WOO DAN KEKASIH WANITA?” dicetak dengan ukuran besar. Di bawah judul itu ada tiga fotonya bersama Jung Tae-Woo. Foto-foto itu agak buram, tapi kenapa Sandy merasa dirinya terlihat begitu jelas?
Foto pertama memperlihatkan mereka berdua di dalam mobil. Jung Tae-Woo sedang memegang kemudi dan menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Sandy sendiri juga sedang memandang pria itu dengan kepala dimiringkan sehingga wajahnya tertutup topi merahnya. Kapan mereka berpose seperti itu? Sandy sendiri tidak ingat.
Foto yang kedua diambil ketika mereka berjalan bersama. Foto itu diambil sedikit menyamping sehingga Sandy agak tertutup tubuh Jung Tae-Woo. Sandy memerhatikan foto itu dan mengerutkan kening. Seingatnya mereka tidak berdiri sedekat itu, tapi mungkin arah pengambilan fotonya yang menyebabkan mereka terlihat dekat.
Foto ketiga adalah saat Jung Tae-Woo berdiri tepat di depannya dan begitu dekat, Sandy sendiri berdiri tegak dengan kepala mendongak memandangnya. Lagi-lagi sudut pengambilan foto membuat foto itu terlihat bagus sekali dan wajah Sandy agak tertutup. Ditambah lagi Jung Tae-Woo sedang tersenyum dalam foto itu. Mau tidak mau Sandy kagum pada Park Hyun-Shik. Ternyata Paman pintar memotret.
35
“Kau lihat? Sudah lihat?” Young-Mi jelas-jelas terlihat kesal dan sedikit histeris. “Ternyata selama ini Jung Tae-Woo sudah punya kekasih. Siapa wanita itu? Artis? Kau tahu tidak, semua penggemarnya sedang shock saat ini.”
Sandy agak lega karena Kang Young-Mi tidak menyadari bahwa dirinyalah yang ada di dalam foto bersama Jung Tae-Woo. Ia melipat kembali tabloid itu, mengembalikannya kepada Young-Mi, lalu berkata, “Kenapa kesal? Bukankah ini malah membuktikan Jung Tae-Woo bukan gay?”
Young-Mi terdiam dan menimbang-nimbang. “Tapi kalau melihat dia dengan wanita lain, rasanya hatiku… aduh,” katanya dengan wajah memelas.
Sandy tertawa geli.
“Tapi… mungkin juga gadis ini bukan kekasihnya,” kata Young-Mi tiba-tiba.
“Memangnya apa yang membuatmu berpikir begitu?”
“Bisa saja kasusnya sama dengna kasusmu waktu itu. Jung Tae-Woo hanya mengantarmu dan tidak ada hubungan apa-apa di antara kalian. Lagi pula semua orang tahu wartawan suka membesar-besarkan masalah.”
Sandy cepat-cepat menoleh dan mendapati sahabatnya sedang memandangnya yakin. “Tapi menurutku yang ini memang benar. Di artikel ini bahkan juga tertulis ada sumber tepercaya yang menyatakan Jung Tae-Woo memang sudah punya pacar, kan? Lagi pula kalau dipikir-pikir, bukankah ini hal yang baik? Maksudku, bagi penggemar sepertimu, yang paling penting kan Jung Tae-Woo bukan gay alias suka wanita….”
Karena ekspresi kecewa Young-Mi belum berubah, Sandy menambahkan, “Kau juga tidak perlu histeris begitu. Kalaupun wanita di foto ini memang pacarnya, masih ada kemungkinan mereka berpisah. Kau berdoa saja supaya mereka cepat berpisah.”
“Kau bisa berkata seperti itu karena kau bukan penggemarnya! Aku penasaran sekali siapa wanita itu. Di sini juga tidak diceritakan siapa dia….” Young-Mi mengembuskan napas panjang. Mendadak dia menepuk tangan dan berkata penuh semangat, “Tapikau benar. Tidak apa-apa, sebentar lagi pasti ketahuan. Dia harus putus dengan Tae-Woo oppa*-ku!”
Sandy geleng-geleng menahan geli. Tapi sebelum senyumnya mereda, Young-Mi sudah berkata lagi, “Tapi ada yang aneh. Coba lihat foto-foto ini, Soon-Hee. Kenapa mereka berdua tidak bersentuhan? Mungkin memang bukan hal penting, tapi maksudku, orang pacaran bukannya suka berpegangan tangan kalau berjalan bersama?”
* * *
*Kakak, panggilan wanita kepada pria yang lebih tua.
36
Jung Tae-Woo sedang berada di kantor Park Hyun-Shik. Ia memegang tabloid yang memuat foto-fotonya bersama Sandy.
“Hyong ternyata pandai memotret,” kata Tae-Woo sambil tersenyum.
Park Hyun-Shik hanya mengangkat bahu menerima pujian itu. “Menurutku rencana kita cukup sukses karena sejak pagi kantor kita sudah dibanjiri telepon yang meminta kepastian dan wawancara denganmu.”
“Dia sudah melihat ini atau belum ya?” tanya Tae-Woo sambil meletakkan tabloid itu di atas meja.
“Soon-Hee ssi? Seharusnya sudah karena orang-orang juga akan membicarakan-nya,” sahut Park Hyun-Shik. Ia meraih tabloid itu dan mengamati foto-foto Tae-Woo dan Sandy. “Dia melakukannya dengan baik sekali, kan? Gadis yang tenang, mudah diajak kerja sama. Bagus juga dia bukan salah satu penggemarmu, jadi dia tidak histeris atau semacamnya.”
Tae-Woo hanya mengangkat bahu.
Park Hyun-Shik berkata pelan seperti merenung. “Ya, gadis yang tenang. Bahkan mungkin terlalu tenang… Tidakkah menurutmu dia terlalu mudah menyetujui permintaanmu?”
Tae-Woo mengangkat bahu lagi. “Tidak juga,” jawabnya.
“Dia tidak minta imbalan apa pun?” tanya Park Hyun-Shik lagi.
Tae-Woo mengingat-ingat. “Tidak.”
“Aneh,” gumam Park Hyun-Shik. Setelah berkata seperti itu, telepon di meja kerjanya berdering.
Sementara manajernya menjawab telepon, Jung Tae-Woo menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia menelepon Sandy. Tak berapa lama akhirnya ia mengeluarkan ponselnya dan menekan angka sembilan.
Sandy dan Young-Mi sedang berjalan di halaman kampus sambil membicarakan Jung Tae-Woo dan pacar misteriusnya ketika Sandy mendengar namanya dipanggil.
Mereka berdua menoleh ke belakang dan melihat laki-laki tinggi besar sedang berlari-lari kecil menghampiri mereka.
Young-Mi menyikut lengan Sandy dan berbisik, “Mau apa lagi dia?”
Sandy mengerutkan kening dan menggeleng tanda tidak tahu.
Laki-laki itu berhenti di depan mereka berdua sambil tersenyum lebar. “Halo, kebetulan sekali bertemu kalian di sini. Mau makan siang? Ayo, kutraktir.”
Young-Mi meringis. “Kebetulan apanya?”
“Lee Jeong-Su ssi, sedang apa kau di sini?” tanya Sandy.
37
“Tidak ada alasan khusus,” jawab Lee Jeong-Su riang, seakan tidak menyadari nada ketus kedua gadis itu. “Kupikir karena sudah lama tidak bertemu, tidak ada salahnya kita makan siang bersama sambil mengobrol.”
“Pacarmu mana?” tanya Young-Mi tiba-tiba. “Dia tidak marah kalau kau makan siang bersama dua wanita? Ngomong-ngomong, kau masih bersama gadis yang waktu itu, kan? Atau sudah ada yang baru?”
Wajah Lee Jeong-Su memerah dan dia agak salah tingkah ketika menjawab, “Oh, dia sedang ada urusan di tempat lain. Ayolah, mumpung pekerjaanku sedang tidak banyak. Lagi pula aku ingin mengobrol dengan kalian. Oke?”
Sandy dan Young-Mi berpandangan. Mereka tahu mereka tidak bisa menghindar tanpa bersikap kasar kepada laki-laki seperti Lee Jeong-Su.
Mereka masuk ke restoran kecil yang sudah sering mereka datangi. Mereka baru saja duduk di meja kosong ketika Sandy mendengar ponselnya berbunyi. Ia menatap layar ponselnya. Ia tidak mengenal nomor telepon yang tertera di sana.
“Halo?”
“Sudah lihat?”
“Apa?” Dalam kebingungan Sandy menatap ponselnya, lalu menempelkannya kembali di telinga. “Siapa ini?”
Laki-laki di ujung sana mendengus kesal. “Kau tidak tahu?”
“Tidak.”
Sepi sebentar, lalu suara itu berkata dengan nada datar, “Ini Jung Tae-Woo.”
Sandy tersentak dan sontak menatap Young-Mi dan Jeong-Su bergantian. Kedua orang itu jadi ikut menatapnya dengan pandangan bertanya. Tepat pada saat itu pelayan datang dan menanyakan pesanan.
Sandy memalingkan wajah dan berkata dengan suara pelan di telepon, “Oh, kau rupanya. Ada apa?”
Sandy mendengar Jung Tae-Woo menarik napas di seberang sana. “Kau sudah lihat fotonya?” Nada suaranya sudah kembali seperti biasa.
“Sudah,” sahut Sandy. “Lalu bagaimana? Kau sudah ditanya-tanya?”
“Sore ini aku ada jadwal wawancara.”
“Soon-Hee, kau mau makan apa?” tanya Jeong-Su tiba-tiba.
Sandy menoleh dan menjawab, “Terserah. Pesankan saja untukku.”
“Kau tidak sedang sendirian?” tanya Tae-Woo.
“Aku sedang makan bersama teman.”
“Hei, kenapa tidak bilang dari tadi? Kau bisa membongkar rencana kita.”
“Lho, kenapa marah-marah? Kau sendiri tidak bertanya dulu, lagi pula aku kan tidak bilang apa-apa ke siapa pun.”
Jung Tae-Woo terdiam sebentar, lalu berkata, “Malam ini jam tujuh kau harus ke rumah Hyun-Shik Hyong. Ada yang ingin dibicarakan. Mengerti?”
Wajah Sandy berubah kesal, tapi ia berkata, “Ya, ya, mengerti. Tapi rumahnya di mana?”
Sandy mengeluarkan secarik kertas dan bolpoin dari dalam tasnya. Setelah mencatat alamat Park Hyun-Shik seperti yang disebutkan Jung Tae-Woo, ia menutup ponsel dan mendapati Young-Mi dan Jeong-Su sedang memerhatikannya.
“Dari siapa?” tanya Jeong-Su.
“Teman,” sahut Sandy ringan sambil tersenyum kecil. “Makanannya sudah dipesan?”
Tae-Woo menutup ponselnya sambil melamun.
“Kau sudah memintanya datang ke tempatku nanti malam?” tanya Park Hyun-Shik membuyarkan lamunannya.
“Sudah,” jawabnya pelan.
“Kau juga nanti malam jangan datang terlambat,” kata manajernya sambil mengenakan jas. “Ayo, kita pergi makan siang. Mau makan apa?”
“Hyong,” panggil Tae-Woo tiba-tiba.
“Apa?”
“Hyong pernah mencari informasi tentang Han Soon-Hee. Apakah Hyong sudah mengecek dia punya pacar atau tidak?”
“Memangnya kenapa?”
“Tadi ketika aku meneleponnya, dia sedang bersama laki-laki. Kalau memang dia punya pacar, pacarnya bisa tahu soal kita.”
Park Hyun-Shik berpikir. “Nanti malam kita bisa menanyakannya langsung pada Soon-Hee ssi. Ayolah, kita pergi makan dan setelah itu kau harus bersiap-siap untuk wawancara.”
“Jadi kau sudah mengatakannya pada wartawan?” tanya Sandy sambil menjepit sepotong daging panggang dengan sumpit dan memasukkannya ke mulut.
Mereka bertiga—Jung Tae-Woo, Park Hyun-Shik, dan dia sendiri—sudah berkumpul di apartemen Park Hyun-Shik yang besar dan mewah. Ketika Sandy datang, kedua laki-laki itu baru akan mulai memanggang daging. Hyun-Shik berkata makan malam ini adalah ucapan terima kasihnya atas bantuan Sandy.