A. PENGERTIAN AKUNTANSI
Akuntansi dapat didefinisikan sebagai fungsi mencatat transaksi sampai menyusun laporan keuangan seperti yang dikeluarkan oleh The American Institute of Certified public Accountant pada tahun 1994. Menurut Nedles akuntansi adalah suatu sistem informasi yang mengukur, memproses, dan mengkaitkan informasi keuangan mengenai satuan ekonomi dan perusahaan yang dapat diidentifikasi. Akuntansi adalah sistem informasi keuangan dan ekonomi yang dapat menyajikan informasi masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan bagi manajemen.
B. LAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan yaitu ringkasan transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku.
Laporan keuangan umumnya terdiri dari :
1. Laporan laba rugi (Income Statement)
Suatu laporan yang menyajikan hasil usaha dari kegiatan operasi perusahaan dalam suatu periode tertentu. Unsur-unsur statement yaitu Pendapatan dan Beban.
2. Laporan perubahan modal
Laporan yang menunjukan sebab-sebab perubahan ekuitas perusahaan.Unsur-unsur statement yaitu Modal awal, Laba/Rugi, dan prive.
3. Neraca (Balance Sheet)
Laporan yang menyajikan posisi keuangan suatu perusahaan pada saat tanggal tertentu. Unsur-unsur neraca yaitu Asset, Liability, Capital.
Senin, 29 Desember 2014
Selasa, 23 Desember 2014
EPILOG
“KAU akan pergi ke Amerika, Miss Han?” tanya Mister Kim dengan kening berkerut. “Aku tidak salah dengar?”
Sandy memasang senyum termanisnya dan menjawab, “Benar, Mister Kim. Hanya sepuluh hari. Tidak lebih.”
Mister Kim mendecakkan lidah. “Memangnya untuk apa kau ke sana? Kau mau pindah ke sana atau bagaimana?”
Sandy menggeleng-geleng. “Tidak, Mister Kim. Hanya jalan-jalan.”
“Tujuh bulan lalu aku sudah memberimu cuti karena kau mengalami kecelakaan. Masa sekarang kau mau cuti lagi?” Mister Kim masih bersikeras.
“Mister Kim, ayolah,” bujuk Sandy. “Hanya sepuluh hari.”
Mister Kim menatapnya dengan mata disipitkan. “Kau pergi dengan siapa?”
“Oh?” Sandy jadi salah tingkah. “Oh... dengan... Jung Tae-Woo.”
“Hah!” seru Mister Kim. “Anak itu! Dia pikir karena dia artis maka bisa sembarangan merebut asistenku kapan saja dia mau? Seenaknya saja! Fine, kau boleh ke Amerika. Sebagai gantinya, suruh Jung Tae-Woo tidak usah pergi. Dia harus menggantikanmu menjadi asistenku selama kau cuti.”
Sandy tertawa mendengar atasannya marah-marah. “Jangan begitu, Mister Kim. Tapi bagaimanapun, kalau dipikir-pikir, saya harus berterima kasih pada Anda.”
“Untuk apa?”
“Karena Mister Kim telah memintaku mengantarkan pakaian kepada Jung Tae-Woo sehingga aku bisa berkenalan dengannya.”
“Itu salah satu penyesalanku.”
“Saya senang Anda melakukannya,” kata Sandy, tidak mengacuhkan kata-kata Mister Kim.
170
Mister Kim menatapnya.
“Sungguh,” Sandy menegaskan.
Akhirnya atasannya menyerah. “Okay, aku akan mengabulkan permintaan cutimu. Tapi hanya sepuluh hari. Tidak lebih. Understand?”
Sandy mengangguk dan tersenyum lebar. “Terima kasih, Mister Kim. Anda baik sekali.”
“Kau sungguh tidak mau mengganti nada deringmu?” tanya Sandy. Ia berdiri di ambang pintu kamar Jung Tae-Woo sambil menggenggam ponsel laki-laki itu.
Jung Tae-Woo berhenti mengemas pakaian ke koper dan mengangkat wajah. “Kenapa? Kau menjawab teleponku lagi?” ia balas bertanya. “Kau memang tidak sengaja atau jangan-jangan kau sedang memata-mataiku?”
Sandy mendengus. “Hoho... kau... Sudahlah, tidak apa-apa. Tidak perlu kaujawab pertanyaanku. Biar aku yang mengganti nada deringmu.”
Sandy baru mulai menekan-nekan tombol ponsel Jung Tae-Woo ketika laki-laki itu mengambil ponselnya dari tangan Sandy.
“Jangan diganti,” katanya.
“Kenapa?” tanya Sandy.
Jung Tae-Woo tersenyum dan kembali mengemasi pakaian. “Aku suka kita punya nada dering yang sama. Silakan saja jawab teleponku sesukamu. Tidak ada yang perlu kusembunyikan.”
Sandy meringis, lalu berkata, “Ayo cepat. Kita harus berangkat ke bandara.”
“Sudah hampir selesai,” kata Jung Tae-Woo sambil mengunci koper. “Kau sendiri yakin tidak ada barangmu yang ketinggalan? Kita sudah tidak punya waktu untuk kembali ke apartemenmu.”
“Tidak ada,” kata Sandy yakin. Ia meraih topi kuning pemberian Jung Tae-Woo dan memakainya. “Jung Tae-Woo ssi, orangtuamu sudah tahu aku akan ikut ke sana?”
“Kau sudah tanya itu berkali-kali,” sahut Jung Tae-woo sambil membawa koper ke lantai bawah. Sandy menyusulnya dari belakang.
“Aku hanya tidak mau mereka kaget begitu melihatku,” Sandy menjelaskan. “Aku memang sudah bertemu ibumu, tapi aku belum bertemu ayahmu.”
Jung Tae-Woo meletakkan kopernya di dekat pintu depan.
“Jung Tae-Woo ssi,” panggil Sandy.
Jung Tae-Woo memutar tubuh dan menatap Sandy. “Apa?”
“Kenapa aku ada di nomor sembilan ponselmu?”
171
Sandy melihat Jung Tae-Woo agak kaget mendengar pertanyaannya, lalu laki-laki itu tersenyum geli. “Astaga, kukira ada masalah serius apa.”
“Aku hanya penasaran.”
“Karena aku suka nomor sembilan dan karena aku merasa kau cocok dengan angka sembilan,” jawab Jung Tae-Woo ringan.
“Cocok? Hanya karena itu?”
Jung Tae-Woo meletakkan kedua tangan di bahu Sandy. “Ya,” jawabnya sambil menatap lurus ke mata Sandy. “Sekarang, ayo pergi, sebelum ketinggalan pesawat.”
“Siapa yang tidak berkemas sejak kemarin?” tanya Sandy agak jengkel.
Jung Tae-Woo tertawa dan merangkul bahu Sandy. “Baiklah, aku minta maaf. Bisa kita berangkat sekarang?”
“Oke,” sahut Sandy. “Jangan lupa kuncimu. Sudah kaukunci semua jendelanya? Kompor gas sudah diperiksa?”
“Hei, kau tidak jadi minum-minum dengan kita?” tanya Park Hyun-Shik begitu ia menutup ponsel.
Tae-Woo tersenyum meminta maaf. “Maaf, Hyong. Lain kali aku yang traktir.” Kemudian ia meminta sopir mengantarnya ke rumah.
“Begitu kembali dari luar negeri, sudah ada yang menunggu di rumah. Menyenangkan sekali,” kata Park Hyun-Shik sambil tersenyum.
“Dia memintaku makan di rumah,” kata Tae-Woo.
“Aku heran kenapa kau menyimpan nomor telepon Sandy di nomor sembilan,” kata Park Hyun-Shik. Ia mendadak ingat pernah melihat Tae-Woo menekan nomor sembilan di ponsel untuk menghubungi Sandy.
“Oh, itu,” kata Tae-Woo sambil tersenyum. “Hyong tahu aku suka bisbol, kan?”
“Aah, sepertinya aku tahu alasannya,” kata Park Hyun Shik sambil mengangguk-angguk mengerti.
Tae-woo mengabaikan manajernya itu dan tetap melanjutkan, “Dalam bisbol ada sembilan pemain. Kurang satu saja tidak bisa. Sembilan artinya lengkap. Kenapa aku menyimpan nomor Sandy di nomor sembilan? Itu karena kalau dia ada, aku baru merasa benar, merasa lengkap. Dia nomor sembilanku.”
“Persis seperti yang kuduga,” kata Park Hyun-Shik puas.
Sandy memasang senyum termanisnya dan menjawab, “Benar, Mister Kim. Hanya sepuluh hari. Tidak lebih.”
Mister Kim mendecakkan lidah. “Memangnya untuk apa kau ke sana? Kau mau pindah ke sana atau bagaimana?”
Sandy menggeleng-geleng. “Tidak, Mister Kim. Hanya jalan-jalan.”
“Tujuh bulan lalu aku sudah memberimu cuti karena kau mengalami kecelakaan. Masa sekarang kau mau cuti lagi?” Mister Kim masih bersikeras.
“Mister Kim, ayolah,” bujuk Sandy. “Hanya sepuluh hari.”
Mister Kim menatapnya dengan mata disipitkan. “Kau pergi dengan siapa?”
“Oh?” Sandy jadi salah tingkah. “Oh... dengan... Jung Tae-Woo.”
“Hah!” seru Mister Kim. “Anak itu! Dia pikir karena dia artis maka bisa sembarangan merebut asistenku kapan saja dia mau? Seenaknya saja! Fine, kau boleh ke Amerika. Sebagai gantinya, suruh Jung Tae-Woo tidak usah pergi. Dia harus menggantikanmu menjadi asistenku selama kau cuti.”
Sandy tertawa mendengar atasannya marah-marah. “Jangan begitu, Mister Kim. Tapi bagaimanapun, kalau dipikir-pikir, saya harus berterima kasih pada Anda.”
“Untuk apa?”
“Karena Mister Kim telah memintaku mengantarkan pakaian kepada Jung Tae-Woo sehingga aku bisa berkenalan dengannya.”
“Itu salah satu penyesalanku.”
“Saya senang Anda melakukannya,” kata Sandy, tidak mengacuhkan kata-kata Mister Kim.
170
Mister Kim menatapnya.
“Sungguh,” Sandy menegaskan.
Akhirnya atasannya menyerah. “Okay, aku akan mengabulkan permintaan cutimu. Tapi hanya sepuluh hari. Tidak lebih. Understand?”
Sandy mengangguk dan tersenyum lebar. “Terima kasih, Mister Kim. Anda baik sekali.”
“Kau sungguh tidak mau mengganti nada deringmu?” tanya Sandy. Ia berdiri di ambang pintu kamar Jung Tae-Woo sambil menggenggam ponsel laki-laki itu.
Jung Tae-Woo berhenti mengemas pakaian ke koper dan mengangkat wajah. “Kenapa? Kau menjawab teleponku lagi?” ia balas bertanya. “Kau memang tidak sengaja atau jangan-jangan kau sedang memata-mataiku?”
Sandy mendengus. “Hoho... kau... Sudahlah, tidak apa-apa. Tidak perlu kaujawab pertanyaanku. Biar aku yang mengganti nada deringmu.”
Sandy baru mulai menekan-nekan tombol ponsel Jung Tae-Woo ketika laki-laki itu mengambil ponselnya dari tangan Sandy.
“Jangan diganti,” katanya.
“Kenapa?” tanya Sandy.
Jung Tae-Woo tersenyum dan kembali mengemasi pakaian. “Aku suka kita punya nada dering yang sama. Silakan saja jawab teleponku sesukamu. Tidak ada yang perlu kusembunyikan.”
Sandy meringis, lalu berkata, “Ayo cepat. Kita harus berangkat ke bandara.”
“Sudah hampir selesai,” kata Jung Tae-Woo sambil mengunci koper. “Kau sendiri yakin tidak ada barangmu yang ketinggalan? Kita sudah tidak punya waktu untuk kembali ke apartemenmu.”
“Tidak ada,” kata Sandy yakin. Ia meraih topi kuning pemberian Jung Tae-Woo dan memakainya. “Jung Tae-Woo ssi, orangtuamu sudah tahu aku akan ikut ke sana?”
“Kau sudah tanya itu berkali-kali,” sahut Jung Tae-woo sambil membawa koper ke lantai bawah. Sandy menyusulnya dari belakang.
“Aku hanya tidak mau mereka kaget begitu melihatku,” Sandy menjelaskan. “Aku memang sudah bertemu ibumu, tapi aku belum bertemu ayahmu.”
Jung Tae-Woo meletakkan kopernya di dekat pintu depan.
“Jung Tae-Woo ssi,” panggil Sandy.
Jung Tae-Woo memutar tubuh dan menatap Sandy. “Apa?”
“Kenapa aku ada di nomor sembilan ponselmu?”
171
Sandy melihat Jung Tae-Woo agak kaget mendengar pertanyaannya, lalu laki-laki itu tersenyum geli. “Astaga, kukira ada masalah serius apa.”
“Aku hanya penasaran.”
“Karena aku suka nomor sembilan dan karena aku merasa kau cocok dengan angka sembilan,” jawab Jung Tae-Woo ringan.
“Cocok? Hanya karena itu?”
Jung Tae-Woo meletakkan kedua tangan di bahu Sandy. “Ya,” jawabnya sambil menatap lurus ke mata Sandy. “Sekarang, ayo pergi, sebelum ketinggalan pesawat.”
“Siapa yang tidak berkemas sejak kemarin?” tanya Sandy agak jengkel.
Jung Tae-Woo tertawa dan merangkul bahu Sandy. “Baiklah, aku minta maaf. Bisa kita berangkat sekarang?”
“Oke,” sahut Sandy. “Jangan lupa kuncimu. Sudah kaukunci semua jendelanya? Kompor gas sudah diperiksa?”
“Hei, kau tidak jadi minum-minum dengan kita?” tanya Park Hyun-Shik begitu ia menutup ponsel.
Tae-Woo tersenyum meminta maaf. “Maaf, Hyong. Lain kali aku yang traktir.” Kemudian ia meminta sopir mengantarnya ke rumah.
“Begitu kembali dari luar negeri, sudah ada yang menunggu di rumah. Menyenangkan sekali,” kata Park Hyun-Shik sambil tersenyum.
“Dia memintaku makan di rumah,” kata Tae-Woo.
“Aku heran kenapa kau menyimpan nomor telepon Sandy di nomor sembilan,” kata Park Hyun-Shik. Ia mendadak ingat pernah melihat Tae-Woo menekan nomor sembilan di ponsel untuk menghubungi Sandy.
“Oh, itu,” kata Tae-Woo sambil tersenyum. “Hyong tahu aku suka bisbol, kan?”
“Aah, sepertinya aku tahu alasannya,” kata Park Hyun Shik sambil mengangguk-angguk mengerti.
Tae-woo mengabaikan manajernya itu dan tetap melanjutkan, “Dalam bisbol ada sembilan pemain. Kurang satu saja tidak bisa. Sembilan artinya lengkap. Kenapa aku menyimpan nomor Sandy di nomor sembilan? Itu karena kalau dia ada, aku baru merasa benar, merasa lengkap. Dia nomor sembilanku.”
“Persis seperti yang kuduga,” kata Park Hyun-Shik puas.
BAB 16 PART 1
BEBERAPA hari setelah itu Tae-Woo terus berada di Jakarta. Park Hyun-Shik sibuk membatalkan dan menyusun ulang jadwal kerja Tae-Woo. Tae-Woo ingin berada di dekat Sandy. Ia juga menggunakan kesempatan itu untuk lebih mengenal kedua orangtua Sandy. Setelah mengenal mereka secara pribadi, ia baru mengetahui dengan pasti bahwa sebenarnya kedua orangtua Sandy tidak membencinya karena kejadian empat tahun lalu.
“Masih sama. Belum sadar,” kata Tae-Woo sambil duduk di bangku panjang di koridor rumah sakit. Ia menggenggam ponsel yang ditempelkan di telinga dan bersandar ke dinding. Ibunya menelepon dari Amerika untuk menanyakan keadaan Sandy. “Tentu, Ibu. Kalau ada kabar apa pun, aku akan menelepon Ibu... Ya, Hyong masih di sini menemaniku... Ibu tidak usah mencemaskan aku. Aku bisa menjaga diri... Ya, bye.”
Tae-Woo menutup ponsel dan memejamkan mata. Sudah beberapa hari ini tidurnya tidak nyenyak. Ia lelah, tapi tidak bisa terlelap. Orangtua Sandy juga begitu. Ayah Sandy sudah kembali bekerja tapi datang menjenguk putrinya tiap sore. Ibunya selalu berada di rumah sakit. Tadi sepupu Sandy yang bernama Tara datang dan kini menemani ibu Sandy pergi makan siang di kafetaria rumah sakit.
Sambil menarik napas panjang, Tae-Woo kembali ke kamar Sandy. Ia duduk di tempatnya seperti biasa, di sisi tempat tidur. Dokter pernah berkata, bila Sandy sadarkan diri, ia akan baik-baik saja. Masalahnya, dokter tidak tahu kapan Sandy akan sadar. Gadis itu tetap terbaring tak bergerak, tidak membuka mata.
163
Tae-Woo menggenggam tangan Sandy. Tiba-tiba gerakannya terhenti. Ia mengerutkan kening. Apakah ia salah lihat tadi? Sepertinya kelopak mata Sandy bergerak. Tidak, ia hanya bermimpi.
Tapi kemudian ia merasakan tangan Sandy yang sedang digenggam bergerak. Ia tersentak dan menatap wajah Sandy dengan jantung berdebar keras.
Kelopak mata gadis itu bergerak, lalu perlahan-lahan matanya terbuka.
Tae-Woo merasa begitu lega sampai kakinya terasa lemas. Sandy sadar! Ia sudah sadar. Tae-Woo menjulurkan tangan dan menyentuh pipi Sandy. Gadis itu menoleh lemas dan matanya bertemu mata Tae-Woo.
“Kau sudah sadar,” kata Tae-Woo kepadanya, senyumnya mengembang. Ia begitu lega, begitu bahagia sampai ia ingin melompat. “Bagaimana perasaanmu?”
Sandy membuka mulut, tapi terlalu tak bertenaga untuk berbicara. Tae-Woo cepat-cepat menggeleng. “Jangan bicara dulu. Kau masih lemah. Tunggu sebentar, kita harus memanggil dokter.”
Tae-Woo menekan tombol merah di dekat tempat tidur dan kembali memandangi Sandy. Kelihatannya gadis itu masih setengah terjaga, karena matanya sesekali terpejam, lalu terbuka lagi, tapi dari matanya Tae-Woo tahu Sandy mengenalinya.
Gadis itu memandangnya, lalu membuka mulut lagi. Tae-Woo mendekatkan telinganya ke wajah Sandy untuk mendengarkan kata-katanya.
“Aku... rindu... padamu.”
Tae-Woo tertegun. Suara Sandy memang lebih mirip bisikan, tapi ia mendengar kata-kata itu dengan jelas. Tae-Woo tersenyum dan berkata pelan, “Aku juga.”
Tidak lama kemudian, terdengar pintu dibuka. Tae-Woo menoleh dan melihat dokter dan perawat bergegas masuk. Ia menoleh kembali kepada Sandy dan berkata, “Dokter sudah datang. Aku akan pergi sebentar untuk memanggil ibumu. Kau sudah tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja.”
“Ibumu sudah tahu aku yang akan mengantarmu pulang,” kata Jung Tae-Woo sambil meletakkan tas Sandy di sofa kamar.
Hari ini Sandy sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Keadaannya sudah membaik walaupun tubuhnya masih agak lemah. Lagi pula setelah seminggu siuman di rumah sakit, Sandy mulai merasa bosan setengah mati.
Ketika tabrakan keras itu terjadi, hal terakhir yang diingatnya adalah Jung Tae-Woo. Bahwa ia belum bertemu laki-laki itu lagi. Belum bicara dengannya. Ia takut tidak akan pernah punya kesempatan melihat Jung Tae-Woo lagi. Lalu semuanya gelap. Ia tidak tahu apa-apa lagi.
164
Ia nyaris tidak percaya pada apa yang dilihatnya ketika pertama kali membuka mata. Ia melihat wajah Jung Tae-Woo. Seperti sedang bermimpi. Kalau bermimpi, saat itu ia tidak ingin bangun. Tapi ternyata itu kenyataan. Jung Tae-Woo sungguh ada di sana, di sisinya, menggenggam tangannya dan berbicara padanya.
“Kenapa menatapku seperti itu?”
Sandy tersentak dari lamunan dan melihat Jung Tae-Woo sedang menatapnya dengan alis terangkat. Sandy tersenyum dan menggeleng.
Jung Tae-Woo mendorong kursi roda ke samping tempat tidur. “Ayo, kubantu,” katanya.
Sandy membiarkan Jung Tae-Woo menggendongnya dan mendudukkannya di kursi roda. Walaupun sebagian perbannya sudah dilepas, kakinya masih tidak kuat untuk berjalan atau berdiri, karena itu mereka membutuhkan kursi roda.
“Sebelum pulang ke rumah, aku ingin membawamu ke suatu tempat,” kata Jung Tae-Woo sambil meraih tas Sandy dan mendorong kursi roda Sandy keluar pintu.
“Kita mau ke mana?” tanya Sandy heran.
“Aku ingin mengajakmu makan siang. Untuk merayakan kesembuhanmu.”
“Di mana?”
“Kau akan tahu.”
“Kita naik apa?”
“Tentu saja naik mobil. Eh... kau tidak takut, kan?” tanya Jung Tae-Woo agak ragu.
Sandy menggeleng. “Bukan begitu maksudku. Ini bukan di Korea. Di Indonesia kemudi mobil ada di sebelah kanan. Memangnya kau bisa?”
Jung Tae-Woo tertawa. “Ada orang yang akan mengemudikan mobil. Aku juga sudah memperingatkannya untuk mengemudi dengan hati-hati sekali.”
“Siapa?”
“Kalau kukatakan, kau tidak akan kenal siapa dia.”
Sandy memiringkan kepala dan tidak bertanya-tanya lagi. Bertanya juga tidak ada gunanya kalau Jung Tae-Woo sudah tidak mau mengatakan apa-apa.
Ternyata Sandy memang tidak mengenal pria setengah baya yang mengemudikan mobil itu. Sandy melihat Jung Tae-Woo berbicara padanya dalam bahasa Inggris, lalu pria setengah baya itu mengangguk mengerti. Mereka pun berangkat.
Mereka berhenti di hotel terkenal di daerah Jakarta Selatan.
“Kita mau makan di sini?” tanya Sandy ragu-ragu.
“Ya. Aku sudah memesan tempat. Ayo, kubantu keluar,” kata Jung Tae-Woo.
165
Sandy cepat-cepat menahannya. “Tunggu sebentar, Jung Tae-Woo ssi. Aku... maksudku, aku tidak masuk ke tempat seperti itu dengan kursi roda. Maksudku—“
Kata-kata Sandy terputus ketika Jung Tae-Woo memegang wajahnya dengan kedua tangan.
“Tidak apa-apa. Ada aku,” katanya sambil tersenyum menenangkan.
Sandy tidak berkata apa-apa lagi. Ia membiarkan dirinya didudukkan di kursi roda dan didorong masuk ke lobi hotel.
Seorang pegawai hotel sepertinya sudah mengenal Jung Tae-Woo. Ia langsung tersenyum ramah dan langsung menunjukkan jalan menuju restoran.
Sandy merasa agak aneh ketika masuk ke restoran itu dan tidak melihat seorang pun di sana. Hanya ada beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan, menunggu perintah. Sandy juga memerhatikan ada beberapa pria yang memainkan alat musik di panggung kecil di tengah restoran.
Pegawai hotel yang mengantar mereka menunjukkan meja yang sudah disiapkan untuk mereka, di bagian depan, dekat panggung. Sandy juga melihat ada grand piano hitam serta pemusik yang duduk di sana dan memainkannya.
Ketika Jung Tae-Woo sudah duduk berhadapan dengannya, Sandy membuka mulut. “Kenapa aku merasa kau sudah mengatur semua ini?”
“Mengatur apa?” Jung Tae-Woo balas bertanya dengan raut wajah tanpa dosa.
Sandy tersenyum. “Tidak ada orang di restoran ini, kecuali pelayan dan beberapa pemain musik. Jangan-jangan penyebabnya adalah kau.”
Jung Tae-Woo hanya tertawa.
Tak lama kemudian makanan mereka diantarkan. Sepertinya sudah lama sekali sejak Sandy makan bersama Jung Tae-Woo. Ia sangat menikmatinya. Ia selalu merasa senang berada di dekat Jung Tae-Woo. Bila ia bersama laki-laki itu, ia merasa lebih tenang, lebih bahagia.
Saat mereka selesai makan, Sandy baru akan mengatakan sesuatu ketika Jung Tae-Woo mengangkat tangan untuk menghentikan ucapannya.
“Aku tahu apa yang kauinginkan,” kata Jung Tae-Woo yakin.
Alis Sandy terangkat.
“Dari tadi kau terus melirik piano di sana itu,” kata Jung Tae-Woo. “Aku sudah tahu kau akan memintaku bermain piano. Benar tidak?”
Sandy kaget dan tertawa. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya.
“Tentu saja,” sahut Jung Tae-Woo. “Karena aku mengenalmu.”
Sandy memerhatikan Jung Tae-Woo saat ia bangkit dari kursi dan berjalan ke arah piano. Pria yang tadinya bermain piano berdiri dan mempersilakan Jung Tae-Woo
166
duduk. Saat itu juga lampu sorot entah di mana menyala menyinari piano itu. Jung Tae-Woo duduk di depan piano dan memosisikan jari-jari tangan di tuts-tutsnya.
Jung Tae-Woo menatap Sandy dan bertanya, “Kau ingin aku memainkan lagu apa?”
“Apa saja,” jawab Sandy cepat.
“Aku sudah menulis sebuah lagu,” kata Jung Tae-Woo sambil menekan beberapa nada di piano. “Sebenarnya lagu ini kutulis untukmu, tapi belum ada liriknya, juga belum ada judulnya. Untuk sementara ini hanya ada nadanya.”
Biarpun begitu, Sandy tetap merasa tersanjung.
Jung Tae-Woo mulai memainkan piano. Sandy sangat suka mendengar Jung Tae-Woo bermain. Setiap nada yang keluar dari piano itu begitu hidup, membentuk melodi indah. Walaupun masih belum ada liriknya, Sandy sangat senang dengan kenyataan bahwa Jung Tae-Woo menulis lagu itu untuknya.
Ketika lagu itu berakhir, Sandy bertepuk tangan bersama para pemusik lain. Sandy mengira Jung Tae-Woo akan kembali ke meja mereka, tapi laki-laki itu malah mengambil mikrofon. Lalu salah seorang pemusik tadi mengambilkan bangku tinggi dan meletakkannya di tengah-tengah panggung. Para pemusik lain bersiap-siap kembali dengan alat musik mereka. Apa yang sedang dilakukan Jung Tae-Woo?
Jung Tae-Woo tersenyum padanya. Laki-laki itu menyalakan mikrofon dan berkata, “Sebenarnya aku ingin menyanyikan laguku sendiri untukmu, tapi tidak ada yang cocok dengan apa yang ingin kukatakan padamu sekarang. Jadi, aku akan menyanyikan lagu lain.” Ia terdiam sejenak dan melanjutkan, “Ada satu lagu yang rasanya cocok.”
Jung Tae-Woo akan menyanyi? Sandy menunggu dengan hati berdebar.
Jung Tae-Woo memberi tanda kepada para pemusik dan musik mulai mengalun. Ia pun mulai bernyanyi.
Sandy menahan napas ketika mengenali lagu itu. Salah satu lagu favoritnya sepanjang masa. Lagu yang dinyanyikan Kang Ta yang berjudul Confession. Dulu, setiap kali mendengarkan lagu ini di CD Kang Ta atau di radio, ia selalu bermimpi suatu saat nanti ada seseorang yang akan menyanyikan lagu ini khusus untuknya. Kini mimpinya menjadi kenyataan. Jung Tae-Woo sedang menyanyikan lagu itu. Khusus untuknya.
Ya... aku ingin hatimu datang padaku
Aku ingin melangkah ke dalam matamu yang sedih
Tidak bisa... kau tidak bisa menerima hatiku semudah itu
Tapi kuharap kau membuka hatimu dan menerimaku
167
Aku bisa merelakan hari-hariku untukmu
Tidakkah kau tahu yang paling berharga hanya dirimu?
Seluruh cintaku akan menjadi bintang
yang akan melindungimu di sisimu
Aku ingin terlelap bersamamu di malam yang sejuk
Tidak banyak yang kumiliki
tapi akan kuserahkan semuanya untukmu
Tolong terimalah cinta dan sedikit mimpiku
Aku bisa merelakan hari-hariku untukmu
Tidakkah kau tahu yang paling berharga adalah dirimu?
Seluruh cintaku akan menjadi bintang
yang akan melindungimu di sisimu
Aku ingin terlelap bersamamu di malam yang sejuk
Tidak banyak yang kumiliki
tapi akan kuserahkan semuanya untukmu
Tolong terimalah cinta dan sedikit mimpiku
Terima kasih...
Aku akan hidup demi dirimu yang bersedia menerima hatiku
Walaupun cahaya di wajahmu meredup
aku akan tetap mencintaimu...
Aku akan tetap mencintaimu...
Aku akan tetap mencintaimu...
(Terjemahan lagu Confession)
Ketika lagu itu berakhir, Sandy baru menyadari air matanya mengalir tanpa sepengetahuannya.
Jung Tae-Woo turun dari panggung dan menghampirinya. Sandy mendongak menatap Jung Tae-Woo yang tersenyum. Lalu laki-laki itu berlutut di samping kursi rodanya.
“Anak bodoh. Kenapa menangis?” tanya Jung Tae-Woo sambil menghapus air mata di pipi Sandy dengan jarinya.
Sandy tidak tahu harus menjawab apa. Ia diam saja sambil memandangi wajah laki-laki di depannya.
Jung Tae-Woo menatapnya lurus-lurus. “Aku mencintaimu.”
Sandy tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya saat itu. Yang ia tahu pipinya terasa panas, air matanya kembali mengalir, lalu Jung Tae-Woo mencondongkan tubuh untuk menciumnya.
“Masih sama. Belum sadar,” kata Tae-Woo sambil duduk di bangku panjang di koridor rumah sakit. Ia menggenggam ponsel yang ditempelkan di telinga dan bersandar ke dinding. Ibunya menelepon dari Amerika untuk menanyakan keadaan Sandy. “Tentu, Ibu. Kalau ada kabar apa pun, aku akan menelepon Ibu... Ya, Hyong masih di sini menemaniku... Ibu tidak usah mencemaskan aku. Aku bisa menjaga diri... Ya, bye.”
Tae-Woo menutup ponsel dan memejamkan mata. Sudah beberapa hari ini tidurnya tidak nyenyak. Ia lelah, tapi tidak bisa terlelap. Orangtua Sandy juga begitu. Ayah Sandy sudah kembali bekerja tapi datang menjenguk putrinya tiap sore. Ibunya selalu berada di rumah sakit. Tadi sepupu Sandy yang bernama Tara datang dan kini menemani ibu Sandy pergi makan siang di kafetaria rumah sakit.
Sambil menarik napas panjang, Tae-Woo kembali ke kamar Sandy. Ia duduk di tempatnya seperti biasa, di sisi tempat tidur. Dokter pernah berkata, bila Sandy sadarkan diri, ia akan baik-baik saja. Masalahnya, dokter tidak tahu kapan Sandy akan sadar. Gadis itu tetap terbaring tak bergerak, tidak membuka mata.
163
Tae-Woo menggenggam tangan Sandy. Tiba-tiba gerakannya terhenti. Ia mengerutkan kening. Apakah ia salah lihat tadi? Sepertinya kelopak mata Sandy bergerak. Tidak, ia hanya bermimpi.
Tapi kemudian ia merasakan tangan Sandy yang sedang digenggam bergerak. Ia tersentak dan menatap wajah Sandy dengan jantung berdebar keras.
Kelopak mata gadis itu bergerak, lalu perlahan-lahan matanya terbuka.
Tae-Woo merasa begitu lega sampai kakinya terasa lemas. Sandy sadar! Ia sudah sadar. Tae-Woo menjulurkan tangan dan menyentuh pipi Sandy. Gadis itu menoleh lemas dan matanya bertemu mata Tae-Woo.
“Kau sudah sadar,” kata Tae-Woo kepadanya, senyumnya mengembang. Ia begitu lega, begitu bahagia sampai ia ingin melompat. “Bagaimana perasaanmu?”
Sandy membuka mulut, tapi terlalu tak bertenaga untuk berbicara. Tae-Woo cepat-cepat menggeleng. “Jangan bicara dulu. Kau masih lemah. Tunggu sebentar, kita harus memanggil dokter.”
Tae-Woo menekan tombol merah di dekat tempat tidur dan kembali memandangi Sandy. Kelihatannya gadis itu masih setengah terjaga, karena matanya sesekali terpejam, lalu terbuka lagi, tapi dari matanya Tae-Woo tahu Sandy mengenalinya.
Gadis itu memandangnya, lalu membuka mulut lagi. Tae-Woo mendekatkan telinganya ke wajah Sandy untuk mendengarkan kata-katanya.
“Aku... rindu... padamu.”
Tae-Woo tertegun. Suara Sandy memang lebih mirip bisikan, tapi ia mendengar kata-kata itu dengan jelas. Tae-Woo tersenyum dan berkata pelan, “Aku juga.”
Tidak lama kemudian, terdengar pintu dibuka. Tae-Woo menoleh dan melihat dokter dan perawat bergegas masuk. Ia menoleh kembali kepada Sandy dan berkata, “Dokter sudah datang. Aku akan pergi sebentar untuk memanggil ibumu. Kau sudah tidak apa-apa. Kau akan baik-baik saja.”
“Ibumu sudah tahu aku yang akan mengantarmu pulang,” kata Jung Tae-Woo sambil meletakkan tas Sandy di sofa kamar.
Hari ini Sandy sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Keadaannya sudah membaik walaupun tubuhnya masih agak lemah. Lagi pula setelah seminggu siuman di rumah sakit, Sandy mulai merasa bosan setengah mati.
Ketika tabrakan keras itu terjadi, hal terakhir yang diingatnya adalah Jung Tae-Woo. Bahwa ia belum bertemu laki-laki itu lagi. Belum bicara dengannya. Ia takut tidak akan pernah punya kesempatan melihat Jung Tae-Woo lagi. Lalu semuanya gelap. Ia tidak tahu apa-apa lagi.
164
Ia nyaris tidak percaya pada apa yang dilihatnya ketika pertama kali membuka mata. Ia melihat wajah Jung Tae-Woo. Seperti sedang bermimpi. Kalau bermimpi, saat itu ia tidak ingin bangun. Tapi ternyata itu kenyataan. Jung Tae-Woo sungguh ada di sana, di sisinya, menggenggam tangannya dan berbicara padanya.
“Kenapa menatapku seperti itu?”
Sandy tersentak dari lamunan dan melihat Jung Tae-Woo sedang menatapnya dengan alis terangkat. Sandy tersenyum dan menggeleng.
Jung Tae-Woo mendorong kursi roda ke samping tempat tidur. “Ayo, kubantu,” katanya.
Sandy membiarkan Jung Tae-Woo menggendongnya dan mendudukkannya di kursi roda. Walaupun sebagian perbannya sudah dilepas, kakinya masih tidak kuat untuk berjalan atau berdiri, karena itu mereka membutuhkan kursi roda.
“Sebelum pulang ke rumah, aku ingin membawamu ke suatu tempat,” kata Jung Tae-Woo sambil meraih tas Sandy dan mendorong kursi roda Sandy keluar pintu.
“Kita mau ke mana?” tanya Sandy heran.
“Aku ingin mengajakmu makan siang. Untuk merayakan kesembuhanmu.”
“Di mana?”
“Kau akan tahu.”
“Kita naik apa?”
“Tentu saja naik mobil. Eh... kau tidak takut, kan?” tanya Jung Tae-Woo agak ragu.
Sandy menggeleng. “Bukan begitu maksudku. Ini bukan di Korea. Di Indonesia kemudi mobil ada di sebelah kanan. Memangnya kau bisa?”
Jung Tae-Woo tertawa. “Ada orang yang akan mengemudikan mobil. Aku juga sudah memperingatkannya untuk mengemudi dengan hati-hati sekali.”
“Siapa?”
“Kalau kukatakan, kau tidak akan kenal siapa dia.”
Sandy memiringkan kepala dan tidak bertanya-tanya lagi. Bertanya juga tidak ada gunanya kalau Jung Tae-Woo sudah tidak mau mengatakan apa-apa.
Ternyata Sandy memang tidak mengenal pria setengah baya yang mengemudikan mobil itu. Sandy melihat Jung Tae-Woo berbicara padanya dalam bahasa Inggris, lalu pria setengah baya itu mengangguk mengerti. Mereka pun berangkat.
Mereka berhenti di hotel terkenal di daerah Jakarta Selatan.
“Kita mau makan di sini?” tanya Sandy ragu-ragu.
“Ya. Aku sudah memesan tempat. Ayo, kubantu keluar,” kata Jung Tae-Woo.
165
Sandy cepat-cepat menahannya. “Tunggu sebentar, Jung Tae-Woo ssi. Aku... maksudku, aku tidak masuk ke tempat seperti itu dengan kursi roda. Maksudku—“
Kata-kata Sandy terputus ketika Jung Tae-Woo memegang wajahnya dengan kedua tangan.
“Tidak apa-apa. Ada aku,” katanya sambil tersenyum menenangkan.
Sandy tidak berkata apa-apa lagi. Ia membiarkan dirinya didudukkan di kursi roda dan didorong masuk ke lobi hotel.
Seorang pegawai hotel sepertinya sudah mengenal Jung Tae-Woo. Ia langsung tersenyum ramah dan langsung menunjukkan jalan menuju restoran.
Sandy merasa agak aneh ketika masuk ke restoran itu dan tidak melihat seorang pun di sana. Hanya ada beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan, menunggu perintah. Sandy juga memerhatikan ada beberapa pria yang memainkan alat musik di panggung kecil di tengah restoran.
Pegawai hotel yang mengantar mereka menunjukkan meja yang sudah disiapkan untuk mereka, di bagian depan, dekat panggung. Sandy juga melihat ada grand piano hitam serta pemusik yang duduk di sana dan memainkannya.
Ketika Jung Tae-Woo sudah duduk berhadapan dengannya, Sandy membuka mulut. “Kenapa aku merasa kau sudah mengatur semua ini?”
“Mengatur apa?” Jung Tae-Woo balas bertanya dengan raut wajah tanpa dosa.
Sandy tersenyum. “Tidak ada orang di restoran ini, kecuali pelayan dan beberapa pemain musik. Jangan-jangan penyebabnya adalah kau.”
Jung Tae-Woo hanya tertawa.
Tak lama kemudian makanan mereka diantarkan. Sepertinya sudah lama sekali sejak Sandy makan bersama Jung Tae-Woo. Ia sangat menikmatinya. Ia selalu merasa senang berada di dekat Jung Tae-Woo. Bila ia bersama laki-laki itu, ia merasa lebih tenang, lebih bahagia.
Saat mereka selesai makan, Sandy baru akan mengatakan sesuatu ketika Jung Tae-Woo mengangkat tangan untuk menghentikan ucapannya.
“Aku tahu apa yang kauinginkan,” kata Jung Tae-Woo yakin.
Alis Sandy terangkat.
“Dari tadi kau terus melirik piano di sana itu,” kata Jung Tae-Woo. “Aku sudah tahu kau akan memintaku bermain piano. Benar tidak?”
Sandy kaget dan tertawa. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya.
“Tentu saja,” sahut Jung Tae-Woo. “Karena aku mengenalmu.”
Sandy memerhatikan Jung Tae-Woo saat ia bangkit dari kursi dan berjalan ke arah piano. Pria yang tadinya bermain piano berdiri dan mempersilakan Jung Tae-Woo
166
duduk. Saat itu juga lampu sorot entah di mana menyala menyinari piano itu. Jung Tae-Woo duduk di depan piano dan memosisikan jari-jari tangan di tuts-tutsnya.
Jung Tae-Woo menatap Sandy dan bertanya, “Kau ingin aku memainkan lagu apa?”
“Apa saja,” jawab Sandy cepat.
“Aku sudah menulis sebuah lagu,” kata Jung Tae-Woo sambil menekan beberapa nada di piano. “Sebenarnya lagu ini kutulis untukmu, tapi belum ada liriknya, juga belum ada judulnya. Untuk sementara ini hanya ada nadanya.”
Biarpun begitu, Sandy tetap merasa tersanjung.
Jung Tae-Woo mulai memainkan piano. Sandy sangat suka mendengar Jung Tae-Woo bermain. Setiap nada yang keluar dari piano itu begitu hidup, membentuk melodi indah. Walaupun masih belum ada liriknya, Sandy sangat senang dengan kenyataan bahwa Jung Tae-Woo menulis lagu itu untuknya.
Ketika lagu itu berakhir, Sandy bertepuk tangan bersama para pemusik lain. Sandy mengira Jung Tae-Woo akan kembali ke meja mereka, tapi laki-laki itu malah mengambil mikrofon. Lalu salah seorang pemusik tadi mengambilkan bangku tinggi dan meletakkannya di tengah-tengah panggung. Para pemusik lain bersiap-siap kembali dengan alat musik mereka. Apa yang sedang dilakukan Jung Tae-Woo?
Jung Tae-Woo tersenyum padanya. Laki-laki itu menyalakan mikrofon dan berkata, “Sebenarnya aku ingin menyanyikan laguku sendiri untukmu, tapi tidak ada yang cocok dengan apa yang ingin kukatakan padamu sekarang. Jadi, aku akan menyanyikan lagu lain.” Ia terdiam sejenak dan melanjutkan, “Ada satu lagu yang rasanya cocok.”
Jung Tae-Woo akan menyanyi? Sandy menunggu dengan hati berdebar.
Jung Tae-Woo memberi tanda kepada para pemusik dan musik mulai mengalun. Ia pun mulai bernyanyi.
Sandy menahan napas ketika mengenali lagu itu. Salah satu lagu favoritnya sepanjang masa. Lagu yang dinyanyikan Kang Ta yang berjudul Confession. Dulu, setiap kali mendengarkan lagu ini di CD Kang Ta atau di radio, ia selalu bermimpi suatu saat nanti ada seseorang yang akan menyanyikan lagu ini khusus untuknya. Kini mimpinya menjadi kenyataan. Jung Tae-Woo sedang menyanyikan lagu itu. Khusus untuknya.
Ya... aku ingin hatimu datang padaku
Aku ingin melangkah ke dalam matamu yang sedih
Tidak bisa... kau tidak bisa menerima hatiku semudah itu
Tapi kuharap kau membuka hatimu dan menerimaku
167
Aku bisa merelakan hari-hariku untukmu
Tidakkah kau tahu yang paling berharga hanya dirimu?
Seluruh cintaku akan menjadi bintang
yang akan melindungimu di sisimu
Aku ingin terlelap bersamamu di malam yang sejuk
Tidak banyak yang kumiliki
tapi akan kuserahkan semuanya untukmu
Tolong terimalah cinta dan sedikit mimpiku
Aku bisa merelakan hari-hariku untukmu
Tidakkah kau tahu yang paling berharga adalah dirimu?
Seluruh cintaku akan menjadi bintang
yang akan melindungimu di sisimu
Aku ingin terlelap bersamamu di malam yang sejuk
Tidak banyak yang kumiliki
tapi akan kuserahkan semuanya untukmu
Tolong terimalah cinta dan sedikit mimpiku
Terima kasih...
Aku akan hidup demi dirimu yang bersedia menerima hatiku
Walaupun cahaya di wajahmu meredup
aku akan tetap mencintaimu...
Aku akan tetap mencintaimu...
Aku akan tetap mencintaimu...
(Terjemahan lagu Confession)
Ketika lagu itu berakhir, Sandy baru menyadari air matanya mengalir tanpa sepengetahuannya.
Jung Tae-Woo turun dari panggung dan menghampirinya. Sandy mendongak menatap Jung Tae-Woo yang tersenyum. Lalu laki-laki itu berlutut di samping kursi rodanya.
“Anak bodoh. Kenapa menangis?” tanya Jung Tae-Woo sambil menghapus air mata di pipi Sandy dengan jarinya.
Sandy tidak tahu harus menjawab apa. Ia diam saja sambil memandangi wajah laki-laki di depannya.
Jung Tae-Woo menatapnya lurus-lurus. “Aku mencintaimu.”
Sandy tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya saat itu. Yang ia tahu pipinya terasa panas, air matanya kembali mengalir, lalu Jung Tae-Woo mencondongkan tubuh untuk menciumnya.
BAB 15 PART 2
Tara memeluk rantang dengan sebelah tangan sementara tangannya yang lain mem-betulkan letak tali tasnya. Rantang berisi makanan itu akan diberikannya kepada orangtua Sandy yang sudah menunggui Sandy semalaman di rumah sakit. Ibu tara yang menyuruhnya membawakan makanan untuk mereka.
Ia melangkah memasuki pintu depan rumah sakit besar itu dan berjalan ke lift. Siang ini ia tidak ada jadwal apa pun, sorenya juga tidak ada acara penting. Tara berencana membujuk oom dan tantenya itu istirahat. Ia bisa menjaga Sandy bila oom dan tantenya mau pulang sebentar. Tara merasa kasihan pada kedua orang itu. Kemarin ibu Sandy banyak menangis dan ayah Sandy juga sempat menangis setelah melihat anak perempuan terbaring di kamar rumah sakit dengan tubuh dan wajah penuh luka.
Ting!
Tara tersentak mendengar denting bel yang menandakan terbukanya pintu lift. Ia mengembuskan napas keras dan keluar dari lift. Ketika akan membelok menuju kamar Sandy, ia menghentikan langkahnya. Di depan pintu kamar Sandy ia melihat dua laki-laki yang tidak dikenalnya sedang berdiri berhadapan dengan kedua orangtua Sandy. Tara melihat oomnya merangkul tantenya yang sesekali menyeka air mata dengan sapu tangan sambil mengangguk-angguk kecil.
160
Tara menyipitkan mata. Sepertinya ia pernah melihat salah satu dari kedua laki-laki itu. Bukan yan berkacamata, tapi yang berdiri di samping temannya dengan kepala tertunduk. Raut wajah laki-laki itu kelihatan kusut. Tunggu... bukankah laki-laki itu sama dengan laki-laki yang fotonya ada di sampul depan CD yang pernah ditunjukkan Sandy kepadanya? Tara memerhatikan lebih cermat lagi. Benar... memang orang itu. Orang itu berarti... artis?
Kemudian Tara melihat orangtua Sandy berjalan mengikuti si laki-laki berkacamata. Si artis menundukkan kepala kepada orangtua Sandy, tapi ia tidak ikut pergi. Ia tetap berdiri di depan pintu kamar tempat Sandy dirawat.
Laki-laki itu memegang pegangan pintu kamar sejenak. Tidak bergerak. Lalu dengan perlahan ia membuka pintu dan masuk.
Tae-Woo merasa tubuhnya lelah sekali. Belum pernah ia merasa seperti ini. Seluruh tenaganya seakan sudah terserap habis. Dadanya terasa begitu berat. Ia naik pesawat pertama yang bisa didapatkannya ke Jakarta, lalu langsung ke rumah sakit tempat Sandy dirawat. Semuanya berjalan seperti mimpi. Ketika ia bertemu kedua orangtua Sandy untuk pertama kalinya, ketika ia berbicara pada mereka, meminta supaya ia diizinkan melihat Sandy, ia masih merasa dalam keadaan setengah sadar.
Ia masuk ke kamar Sandy dan hatinya seakan diremas begitu kuat ketika melihat gadis itu berbaring dengan mata terpejam. Tae-Woo menghampiri tempat tidur dan memerhatikan wajah Sandy yang lebam. Kepalanya diperban, begitu juga siku dan sebelah kakinya.
Tae-Woo menarik kursi dan duduk di sisi tempat tidur. Ia tersenyum lemah.
“Ini aku,” bisiknya pelan.
Gadis itu tetap diam tidak bergerak.
Tae-Woo menjulurkan tangan dan menyentuh tangan Sandy. “Sudah lama tidak melihatmu. Kau tahu, aku hampir melupakan wajahmu. Kalau aku sampai lupa bagaimana wajahmu, aku tidak bakal bisa melakukan apa pun lagi. Kau tahu kenapa? Karena aku akan terlalu sibuk berusaha mengingat wajahmu sampai-sampai tidak mampu memikirkan masalah lain. Gawat, kan?”
Ia membelai pipi Sandy dengan ujung jemarinya. “Sekarang setelah melihatmu, aku baru ingat. Ah, benar... Matamu seperti ini... hidungmu seperti ini... mulutmu... dahimu... dan rambutmu.”
Ia menggenggam tangan gadis itu dengan lembut. “Kenapa aku bisa lupa wajahmu?” Tae-Woo mendesah. “Ingatanku memang buruk, aku tahu. Menurutmu
Ia melangkah memasuki pintu depan rumah sakit besar itu dan berjalan ke lift. Siang ini ia tidak ada jadwal apa pun, sorenya juga tidak ada acara penting. Tara berencana membujuk oom dan tantenya itu istirahat. Ia bisa menjaga Sandy bila oom dan tantenya mau pulang sebentar. Tara merasa kasihan pada kedua orang itu. Kemarin ibu Sandy banyak menangis dan ayah Sandy juga sempat menangis setelah melihat anak perempuan terbaring di kamar rumah sakit dengan tubuh dan wajah penuh luka.
Ting!
Tara tersentak mendengar denting bel yang menandakan terbukanya pintu lift. Ia mengembuskan napas keras dan keluar dari lift. Ketika akan membelok menuju kamar Sandy, ia menghentikan langkahnya. Di depan pintu kamar Sandy ia melihat dua laki-laki yang tidak dikenalnya sedang berdiri berhadapan dengan kedua orangtua Sandy. Tara melihat oomnya merangkul tantenya yang sesekali menyeka air mata dengan sapu tangan sambil mengangguk-angguk kecil.
160
Tara menyipitkan mata. Sepertinya ia pernah melihat salah satu dari kedua laki-laki itu. Bukan yan berkacamata, tapi yang berdiri di samping temannya dengan kepala tertunduk. Raut wajah laki-laki itu kelihatan kusut. Tunggu... bukankah laki-laki itu sama dengan laki-laki yang fotonya ada di sampul depan CD yang pernah ditunjukkan Sandy kepadanya? Tara memerhatikan lebih cermat lagi. Benar... memang orang itu. Orang itu berarti... artis?
Kemudian Tara melihat orangtua Sandy berjalan mengikuti si laki-laki berkacamata. Si artis menundukkan kepala kepada orangtua Sandy, tapi ia tidak ikut pergi. Ia tetap berdiri di depan pintu kamar tempat Sandy dirawat.
Laki-laki itu memegang pegangan pintu kamar sejenak. Tidak bergerak. Lalu dengan perlahan ia membuka pintu dan masuk.
Tae-Woo merasa tubuhnya lelah sekali. Belum pernah ia merasa seperti ini. Seluruh tenaganya seakan sudah terserap habis. Dadanya terasa begitu berat. Ia naik pesawat pertama yang bisa didapatkannya ke Jakarta, lalu langsung ke rumah sakit tempat Sandy dirawat. Semuanya berjalan seperti mimpi. Ketika ia bertemu kedua orangtua Sandy untuk pertama kalinya, ketika ia berbicara pada mereka, meminta supaya ia diizinkan melihat Sandy, ia masih merasa dalam keadaan setengah sadar.
Ia masuk ke kamar Sandy dan hatinya seakan diremas begitu kuat ketika melihat gadis itu berbaring dengan mata terpejam. Tae-Woo menghampiri tempat tidur dan memerhatikan wajah Sandy yang lebam. Kepalanya diperban, begitu juga siku dan sebelah kakinya.
Tae-Woo menarik kursi dan duduk di sisi tempat tidur. Ia tersenyum lemah.
“Ini aku,” bisiknya pelan.
Gadis itu tetap diam tidak bergerak.
Tae-Woo menjulurkan tangan dan menyentuh tangan Sandy. “Sudah lama tidak melihatmu. Kau tahu, aku hampir melupakan wajahmu. Kalau aku sampai lupa bagaimana wajahmu, aku tidak bakal bisa melakukan apa pun lagi. Kau tahu kenapa? Karena aku akan terlalu sibuk berusaha mengingat wajahmu sampai-sampai tidak mampu memikirkan masalah lain. Gawat, kan?”
Ia membelai pipi Sandy dengan ujung jemarinya. “Sekarang setelah melihatmu, aku baru ingat. Ah, benar... Matamu seperti ini... hidungmu seperti ini... mulutmu... dahimu... dan rambutmu.”
Ia menggenggam tangan gadis itu dengan lembut. “Kenapa aku bisa lupa wajahmu?” Tae-Woo mendesah. “Ingatanku memang buruk, aku tahu. Menurutmu
BAB 15 PART 1
“HEI, lagi dengerin lagu apa nih?”
Sandy menoleh ke arah suara yang bernada ceria dan penuh semangat itu. Tara, saudara sepupunya yang sebaya dengannya, masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Sebelum Sandy menjawab, Tara sudah meraih kotak CD yang sedang dipegang Sandy.
“Cakep amat nih cowok,” komentarnya ketika melihat cover depan CD yang gambarnya foto Jung Tae-Woo itu. “Lho, San, kok ada tanda tangan segala? Ini beneran tanda tangan penyanyi ini? Lo pernah ketemu?”
Sandy tertawa dan merebut kotak CD itu kembali. “Ya. Waktu itu aku pergi ke acara jumpa penggemarnya.”
Ia melihat Tara hanya meringis dan mengangkat bahu. Ada kalanya ia ingin seperti sepupunya itu. Tara gadis yang periang, santai, dan berbakat dalam bahasa. Lihat saja, walaupun menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Paris bersama ayahnya dan hanya sesekali mengunjungi ibunya di Jakarta bila sedang liburan seperti sekarang, bahasa Indonesia Tara tanpa cela. Bahkan ia sama sekali tidak kesulitan mengikuti perkembangan bahasa gaul Indonesia. Tidak seperti Sandy yang bahasa Indonesia-nya masih terdengar agak resmi.
“Ada rencana apa hari ini?” tanya Sandy. “Kok pagi-pagi sudah ke sini?”
“Gue bosan di rumah,” jawab sepupunya ringan. Ia duduk di tepi tempat tidur Sandy dan merapikan ikal-ikal rambutnya. “Ngomong-ngomong, lo kok tiba-tiba nongol di Jakarta. Bikin kaget aja. Lagi patah ati?”
“Apa?”
“Udah punya gebetan belon sih?” Tara mengganti pertanyaannya.
155
“Apa itu gebetan?”
Mata Tara melebar. “Yee... lo ini orang Indonesia apa bukan?” katanya sambil tertawa kecil. “Maksud gue tuh, lo udah punya cowok yang ditaksir belon? Udah punya cowok belon? Gitu lho.”
Senyum Sandy mengembang. “Sudah,” jawabnya sambil menunjuk gambar cover depan CD Jung Tae-Woo. “Ini dia.”
Tara meringis. “Iye, gue juga punya affair sama Brad Pitt,” katanya cepat. “Gimana sih, ditanya baek-baek kok jawabnya gitu.”
Sandy juga sudah memperkirakan Tara tidak akan percaya. Ia menatap wajah Jung Tae-Woo di cover CD itu. Sudah satu minggu ia berada di Jakarta, dan selama satu minggu itu ia tidak bisa melihat foto-foto dan artikel Jung Tae-Woo di tabloid dan di televisi. Namun masih ada Young-Mi yang sering mengirimkan SMS untuk mencerita-kan kabar terbaru. Jung Tae-Woo juga kadang-kadang mengirim SMS untuk mengabarkan keadaannya.
“Tara, bisa pinjam handphone-mu sebentar?”
“Pourquoi? Kenapa?” tanya Tara sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya.
“Pulsaku sudah habis. Aku mau kirim SMS ke temanku di Korea. Aku mau bilang lusa aku akan balik ke Korea,” Sandy menjelaskan.
Tara menggeleng-geleng sambil mendesah. “Lo jangan ngomong pake bahasa yang seresmi itu dong. Gue jadi merinding nih. Pake aku-kamu segala. Emang kita pacaran?”
Sandy hanya tertawa. Tara membantunya mengirim SMS kepada Young-Mi dalam bahasa Inggris karena ponsel Tara tidak memiliki fasilitas huruf hangeul dan karena Sandy sendiri tidak begitu bisa bahasa Inggris. Menulis bahasa Korea tanpa hangeul terasa terlalu aneh.
“Nih, udah kekirim,” kata Tara, lalu ia bangkit dari tempat tidur Sandy. “Sekarang kita cabut yuk!”
“Apa? Kamu mau ke mana?”
Tara memandangi dirinya di cermin yang tergantung di dinding, berbalik ke kiri, berbalik ke kanan, lalu mendekatkan wajah ke cermin, seakan-akan ingin memeriksa apakah ada setitik debu di ujung hidungnya. “Kita ke Bandung. Mau nggak?” usul Tara sambil menjauhkan wajahnya dari cermin. “Gue lagi pengin jalan nih. Bukan cuma lo yang patah ati. Gue juga lagi bete. Hari ini kita have fun aja. Ayo dong! Lelet amat sih nih anak. Ganti baju sana!”
* * *
156
“Jadi kamu pasti kembali hari ini?” tanya Young-Mi dengan ponsel yang ditempelkan di telinga. Ia mengucapkan terima kasih kepada pelayan toko yang menyerahkan barang belanjaannya dan kembali memusatkan perhatian pada Sandy yang sedang berbicara di ujung sana.
“Mm,” jawab Sandy. Suaranya kurang jelas karena sambungan internasional. “Sekarang aku sedang dalam perjalanan pulang. Dua jam lagi aku akan berangkat lagi ke bandara. Pesawatku berangkat tengah malam, jadi menurut jadwal aku akan sampai besok pagi.”
Young-Mi mendorong pintu kaca toko dan keluar. “Oke. Aku akan menjemputmu di bandara nanti.”
“Tidak usah. Aku bisa naik taksi sendiri. Bukankah kau harus membantu ibumu?”
“Biasanya tidak ada pelanggan yang datang pada jam-jam segitu,” bantah Young-Mi. “Jung Tae-Woo sedang di Amerika Serikat, jadi tidak bisa pergi menjemputmu.”
“Aku tahu. Dia pulang hari ini juga, tapi mungkin sampai di Seoul agak malam besok.”
Young-Mi meringis. “Rupanya kau masih berhubungan dengan dia. Memangnya ibumu tidak marah-marah?”
Young-Mi mendengar temannya tertawa kecil di seberang sana, lalu Sandy berkata, “Tidak, sebenarnya ibuku tidak benar-benar marah. Ibuku hanya sedih karena teringat lagi pada Lisa. Ibuku juga kesal karena kedua anak perempuannya menjadi bahan pembicaraan di Korea. Tapi sekarang gosipnya sudah mereda, kan?”
Young-Mi mengangguk, walaupun ia tahu Sandy tidak bisa melihat anggukan kepalanya. “Ya, Jung Tae-Woo sudah menyelesaikannya. Entah bagaimana. Setidaknya sekarang dia memang sibuk sekali.”
“Oh, begit—AHH!”
Young-Mi berhenti berjalan. Ia mengerutkan kening. “Halo? Halo? Soon-Hee?”
Tidak ada jawaban. Sambungan telepon sudah terputus. Young-Mi menatap ponselnya, lalu menelepon ponsel Sandy. Tidak bisa. Young-Mi mencoba sekali lagi. Tetap tidak bisa.
Awalnya Young-Mi tidak begitu merisaukan hubungan telepon yang terputus, tapi ketika tidak bisa menemukan Sandy di bandara waktu ia menjemput keesokan harinya, ia mulai cemas. Ia kembali berusaha menghubungi ponsel Sandy, tapi tetap tidak bisa tersambung.
Young-Mi kebingungan. Ia tidak tahu nomor telepon rumah Sandy di Jakarta. Ia harus menghubungi siapa? Tiba-tiba ia teringat pada SMS yang diterimanya dari Sandy dengan menggunakan ponsel saudara sepupunya. Young-Mi memeriksa ponselnya. Semoga saja SMS dari nomor ponsel sepupu Sandy itu masih ada.
157
Ah, ternyata belum dihapus. Syukurlah.
Young-Mi cepat-cepat menghubungi nomor itu dan menunggu dengan tidak sabar.
“Halo?” Terdengar jawaban dari seberang sana. Suara perempuan. Saudara sepupu Sandy atau bukan? Sepertinya memang benar.
Young-Mi berusaha menyusun kata-kata dalam bahasa Inggris secara kilat. “Hello,” katanya ragu-ragu. “Is this Soon-Hee‟s cousin?”
“Yes,” jawab perempuan itu. Suaranya terdengar aneh. “This is Tara. Who‟s speaking?”
Untunglah sepupu Sandy bisa berbahasa Inggris dengan lancar. “My name is Kang Young-Mi. Soon-Hee‟s friend from Korea,” kata Young-Mi memperkenalkan diri. “I need to ask you something. Soon-Hee told me that she would arrive in Korea today,b ut I couldn‟t find her at the airport. She couldn‟t make it?”
Begitu mendengar jawaban sepupu Sandy, mata Young-Mi terbelalak. ”Apa?! I‟m sorry... what was that? Can you say that again, please?”
Young-Mi merasa tubuhnya lemas seketika. Begitu memutuskan hubungan, ia langsung menghubungi Jung Tae-Woo melalui ponsel Park Hyun-Shik karena ia tidak punya nomor ponsel Jung Tae-Woo. Tidak tersambung. Mungkin Park Hyun-Shik dan Jung Tae-Woo sedan berada dalam pesawat yang membawa mereka pulang ke Korea dari Amerika Serikat.
Young-Mi menutup flap ponselnya dengan keras. Ia mengacak-acak rambut dengan perasaan putus asa. Ia harus segera memberitahu Jung Tae-Woo apa yang sudah terjadi pada Sandy.
“Lelah sekali,” gumam Park Hyun-Shik sambil masuk ke mobil yang sudah menunggu mereka di pintu depan bandara.
Tae-Woo menyandarkan kepala ke kursi. Sandy seharusnya sudah kembali ke Korea hari ini. Benarkah telah nyaris satu bulan berlalu sejak terakhir ia bertemu gadis itu? Hari ini ia bakal bisa menemuinya. Tae-Woo merasa semangatnya pulih kembali begitu berpikir ia bisa melihat Sandy.
Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri sejak kapan gadis itu menjadi salah satu alasannya untuk menjalani hari-hari. Karena ingin melihat dan bersama gadis itu, maka ia tetap bertahan, tetap bangun di pagi hari, tetap bernapas. Sekarang Tae-Woo bisa memahami apa artinya bila seseorang ingin tetap bertahan hidup demi orang lain. Ia sering menonton drama yang tokoh utamanya mengidap penyakit parah yang mematikan, namun ingin tetap bertahan hidup demi orang yang dicintainya. Sebelum ini, Tae-Woo tidak terlalu memahami perasaan seperti itu tapi sekarang, walaupun
158
tidak mengidap penyakit apa pun, ia ingin tetap hidup. Karena dalam hidup ini, ada seseorang yang sangat berharga baginya. Karena dalam hidup ini, ia ingin selalu bisa melihat dan bersama orang itu.
“Aneh. Teman Sandy yang bernama Kang Young-Mi itu sudah meneleponku belasan kali.”
Lamunan Tae-Woo dibuyarkan suara manajernya. Ia menoleh dan melihat Park Hyun-Shik sedang mengerutkan kening menatap ponselnya.
“Kang Young-Mi?” tanya Tae-Woo.
Park Hyun-Shik mengangguk. “Aku juga baru tahu setelah kuaktifkan ponselku kembali.”
Tae-Woo ikut mengeluarkan ponsel dan mengaktifkannya.
Tiba-tiba ponsel Park Hyun-Shik berbunyi.
“Dari Kang Young-Mi,” kata Park Hyun-Shik dan segera menjawab teleponnya.
Tae-Woo memerhatikan manajernya berbicara dengan teman Sandy itu.
“Kang Young-Mi ssi, bicaranya pelan-pelan saja. Aku tidak mengerti apa yang kaukatakan,” kata Park Hyun-Shik. “Jung Tae-Woo? ... Ya, dia ada di sini... Mau bicara dengannya? ... Oke, sebentar.”
Tae-Woo mengerutkan dahi. Mendadak saja perasaannya tidak enak. Apa ada hubungannya dengan Sandy?
Ia menerima ponsel dari Park Hyun-Shik. “Ya?”
“Jung Tae-Woo ssi, aku ingin memberitahumu lebih awal, tapi ponsel Paman Park Hyun-Shik tidak aktif dan aku tidak tahu nomor ponselmu.” Tae-Woo mendengar suara teman Sandy itu agak gugup dan kacau.
“Aku dan Hyun-Shik Hyong memang baru turun dari pesawat, jadi ponsel kami berdua tidak aktif tadi,” Tae-Woo menjelaskan. Perasaannya semakin tidak enak. “Ada apa kau mencariku?”
“Soon-Hee...”
Kenapa ia tiba-tiba merasa sulit bernapas?
“Ada apa dengan Sandy?” tanyanya. Tangannya mulai terasa dingin. Ia sendiri mulai panik. “Di mana dia?”
“Soon-Hee masih di Jakarta.”
“Dia tidak pulang hari ini? Kenapa?”
Kang Young-Mi tidak bersuara sejenak. Tae-Woo baru akan memanggilnya ketika gadis itu berbicara lagi. “Dia mengalami kecelakaan.”
“Apa?”
Kali ini penjelasan Kang Young-Mi mengalir dengan lancar. “Tadi aku sudah menelepon saudara sepupunya yang ada di Jakarta karena ponsel Soon-Hee tidak bisa
159
dihubungi. Dia yang mengatakan padaku Soon-Hee mengalami kecelakaan lalu lintas. Taksi yang ditumpanginya terlibat dalam tabrakan beruntun di jalan tol.”
Tae-Woo merasa dadanya berat sekali, susah bernapas, darahnya seolah-olah membeku begitu saja. “Bagaimana keadaannya sekarang?”
“Belum sadar.” Suara Kang Young-Mi mulai pecah. Sepertinya gadis itu mulai menangis.
Belum sadarkan diri... Ya Tuhan...
Tae-Woo berusaha keras untuk menarik napas. “Di rumah sakit mana? ... Aku mengerti... Terima kasih.”
Sandy sedang terbaring tidak sadarkan diri...
“Tae-Woo, ada apa? Sandy masuk rumah sakit?”
Tae-Woo mendengar suara Park Hyun-Shik, tapi ia tidak punya tenaga untuk menjawab. Pikirannya kalut.
“Hei, Jung Tae-Woo!”
“Aku harus ke sana,” katanya cepat tanpa memandang manajernya. “Aku harus ke Jakarta.”
Sandy menoleh ke arah suara yang bernada ceria dan penuh semangat itu. Tara, saudara sepupunya yang sebaya dengannya, masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Sebelum Sandy menjawab, Tara sudah meraih kotak CD yang sedang dipegang Sandy.
“Cakep amat nih cowok,” komentarnya ketika melihat cover depan CD yang gambarnya foto Jung Tae-Woo itu. “Lho, San, kok ada tanda tangan segala? Ini beneran tanda tangan penyanyi ini? Lo pernah ketemu?”
Sandy tertawa dan merebut kotak CD itu kembali. “Ya. Waktu itu aku pergi ke acara jumpa penggemarnya.”
Ia melihat Tara hanya meringis dan mengangkat bahu. Ada kalanya ia ingin seperti sepupunya itu. Tara gadis yang periang, santai, dan berbakat dalam bahasa. Lihat saja, walaupun menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Paris bersama ayahnya dan hanya sesekali mengunjungi ibunya di Jakarta bila sedang liburan seperti sekarang, bahasa Indonesia Tara tanpa cela. Bahkan ia sama sekali tidak kesulitan mengikuti perkembangan bahasa gaul Indonesia. Tidak seperti Sandy yang bahasa Indonesia-nya masih terdengar agak resmi.
“Ada rencana apa hari ini?” tanya Sandy. “Kok pagi-pagi sudah ke sini?”
“Gue bosan di rumah,” jawab sepupunya ringan. Ia duduk di tepi tempat tidur Sandy dan merapikan ikal-ikal rambutnya. “Ngomong-ngomong, lo kok tiba-tiba nongol di Jakarta. Bikin kaget aja. Lagi patah ati?”
“Apa?”
“Udah punya gebetan belon sih?” Tara mengganti pertanyaannya.
155
“Apa itu gebetan?”
Mata Tara melebar. “Yee... lo ini orang Indonesia apa bukan?” katanya sambil tertawa kecil. “Maksud gue tuh, lo udah punya cowok yang ditaksir belon? Udah punya cowok belon? Gitu lho.”
Senyum Sandy mengembang. “Sudah,” jawabnya sambil menunjuk gambar cover depan CD Jung Tae-Woo. “Ini dia.”
Tara meringis. “Iye, gue juga punya affair sama Brad Pitt,” katanya cepat. “Gimana sih, ditanya baek-baek kok jawabnya gitu.”
Sandy juga sudah memperkirakan Tara tidak akan percaya. Ia menatap wajah Jung Tae-Woo di cover CD itu. Sudah satu minggu ia berada di Jakarta, dan selama satu minggu itu ia tidak bisa melihat foto-foto dan artikel Jung Tae-Woo di tabloid dan di televisi. Namun masih ada Young-Mi yang sering mengirimkan SMS untuk mencerita-kan kabar terbaru. Jung Tae-Woo juga kadang-kadang mengirim SMS untuk mengabarkan keadaannya.
“Tara, bisa pinjam handphone-mu sebentar?”
“Pourquoi? Kenapa?” tanya Tara sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya.
“Pulsaku sudah habis. Aku mau kirim SMS ke temanku di Korea. Aku mau bilang lusa aku akan balik ke Korea,” Sandy menjelaskan.
Tara menggeleng-geleng sambil mendesah. “Lo jangan ngomong pake bahasa yang seresmi itu dong. Gue jadi merinding nih. Pake aku-kamu segala. Emang kita pacaran?”
Sandy hanya tertawa. Tara membantunya mengirim SMS kepada Young-Mi dalam bahasa Inggris karena ponsel Tara tidak memiliki fasilitas huruf hangeul dan karena Sandy sendiri tidak begitu bisa bahasa Inggris. Menulis bahasa Korea tanpa hangeul terasa terlalu aneh.
“Nih, udah kekirim,” kata Tara, lalu ia bangkit dari tempat tidur Sandy. “Sekarang kita cabut yuk!”
“Apa? Kamu mau ke mana?”
Tara memandangi dirinya di cermin yang tergantung di dinding, berbalik ke kiri, berbalik ke kanan, lalu mendekatkan wajah ke cermin, seakan-akan ingin memeriksa apakah ada setitik debu di ujung hidungnya. “Kita ke Bandung. Mau nggak?” usul Tara sambil menjauhkan wajahnya dari cermin. “Gue lagi pengin jalan nih. Bukan cuma lo yang patah ati. Gue juga lagi bete. Hari ini kita have fun aja. Ayo dong! Lelet amat sih nih anak. Ganti baju sana!”
* * *
156
“Jadi kamu pasti kembali hari ini?” tanya Young-Mi dengan ponsel yang ditempelkan di telinga. Ia mengucapkan terima kasih kepada pelayan toko yang menyerahkan barang belanjaannya dan kembali memusatkan perhatian pada Sandy yang sedang berbicara di ujung sana.
“Mm,” jawab Sandy. Suaranya kurang jelas karena sambungan internasional. “Sekarang aku sedang dalam perjalanan pulang. Dua jam lagi aku akan berangkat lagi ke bandara. Pesawatku berangkat tengah malam, jadi menurut jadwal aku akan sampai besok pagi.”
Young-Mi mendorong pintu kaca toko dan keluar. “Oke. Aku akan menjemputmu di bandara nanti.”
“Tidak usah. Aku bisa naik taksi sendiri. Bukankah kau harus membantu ibumu?”
“Biasanya tidak ada pelanggan yang datang pada jam-jam segitu,” bantah Young-Mi. “Jung Tae-Woo sedang di Amerika Serikat, jadi tidak bisa pergi menjemputmu.”
“Aku tahu. Dia pulang hari ini juga, tapi mungkin sampai di Seoul agak malam besok.”
Young-Mi meringis. “Rupanya kau masih berhubungan dengan dia. Memangnya ibumu tidak marah-marah?”
Young-Mi mendengar temannya tertawa kecil di seberang sana, lalu Sandy berkata, “Tidak, sebenarnya ibuku tidak benar-benar marah. Ibuku hanya sedih karena teringat lagi pada Lisa. Ibuku juga kesal karena kedua anak perempuannya menjadi bahan pembicaraan di Korea. Tapi sekarang gosipnya sudah mereda, kan?”
Young-Mi mengangguk, walaupun ia tahu Sandy tidak bisa melihat anggukan kepalanya. “Ya, Jung Tae-Woo sudah menyelesaikannya. Entah bagaimana. Setidaknya sekarang dia memang sibuk sekali.”
“Oh, begit—AHH!”
Young-Mi berhenti berjalan. Ia mengerutkan kening. “Halo? Halo? Soon-Hee?”
Tidak ada jawaban. Sambungan telepon sudah terputus. Young-Mi menatap ponselnya, lalu menelepon ponsel Sandy. Tidak bisa. Young-Mi mencoba sekali lagi. Tetap tidak bisa.
Awalnya Young-Mi tidak begitu merisaukan hubungan telepon yang terputus, tapi ketika tidak bisa menemukan Sandy di bandara waktu ia menjemput keesokan harinya, ia mulai cemas. Ia kembali berusaha menghubungi ponsel Sandy, tapi tetap tidak bisa tersambung.
Young-Mi kebingungan. Ia tidak tahu nomor telepon rumah Sandy di Jakarta. Ia harus menghubungi siapa? Tiba-tiba ia teringat pada SMS yang diterimanya dari Sandy dengan menggunakan ponsel saudara sepupunya. Young-Mi memeriksa ponselnya. Semoga saja SMS dari nomor ponsel sepupu Sandy itu masih ada.
157
Ah, ternyata belum dihapus. Syukurlah.
Young-Mi cepat-cepat menghubungi nomor itu dan menunggu dengan tidak sabar.
“Halo?” Terdengar jawaban dari seberang sana. Suara perempuan. Saudara sepupu Sandy atau bukan? Sepertinya memang benar.
Young-Mi berusaha menyusun kata-kata dalam bahasa Inggris secara kilat. “Hello,” katanya ragu-ragu. “Is this Soon-Hee‟s cousin?”
“Yes,” jawab perempuan itu. Suaranya terdengar aneh. “This is Tara. Who‟s speaking?”
Untunglah sepupu Sandy bisa berbahasa Inggris dengan lancar. “My name is Kang Young-Mi. Soon-Hee‟s friend from Korea,” kata Young-Mi memperkenalkan diri. “I need to ask you something. Soon-Hee told me that she would arrive in Korea today,b ut I couldn‟t find her at the airport. She couldn‟t make it?”
Begitu mendengar jawaban sepupu Sandy, mata Young-Mi terbelalak. ”Apa?! I‟m sorry... what was that? Can you say that again, please?”
Young-Mi merasa tubuhnya lemas seketika. Begitu memutuskan hubungan, ia langsung menghubungi Jung Tae-Woo melalui ponsel Park Hyun-Shik karena ia tidak punya nomor ponsel Jung Tae-Woo. Tidak tersambung. Mungkin Park Hyun-Shik dan Jung Tae-Woo sedan berada dalam pesawat yang membawa mereka pulang ke Korea dari Amerika Serikat.
Young-Mi menutup flap ponselnya dengan keras. Ia mengacak-acak rambut dengan perasaan putus asa. Ia harus segera memberitahu Jung Tae-Woo apa yang sudah terjadi pada Sandy.
“Lelah sekali,” gumam Park Hyun-Shik sambil masuk ke mobil yang sudah menunggu mereka di pintu depan bandara.
Tae-Woo menyandarkan kepala ke kursi. Sandy seharusnya sudah kembali ke Korea hari ini. Benarkah telah nyaris satu bulan berlalu sejak terakhir ia bertemu gadis itu? Hari ini ia bakal bisa menemuinya. Tae-Woo merasa semangatnya pulih kembali begitu berpikir ia bisa melihat Sandy.
Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri sejak kapan gadis itu menjadi salah satu alasannya untuk menjalani hari-hari. Karena ingin melihat dan bersama gadis itu, maka ia tetap bertahan, tetap bangun di pagi hari, tetap bernapas. Sekarang Tae-Woo bisa memahami apa artinya bila seseorang ingin tetap bertahan hidup demi orang lain. Ia sering menonton drama yang tokoh utamanya mengidap penyakit parah yang mematikan, namun ingin tetap bertahan hidup demi orang yang dicintainya. Sebelum ini, Tae-Woo tidak terlalu memahami perasaan seperti itu tapi sekarang, walaupun
158
tidak mengidap penyakit apa pun, ia ingin tetap hidup. Karena dalam hidup ini, ada seseorang yang sangat berharga baginya. Karena dalam hidup ini, ia ingin selalu bisa melihat dan bersama orang itu.
“Aneh. Teman Sandy yang bernama Kang Young-Mi itu sudah meneleponku belasan kali.”
Lamunan Tae-Woo dibuyarkan suara manajernya. Ia menoleh dan melihat Park Hyun-Shik sedang mengerutkan kening menatap ponselnya.
“Kang Young-Mi?” tanya Tae-Woo.
Park Hyun-Shik mengangguk. “Aku juga baru tahu setelah kuaktifkan ponselku kembali.”
Tae-Woo ikut mengeluarkan ponsel dan mengaktifkannya.
Tiba-tiba ponsel Park Hyun-Shik berbunyi.
“Dari Kang Young-Mi,” kata Park Hyun-Shik dan segera menjawab teleponnya.
Tae-Woo memerhatikan manajernya berbicara dengan teman Sandy itu.
“Kang Young-Mi ssi, bicaranya pelan-pelan saja. Aku tidak mengerti apa yang kaukatakan,” kata Park Hyun-Shik. “Jung Tae-Woo? ... Ya, dia ada di sini... Mau bicara dengannya? ... Oke, sebentar.”
Tae-Woo mengerutkan dahi. Mendadak saja perasaannya tidak enak. Apa ada hubungannya dengan Sandy?
Ia menerima ponsel dari Park Hyun-Shik. “Ya?”
“Jung Tae-Woo ssi, aku ingin memberitahumu lebih awal, tapi ponsel Paman Park Hyun-Shik tidak aktif dan aku tidak tahu nomor ponselmu.” Tae-Woo mendengar suara teman Sandy itu agak gugup dan kacau.
“Aku dan Hyun-Shik Hyong memang baru turun dari pesawat, jadi ponsel kami berdua tidak aktif tadi,” Tae-Woo menjelaskan. Perasaannya semakin tidak enak. “Ada apa kau mencariku?”
“Soon-Hee...”
Kenapa ia tiba-tiba merasa sulit bernapas?
“Ada apa dengan Sandy?” tanyanya. Tangannya mulai terasa dingin. Ia sendiri mulai panik. “Di mana dia?”
“Soon-Hee masih di Jakarta.”
“Dia tidak pulang hari ini? Kenapa?”
Kang Young-Mi tidak bersuara sejenak. Tae-Woo baru akan memanggilnya ketika gadis itu berbicara lagi. “Dia mengalami kecelakaan.”
“Apa?”
Kali ini penjelasan Kang Young-Mi mengalir dengan lancar. “Tadi aku sudah menelepon saudara sepupunya yang ada di Jakarta karena ponsel Soon-Hee tidak bisa
159
dihubungi. Dia yang mengatakan padaku Soon-Hee mengalami kecelakaan lalu lintas. Taksi yang ditumpanginya terlibat dalam tabrakan beruntun di jalan tol.”
Tae-Woo merasa dadanya berat sekali, susah bernapas, darahnya seolah-olah membeku begitu saja. “Bagaimana keadaannya sekarang?”
“Belum sadar.” Suara Kang Young-Mi mulai pecah. Sepertinya gadis itu mulai menangis.
Belum sadarkan diri... Ya Tuhan...
Tae-Woo berusaha keras untuk menarik napas. “Di rumah sakit mana? ... Aku mengerti... Terima kasih.”
Sandy sedang terbaring tidak sadarkan diri...
“Tae-Woo, ada apa? Sandy masuk rumah sakit?”
Tae-Woo mendengar suara Park Hyun-Shik, tapi ia tidak punya tenaga untuk menjawab. Pikirannya kalut.
“Hei, Jung Tae-Woo!”
“Aku harus ke sana,” katanya cepat tanpa memandang manajernya. “Aku harus ke Jakarta.”
BAB 14
SEJAK hari itu, Sandy mengalami hari-hari biasa. Walaupun juru bicara Jung Tae-Woo sudah meluruskan gosip itu, tentu saja tidak semua pihak menerimanya sebagai kenyataan. Masih saja ada penggemar Jung Tae-Woo yang mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan dan menyebarkannya di internet. Sandy juga tidak bisa berjalan-jalan sendirian di tempat umum lagi. Sekarang banyak orang yang mengenalinya, terlebih lagi remaja-remaja penggemar Jung Tae-Woo. Ada yang bersikap sopan, hanya tersenyum ketika mengenalinya. Tapi ada juga yang kasar, menuduhnya memperalat dan menghancurkan nama baik Jung Tae-Woo, bahkan ada yang menuduhnya memanfaatkan kecelakaan kakaknya sendiri demi mendapatkan Jung Tae-Woo.
Sandy menyadari bahwa yang mengalami masa-masa sulit tidak hanya dirinya sendiri, tapi juga Jung Tae-Woo. Laki-laki itu harus menghadapi mimpi buruknya sekali lagi. Orang-orang kembali membicarakan kecelakaan empat tahun lalu yang melibatkan dirinya dan yang mengakibatkan salah seorang penggemarnya meninggal dunia.
Sejak mereka kembali dari pantai itu, Sandy sama sekali belum berbicara dengan Jung Tae-Woo. Sudah seminggu lebih. Berkali-kali Sandy ingin meneleponnya, tapi kemudian membatalkan niatnya. Ia merasa sebaiknya tidak menghubungi laki-laki itu untuk sementara ini, seperti yang mereka sepakati. Tapi bagaimana ini? Hatinya tidak tenang.
“Miss Han.”
Sandy tersentak dan menoleh. Mister Kim sudah berdiri di sampingnya sambil berkacak pinggang.
“Ya, Mister Kim?” Ia bergegas bangkit dari kursinya.
150
“Apa yang sedang kaupikirkan, Miss Han? Aku sudah memanggilmu ratusan kali,” kata Mister Kim. “Wajahmu juga pucat seperti bulan.”
Sandy menunduk. “Aku minta maaf.”
“Karena Jung Tae-Woo?”
Sandy mengangkat wajahnya dengan kaget. “Oh, Mister Kim, itu—“
Mister Kim mengangkat sebelah tangan untuk menghentikan kata-kata Sandy. “Miss Han, aku tidak percaya pada gosip-gosip yang beredar. Aku percaya padamu. Do you understand that?”
Sandy terdiam.
Mister Kim berjalan kembali ke meja kerjanya dan duduk di kursinya yang besar. “Tapi kau memang menyukainya, kan?”
Pertanyaan Mister Kim yang langsung dan tiba-tiba itu membuat Sandy tidak bisa berkata apa-apa.
“Kau ingin bertemu dengannya?”
Sandy masih diam.
Ternyata Mister Kim mengartikan sikap diamnya sebagai jawaban “ya”. “Kenapa kau tidak menghubunginya?”
Sandy tersenyum dan menggeleng.
Mister Kim menyandarkan kepala ke kursi. “Benar juga,” katanya. “Dia pasti se-dang banyak urusan sekarang ini. Kalau semuanya sudah diselesaikan, aku yakin dia pasti akan menghubungimu.”
Sandy hanya mengangguk sedikit, lalu keluar dari studio Mister Kim. Ia berjalan ke ruang penerimaan tamu yang saat itu sedang kosong. Ia duduk di sofa dan memandang ke luar jendela kaca yang besar. Banyak mobil yang berlalu-lalang, tapi Sandy tidak benar-benar memerhatikannya. Ia menatap ponsel yang ada dalam genggamannya.
Kalau suatu saat nanti kau rindu padaku, maukah kau memberitahuku? ... Agar aku bisa langsung berlari menemuimu.
Benarkah? Tidak, ia tidak akan mencobanya.
Tiba-tiba ponsel dalam genggamannya berbunyi. Ia menatap layar ponsel dan jantungnya langsung berdebar dua kali lebih cepat. Jung Tae-Woo.
Sandy menempelkan ponselnya ke telinga. “Ya?” Kenapa suaranya terdengar serak?
“Bagaimana kabarmu?”
Mata Sandy terasa panas begitu mendengar suara Jung Tae-Woo.
“Baik-baik saja?” suara Jung Tae-Woo terdengar lagi. Suaranya terdengar ceria, ringan, dan santai.
151
“Mm,” jawab Sandy sambil mengerjapkan mata untuk menghalau air mata. “Bagaimana denganmu?”
“Ingin bertemu denganmu.”
Sandy tidak berkata apa-apa.
Jung Tae-Woo mendesah panjang. “Bagaimana ini? Sudah lama aku tidak melihatmu, tidak mendengar suaramu, rasanya aneh sekali. Sepertinya semua yang kulakukan tidak ada yang benar. Lalu aku berpikir, mungkin kalau aku meneleponmu dan mendengar suaramu, aku akan merasa lebih baik. Sekarang setelah mendengar suaramu, aku memang merasa lebih baik, tapi timbul masalah lain.” Hening sejenak. “Aku jadi semakin ingin melihatmu.”
Tanpa sadar Sandy tersenyum, namun pandangannya mulai kabur.
“Apa aku boleh berpikir seperti itu?”
Sandy mengerjapkan mata, tapi kali ini air matanya tidak bisa dihentikan.
“Bisa membantuku?” tanya Jung Tae-Woo lagi. “Katakan „Jung Tae-Woo, fighting!‟ sekali saja.”
Sandy tertawa kecil dan menghapus air mata dengan telapak tangannya. “Jung Tae-Woo, fighting!” katanya.
Ia mendengar Jung Tae-Woo mendesah puas. “Baiklah, aku akan mengikuti kata-katamu. Aku akan bertahan. Dan kau sendiri, Sandy, fighting!”
Sandy menutup ponsel dengan perlahan. Ya, bertahanlah, Sandy.
“Kau mau ke Jakarta?”
Sandy memandang Kang Young-Mi sambil tertawa kecil. “Kenapa terkejut begitu?”
Mereka berdua sedang mengobrol di kafe langganan ketika Sandy memberitahu Young-Mi ia akan pulang ke Jakarta tiga hari lagi. Ternyata temannya kelihatan lebih terkejut daripada yang disangkanya.
Young-Mi mengempaskan tubuh ke kursi dan mendesah. “Kau sedang melarikan diri?” tuduhnya.
Sandy menggeleng. “Tidak. Melarikan diri dari apa?”
“Dari Jung Tae-Woo,” jawab temannya langsung.
“Astaga, kenapa aku harus melarikan diri dari dia?”
“Lalu kenapa tiba-tiba ingin pulang ke Jakarta?”
Sandy ikut bersandar di kursi. “Hanya ingin berganti suasana. Aku ingin mene-nangkan diri sebentar. Kau tahu sendiri di sini aku tidak akan bisa tenang. Tidak se-belum masalah itu beres. Lagi pula ibuku sudah marah-marah.”
Young-Mi menatap Sandy dengan kening berkerut. “Kenapa marah?”
152
“Tentu saja marah kalau kedua anak perempuannya mendadak jadi bahan pembica-raan tidak enak di tabloid-tabloid, di saat yang sama pula,” jelas Sandy.
“Tapi sebenarnya kau tidak menyalahkan Jung Tae-Woo atas kecelakaan kakakmu itu, kan?” tanya Young-Mi hati-hati.
“Tidak,” jawab Sandy. Ia menghela napas dan menegaskan sekali lagi, “Tidak.”
“Lalu kenapa kau tidak menemuinya?”
“Karena kami perlu waktu untuk berpikir. Walaupun aku tidak menyalahkannya, bagaimanapun pasti ada ganjalan di antara kami. Apalagi aku juga harus memikirkan ibuku.”
Mereka berdua terdiam sejenak, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kemudian Young-Mi bertanya, “Berapa lama kau akan tinggal di Jakarta?”
Sandy mengangkat bahu. “Mungkin cuma satu minggu. Mungkin lebih. Entahlah. Yang pasti, aku akan kembali.”
“Kau sudah memberitahu Jung Tae-Woo soal ini?”
Sandy menggeleng. “Apakah perlu?”
“Kurasa itu pertanyaan bodoh.”
Sandy memiringkan kepala. “Aku tidak tahu bagaimana harus memberitahunya.”
“Jangan memintaku melakukannya,” kata Young-Mi begitu melihat tatapan Sandy. “Kau harus mengatakannya sendiri.”
Tae-Woo memeriksa penampilannya di depan cermin. Lima menit lagi ia harus tampil di depan kamera. Hari ini ia akan tampil dalam acara bincang-bincang yang cukup populer. Tentu saja gosip yang paling hangat tentang dirinya akan dikonfirmasi. Tidak apa-apa. Ia sudah siap. Melalui cermin, ia melihat Park Hyun-Shik menghampiri dari belakang. Manajernya menunjuk jam tangan. Tae-Woo mengangguk mengerti.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Begitu membaca tulisan yang muncul di layar ponsel, ia tersenyum. Sudah seminggu terakhir ini ia tidak menghubungi gadis itu. Kenapa Sandy tiba-tiba meneleponnya?
“Halo?” katanya begitu ponselnya ditempelkan di telinga.
“Ini aku.” Terdengar suara Sandy di ujung sana.
Tae-Woo tersenyum. “Aku tahu.”
Sandy hanya bergumam tidak jelas, lalu bertanya, “Sedang apa?”
“Sebentar lagi on air,” sahut Tae-Woo sambil melihat ke sekeliling. “Ada apa?”
“Tidak apa-apa. Hanya ingin mendengar suaramu.”
“Begitu?” kata Tae-Woo senang. “Di mana kau sekarang?”
153
“Di bandara.”
Tae-Woo mengerutkan kening. Sepertinya ia salah dengar. “Di mana?”
“Di bandara.”
Ia tidak salah dengar. “Kenapa ada di bandara? Menjemput seseorang?”
“Aku akan pergi ke Jakarta. Aku meneleponmu untuk mengatakan itu.”
Tunggu... Jakarta? Jakarta, Indonesia?
Sepertinya Tae-Woo tanpa sadar telah menyuarakan pikirannya, karena Sandy menjawab, “Ya, aku akan pergi ke Indonesia. Sudah cukup lama aku ingin bertemu orangtuaku.”
“Berapa lama kau akan di sana?” tanya Tae-Woo. Tangannya mendadak terasa lemas.
“Sekitar seminggu,” jawab Sandy cepat. “Hanya untuk liburan.”
“Begitu.”
“Oh, aku harus masuk sekarang. Jaga dirimu.”
Tae-Woo masih dalam keadaan setengah sadar. “Mm... Kau juga,” gumamnya.
Walaupun Sandy sudah memutuskan hubungan, Tae-Woo masih memegangi ponsel di telinganya.
Gadis itu akan pergi. Tae-Woo mendadak merasa tidak bertenaga. Walaupun ia bisa memahami kenapa Sandy ingin pergi ke Jakarta, kenapa Sandy merasa perlu menjauhkan diri dari Korea untuk sementara, tetap saja ia tidak ingin gadis itu pergi. Walaupun sangat ingin pergi ke bandara sekarang, ia tahu sudah tidak ada gunanya. Sandy pasti sudah masuk ke pesawat. Itulah sebabnya kenapa gadis itu tidak memberitahunya lebih awal. Sandy tahu Tae-Woo pasti akan mencegahnya kalau memang bisa. Memikirkan gadis itu akan pergi membuat Tae-Woo cemas. Bagaimana kalau Sandy tidak kembali? Tidak bertemu Sandy beberapa waktu ini saja sudah membuat Tae-Woo agak panik, seperti orang yang kehilangan arah, apalagi sekarang.
“Tae-Woo, ayo, sudah saatnya.”
Tae-Woo menoleh ke manajernya. Ia mengangkat sebelah tangan untuk memberi tanda. Lalu ia mematut dirinya sekali lagi di cermin. Jung Tae-Woo, fighting!
Sandy menyadari bahwa yang mengalami masa-masa sulit tidak hanya dirinya sendiri, tapi juga Jung Tae-Woo. Laki-laki itu harus menghadapi mimpi buruknya sekali lagi. Orang-orang kembali membicarakan kecelakaan empat tahun lalu yang melibatkan dirinya dan yang mengakibatkan salah seorang penggemarnya meninggal dunia.
Sejak mereka kembali dari pantai itu, Sandy sama sekali belum berbicara dengan Jung Tae-Woo. Sudah seminggu lebih. Berkali-kali Sandy ingin meneleponnya, tapi kemudian membatalkan niatnya. Ia merasa sebaiknya tidak menghubungi laki-laki itu untuk sementara ini, seperti yang mereka sepakati. Tapi bagaimana ini? Hatinya tidak tenang.
“Miss Han.”
Sandy tersentak dan menoleh. Mister Kim sudah berdiri di sampingnya sambil berkacak pinggang.
“Ya, Mister Kim?” Ia bergegas bangkit dari kursinya.
150
“Apa yang sedang kaupikirkan, Miss Han? Aku sudah memanggilmu ratusan kali,” kata Mister Kim. “Wajahmu juga pucat seperti bulan.”
Sandy menunduk. “Aku minta maaf.”
“Karena Jung Tae-Woo?”
Sandy mengangkat wajahnya dengan kaget. “Oh, Mister Kim, itu—“
Mister Kim mengangkat sebelah tangan untuk menghentikan kata-kata Sandy. “Miss Han, aku tidak percaya pada gosip-gosip yang beredar. Aku percaya padamu. Do you understand that?”
Sandy terdiam.
Mister Kim berjalan kembali ke meja kerjanya dan duduk di kursinya yang besar. “Tapi kau memang menyukainya, kan?”
Pertanyaan Mister Kim yang langsung dan tiba-tiba itu membuat Sandy tidak bisa berkata apa-apa.
“Kau ingin bertemu dengannya?”
Sandy masih diam.
Ternyata Mister Kim mengartikan sikap diamnya sebagai jawaban “ya”. “Kenapa kau tidak menghubunginya?”
Sandy tersenyum dan menggeleng.
Mister Kim menyandarkan kepala ke kursi. “Benar juga,” katanya. “Dia pasti se-dang banyak urusan sekarang ini. Kalau semuanya sudah diselesaikan, aku yakin dia pasti akan menghubungimu.”
Sandy hanya mengangguk sedikit, lalu keluar dari studio Mister Kim. Ia berjalan ke ruang penerimaan tamu yang saat itu sedang kosong. Ia duduk di sofa dan memandang ke luar jendela kaca yang besar. Banyak mobil yang berlalu-lalang, tapi Sandy tidak benar-benar memerhatikannya. Ia menatap ponsel yang ada dalam genggamannya.
Kalau suatu saat nanti kau rindu padaku, maukah kau memberitahuku? ... Agar aku bisa langsung berlari menemuimu.
Benarkah? Tidak, ia tidak akan mencobanya.
Tiba-tiba ponsel dalam genggamannya berbunyi. Ia menatap layar ponsel dan jantungnya langsung berdebar dua kali lebih cepat. Jung Tae-Woo.
Sandy menempelkan ponselnya ke telinga. “Ya?” Kenapa suaranya terdengar serak?
“Bagaimana kabarmu?”
Mata Sandy terasa panas begitu mendengar suara Jung Tae-Woo.
“Baik-baik saja?” suara Jung Tae-Woo terdengar lagi. Suaranya terdengar ceria, ringan, dan santai.
151
“Mm,” jawab Sandy sambil mengerjapkan mata untuk menghalau air mata. “Bagaimana denganmu?”
“Ingin bertemu denganmu.”
Sandy tidak berkata apa-apa.
Jung Tae-Woo mendesah panjang. “Bagaimana ini? Sudah lama aku tidak melihatmu, tidak mendengar suaramu, rasanya aneh sekali. Sepertinya semua yang kulakukan tidak ada yang benar. Lalu aku berpikir, mungkin kalau aku meneleponmu dan mendengar suaramu, aku akan merasa lebih baik. Sekarang setelah mendengar suaramu, aku memang merasa lebih baik, tapi timbul masalah lain.” Hening sejenak. “Aku jadi semakin ingin melihatmu.”
Tanpa sadar Sandy tersenyum, namun pandangannya mulai kabur.
“Apa aku boleh berpikir seperti itu?”
Sandy mengerjapkan mata, tapi kali ini air matanya tidak bisa dihentikan.
“Bisa membantuku?” tanya Jung Tae-Woo lagi. “Katakan „Jung Tae-Woo, fighting!‟ sekali saja.”
Sandy tertawa kecil dan menghapus air mata dengan telapak tangannya. “Jung Tae-Woo, fighting!” katanya.
Ia mendengar Jung Tae-Woo mendesah puas. “Baiklah, aku akan mengikuti kata-katamu. Aku akan bertahan. Dan kau sendiri, Sandy, fighting!”
Sandy menutup ponsel dengan perlahan. Ya, bertahanlah, Sandy.
“Kau mau ke Jakarta?”
Sandy memandang Kang Young-Mi sambil tertawa kecil. “Kenapa terkejut begitu?”
Mereka berdua sedang mengobrol di kafe langganan ketika Sandy memberitahu Young-Mi ia akan pulang ke Jakarta tiga hari lagi. Ternyata temannya kelihatan lebih terkejut daripada yang disangkanya.
Young-Mi mengempaskan tubuh ke kursi dan mendesah. “Kau sedang melarikan diri?” tuduhnya.
Sandy menggeleng. “Tidak. Melarikan diri dari apa?”
“Dari Jung Tae-Woo,” jawab temannya langsung.
“Astaga, kenapa aku harus melarikan diri dari dia?”
“Lalu kenapa tiba-tiba ingin pulang ke Jakarta?”
Sandy ikut bersandar di kursi. “Hanya ingin berganti suasana. Aku ingin mene-nangkan diri sebentar. Kau tahu sendiri di sini aku tidak akan bisa tenang. Tidak se-belum masalah itu beres. Lagi pula ibuku sudah marah-marah.”
Young-Mi menatap Sandy dengan kening berkerut. “Kenapa marah?”
152
“Tentu saja marah kalau kedua anak perempuannya mendadak jadi bahan pembica-raan tidak enak di tabloid-tabloid, di saat yang sama pula,” jelas Sandy.
“Tapi sebenarnya kau tidak menyalahkan Jung Tae-Woo atas kecelakaan kakakmu itu, kan?” tanya Young-Mi hati-hati.
“Tidak,” jawab Sandy. Ia menghela napas dan menegaskan sekali lagi, “Tidak.”
“Lalu kenapa kau tidak menemuinya?”
“Karena kami perlu waktu untuk berpikir. Walaupun aku tidak menyalahkannya, bagaimanapun pasti ada ganjalan di antara kami. Apalagi aku juga harus memikirkan ibuku.”
Mereka berdua terdiam sejenak, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kemudian Young-Mi bertanya, “Berapa lama kau akan tinggal di Jakarta?”
Sandy mengangkat bahu. “Mungkin cuma satu minggu. Mungkin lebih. Entahlah. Yang pasti, aku akan kembali.”
“Kau sudah memberitahu Jung Tae-Woo soal ini?”
Sandy menggeleng. “Apakah perlu?”
“Kurasa itu pertanyaan bodoh.”
Sandy memiringkan kepala. “Aku tidak tahu bagaimana harus memberitahunya.”
“Jangan memintaku melakukannya,” kata Young-Mi begitu melihat tatapan Sandy. “Kau harus mengatakannya sendiri.”
Tae-Woo memeriksa penampilannya di depan cermin. Lima menit lagi ia harus tampil di depan kamera. Hari ini ia akan tampil dalam acara bincang-bincang yang cukup populer. Tentu saja gosip yang paling hangat tentang dirinya akan dikonfirmasi. Tidak apa-apa. Ia sudah siap. Melalui cermin, ia melihat Park Hyun-Shik menghampiri dari belakang. Manajernya menunjuk jam tangan. Tae-Woo mengangguk mengerti.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Begitu membaca tulisan yang muncul di layar ponsel, ia tersenyum. Sudah seminggu terakhir ini ia tidak menghubungi gadis itu. Kenapa Sandy tiba-tiba meneleponnya?
“Halo?” katanya begitu ponselnya ditempelkan di telinga.
“Ini aku.” Terdengar suara Sandy di ujung sana.
Tae-Woo tersenyum. “Aku tahu.”
Sandy hanya bergumam tidak jelas, lalu bertanya, “Sedang apa?”
“Sebentar lagi on air,” sahut Tae-Woo sambil melihat ke sekeliling. “Ada apa?”
“Tidak apa-apa. Hanya ingin mendengar suaramu.”
“Begitu?” kata Tae-Woo senang. “Di mana kau sekarang?”
153
“Di bandara.”
Tae-Woo mengerutkan kening. Sepertinya ia salah dengar. “Di mana?”
“Di bandara.”
Ia tidak salah dengar. “Kenapa ada di bandara? Menjemput seseorang?”
“Aku akan pergi ke Jakarta. Aku meneleponmu untuk mengatakan itu.”
Tunggu... Jakarta? Jakarta, Indonesia?
Sepertinya Tae-Woo tanpa sadar telah menyuarakan pikirannya, karena Sandy menjawab, “Ya, aku akan pergi ke Indonesia. Sudah cukup lama aku ingin bertemu orangtuaku.”
“Berapa lama kau akan di sana?” tanya Tae-Woo. Tangannya mendadak terasa lemas.
“Sekitar seminggu,” jawab Sandy cepat. “Hanya untuk liburan.”
“Begitu.”
“Oh, aku harus masuk sekarang. Jaga dirimu.”
Tae-Woo masih dalam keadaan setengah sadar. “Mm... Kau juga,” gumamnya.
Walaupun Sandy sudah memutuskan hubungan, Tae-Woo masih memegangi ponsel di telinganya.
Gadis itu akan pergi. Tae-Woo mendadak merasa tidak bertenaga. Walaupun ia bisa memahami kenapa Sandy ingin pergi ke Jakarta, kenapa Sandy merasa perlu menjauhkan diri dari Korea untuk sementara, tetap saja ia tidak ingin gadis itu pergi. Walaupun sangat ingin pergi ke bandara sekarang, ia tahu sudah tidak ada gunanya. Sandy pasti sudah masuk ke pesawat. Itulah sebabnya kenapa gadis itu tidak memberitahunya lebih awal. Sandy tahu Tae-Woo pasti akan mencegahnya kalau memang bisa. Memikirkan gadis itu akan pergi membuat Tae-Woo cemas. Bagaimana kalau Sandy tidak kembali? Tidak bertemu Sandy beberapa waktu ini saja sudah membuat Tae-Woo agak panik, seperti orang yang kehilangan arah, apalagi sekarang.
“Tae-Woo, ayo, sudah saatnya.”
Tae-Woo menoleh ke manajernya. Ia mengangkat sebelah tangan untuk memberi tanda. Lalu ia mematut dirinya sekali lagi di cermin. Jung Tae-Woo, fighting!
BAB 13 PART 2
Tae-Woo ingat, saat itu mereka sedang makan daging panggang di rumah Hyun Shik Hyong. Hyun-Shik Hyong memberitahu gadis itu tentang jumpa penggemar Tae-Woo. Sandy kelihatan kaget lalu terbatuk-batuk, lalu ia bertanya, “Jumpa penggemar? Seperti yang dulu?”
Kemudian ketika ia meminta bantuan Sandy memilihkan hadiah untuk penggemarnya, gadis itu mengusulkan bros. Ketika Tae-Woo mengatakan ia sudah pernah memberikan bros untuk penggemarnya, gadis itu berujar, “Aah, benar juga.”
Sandy juga pernah bertanya padanya tentang kecelakaan empat tahun lalu itu. Saat itu wajahnya agak pucat, Tae-Woo baru menyadarinya sekarang. Ia juga berkata, “Kurasa... kau tidak salah.”
Tae-Woo juga teringat pada kata-kata manajernya dulu. Park Hyun-Shik pernah berkomentar bahwa ia merasa aneh Sandy tidak meminta imbalan apa pun untuk berfoto dengannya dan berpura-pura menjadi kekasihnya.
Tae-Woo mengusap wajah dengan kedua tangannya, matanya menatap layar komputer. Apakah Sandy sungguh ada hubungannya dengan penggemarnya yang meninggal itu? Apakah gadis itu ingin membalas dendam? Tidak, tidak mungkin. Sandy sudah berkata kecelakaan itu bukan kesalahannya.
Tidak, ia tidak bisa duduk saja. Apa yang sedang ditunggunya? Ia harus menemui Sandy. Ia harus bicara dengannya. Bicara apa? Ia tidak tahu. Ia tidak bisa berpikir. Yang pasti, ia harus bertemu gadis itu.
Tepat pada saat Tae-Woo bangkit dari kursi, telepon rumahnya berdering. Ia membiarkan mesin penjawab telepon yang menerimanya. Ia meraih kunci mobilnya dan baru akan keluar dari pintu ketika terdengar suara manajernya di mesin penjawab telepon.
“Tae-Woo, tolong angkat teleponnya. Aku tahu kau ada di sana. Tae-Woo!”
Tae-Woo hanya bergeming menatap mesin penjawab telepon.
“Mereka ingin bertemu denganmu. Kau harus datang kemari.”
Tae-Woo tahu siapa “mereka” yang dimaksud Park Hyun-Shik. Para produser dan agennya.
Ia mengangkat gagang teleponnya dan berkata, “Aku ingin bertemu dengannya dulu. Setelah itu aku baru ke sana.”
Seperti yang sudah diduganya, banyak wartawan sudah menunggu di depan rumah. Ia bisa mendengar mereka berteriak-teriak memanggilnya dari depan pagar. Tae-Woo langsung masuk ke mobil, membuka pagar rumah dengan remote control, dan melesat pergi tanpa menghiraukan wartawan-wartawan itu. Ia tidak bisa memberi komentar apa pun. Tidak sebelum ia bertemu Sandy.
145
Belum begitu jauh meninggalkan rumah, Tae-Woo melihat seorang gadis sedang berlari ke arahnya. Sandy. Gadis itu sedang berlari menuju rumahnya.
Sandy berlari secepat mungkin. Ia berlari menyusuri jalan menuju rumah Jung Tae-Woo. Ia harus bertemu laki-laki itu. Ia harus menjelaskan semuanya. Sebentar lagi sampai. Tiba-tiba ia melihat mobil merah melaju ke arahnya. Mobil Jung Tae-Woo. Ia berhenti berlari, berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Pasti Jung Tae-Woo juga sudah melihatnya, karena mobil itu langsung berhenti tepat di sampingnya.
Sandy melihat jendela mobil diturunkan. Jung Tae-Woo menatapnya dari balik kacamata gelapnya. Sandy tidak mampu berkata apa-apa karena masih berusaha mengatur napas.
“Masuklah,” kata Jung Tae-Woo. “Ada banyak wartawan di belakang.”
Sandy menurut.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak berbicara. Jung Tae-Woo tetap menatap lurus ke depan. Sandy ingin memulai percakapan, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Dari sikap diam Jung Tae-Woo, Sandy yakin laki-laki itu sudah tahu tentang artikel di internet itu. Apakah Jung Tae-Woo marah? Entahlah. Sandy melirik Jung Tae-Woo dengan hati-hati. Sulit melihat ekspresinya dari balik kacamata gelap. Akhirnya Sandy memilih diam dulu.
Mobil Jung Tae-Woo terus melaju ke arah luar kota. Sandy memperkirakan mereka sedang menuju pantai. Ternyata memang benar. Akhirnya Jung Tae-Woo menghenti-kan mobil di pinggir jalan yang sepi. Di sebelah kanan mereka terbentang laut luas. Di sebelah kiri mereka terdapat beberapa rumah makan.
Sandy duduk tegang sementara Jung Tae-Woo mematikan mesin mobilnya. Dari sudut matanya, ia melihat Jung Tae-Woo membuka kacamata gelapnya namun tetap memakai topi. Laki-laki itu menarik napas panjang dan melepaskan sabuk pengaman. Kemudian ia membuka pintu mobil dan keluar.
“Keluarlah,” katanya pada Sandy.
Sandy melepaskan sabuk pengaman perlahan-lahan. Otaknya terus menyusun kata-kata yang ingin diutarakannya pada Jung Tae-Woo. Ia keluar dari mobil dan mengham-piri Jung Tae-Woo yang berdiri dan setengah bersandar pada bagian depan mobil, memandang laut.
Sandy berdiri di sampingnya. Ia ingin membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia tidak suka melihat Jung Tae-Woo yang pendiam seperti ini.
“Maaf,” gumam Jung Tae-Woo.
Sandy menoleh ke arahnya. Apa yang dikatakannya tadi? Maaf?
146
Jung Tae-Woo masih tetap memandang ke laut. Ia mengembuskan napas. “Maafkan aku,” katanya sekali lagi. Nada suaranya lemah, seakan-akan ia tidak bisa mengucap-kan kata-kata yang lain lagi. “Maafkan aku.”
Sandy mengerutkan kening karena heran. “Minta maaf untuk apa?” tanyanya.
Jung Tae-Woo menoleh ke arahnya, tersenyum samar. “Mengenai kakakmu,” katanya. “Maafkan aku.”
Hati Sandy terasa seolah diremas. Kenapa Jung Tae-Woo yang harus meminta maaf? Justru ia sendiri yang ingin meminta maaf karena tidak menceritakan hal ini sejak awal.
“Tidak,” gumam Sandy. “Untuk apa minta maaf? Kau tidak salah.”
“Jadi, artikel itu benar?” tanya Jung Tae-Woo lagi.
Sandy tidak suka mendengar nada suara Jung Tae-Woo yang seperti itu. Laki-laki itu kelihatan sedih, putus asa, kecewa.
Sandy menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. “Benar, dulu aku punya kakak perempuan. Benar, dia meninggal empat tahun lalu. Dan benar, dia meninggal setelah menghadiri acara jumpa penggemar itu.”
Kepala Jung Tae-Woo tertunduk. Mereka terdiam sejenak, lalu Jung Tae-Woo bertanya pelan, “Kukira kau anak tunggal.”
Sandy menoleh ke arah Jung Tae-Woo, lalu kembali menatap laut. Kata-katanya mengalir lancar. “Sebelum ibuku menikah dengan ayahku, ibuku pernah menikah dengan sesama orang Indonesia. Lisa anak hasil pernikahan ibuku dengan suami pertamanya. Tapi ketika Lisa berusia dua tahun, ayahnya meninggal dunia. Dua tahun kemudian, ibuku menikah dengan ayahku. Aku lahir. Ketika usiaku sepuluh tahun, kami sekeluarga pindah ke Seoul. Lisa tidak ingin ikut, jadi ia tetap tinggal di Jakarta bersama neneknya. Walaupun begitu, hubungan kami sangat baik. Ia sering datang ke Seoul, tapi tidak pernah bisa berbahasa Korea.
“Empat tahun yang lalu, ia datang ke Seoul untuk menghadiri jumpa penggemarmu. Dia salah satu penggemar terbesarmu. Selalu membicarakan dirimu. Kadang-kadang aku bosan mendengarnya. Aku tidak mengerti kenapa dia sangat mengidolakan Jung Tae-Woo. Sebelum pergi ke acara itu, dia terus berusaha mengajakku menemaninya ke acara jumpa penggemar itu, tapi aku tidak mau. Katanya aku akan rugi karena tidak mengenal Jung Tae-Woo, tidak mendengar Jung Tae-Woo menyanyi.
“Aku ingin kau mengerti aku tidak menyalahkanmu.” Sandy menatap Jung Tae-Woo. Laki-laki itu juga sedang menatapnya. “Karena itu aku tidak pernah punya dendam terhadapmu. Mungkin awalnya kau sempat heran kenapa aku bersedia membantumu, kenapa aku bersedia terlibat dalam urusanmu. Saat itu aku hanya ingin
147
mengenal dirimu, mengenalmu lebih baik. Aku ingin tahu kenapa kakakku sangat menyukaimu. Aku berpikir, bila aku bisa memahami alasan kakakku menyukaimu, aku akan merasa lebih memahaminya dan perasaanku akan membaik. Hanya itu.”
Sandy memalingkan wajah. “Seharusnya kuceritakan lebih awal. Maafkan aku.”
Jung Tae-Woo memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Lalu,” katanya, “apakah kau sudah bisa memahami kakakmu?”
Sandy tersenyum samar. Jung Tae-Woo menanyakan pertanyaan yang tepat. Apakah ia sudah bisa memahami Lisa? Apakah ia sudah menemukan jawaban kenapa Lisa sangat menyukai Jung Tae-Woo?
“Kurasa belum,” jawabnya.
“Belum?”
Sandy menoleh memandang Jung Tae-Woo. Laki-laki itu juga sedang menatapnya dengan raut wajah yang susah ditebak artinya.
“Kurasa aku tidak akan pernah bisa memahaminya,” Sandy melanjutkan, “karena menurutku apa yang kurasakan berbeda dengan apa yang Lisa rasakan.”
Dahi Jung Tae-Woo berkerut tidak mengerti.
Sepertinya rasa suka yang dirasakan Lisa terhadapmu berbeda dengan rasa suka yang kurasakan terhadapmu, kata Sandy dalam hati. Matanya menatap mata Jung Tae-Woo lurus-lurus.
Kerutan di dahi Jung Tae-Woo perlahan-lahan menghilang. Ketika baru akan mengatakan sesuatu, ponselnya berbunyi. Ia mengeluarkan ponselnya dengan cepat.
“Halo? ... Mm... Aku mengerti.”
Jung Tae-Woo hanya mengucapkan kata-kata pendek itu, lalu menutup flap ponselnya kembali.
“Dari Paman Park Hyun-Shik?” tanya Sandy.
Jung Tae-Woo melihatnya sekilas, lalu mengangguk. “Mm.”
“Kau disuruh menemuinya, bukan?”
Jung Tae-Woo tidak menjawab.
“Mungkin... Apakah menurutmu sebaiknya kita tidak saling bertemu dulu untuk sementara? Maksudku, karena ada masalah seperti ini. Kurasa kita berdua juga perlu... berpikir.”
Jung Tae-Woo mengembuskan napas keras-keras, tapi tidak berkata apa-apa.
Mereka berdua kembali terdiam beberapa saat. Masing-masing menikmati keheningan yang hanya diselingi deburan ombak. Entah kenapa ada sepercik perasaan damai ketika itu. Kalau boleh, Sandy ingin waktu berhenti saat itu juga. Ia ingin menikmati kesunyian itu, perasaan damai itu, dan suara laut yang menenangkan
148
dengan Jung Tae-Woo di sampingnya. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Cepat atau lambat mereka harus menghadapi kenyataan.
“Sebaiknya kita kembali saja sekarang,” kata Sandy akhirnya.
Sandy bergerak, berniat menjauhi mobil, ketika tiba-tiba ia merasa pergelangan tangannya dicekal. Ia menoleh dan melihat Jung Tae-Woo sedang mencengkeram pergelangan tangannya tanpa memandangnya. Mendadak saja ia merasa sulit bernapas.
“Kau tidak usah khawatir,” kata Jung Tae-Woo dengan nada rendah. “Biar aku saja yang menyelesaikan masalah ini. Setelah itu kita akan bicara lagi. Kau... kau mau menunggu sampai saat itu?”
Sandy mengangguk, lalu berkata sekali lag, “Kita kembali saja sekarang...”
Kemudian ketika ia meminta bantuan Sandy memilihkan hadiah untuk penggemarnya, gadis itu mengusulkan bros. Ketika Tae-Woo mengatakan ia sudah pernah memberikan bros untuk penggemarnya, gadis itu berujar, “Aah, benar juga.”
Sandy juga pernah bertanya padanya tentang kecelakaan empat tahun lalu itu. Saat itu wajahnya agak pucat, Tae-Woo baru menyadarinya sekarang. Ia juga berkata, “Kurasa... kau tidak salah.”
Tae-Woo juga teringat pada kata-kata manajernya dulu. Park Hyun-Shik pernah berkomentar bahwa ia merasa aneh Sandy tidak meminta imbalan apa pun untuk berfoto dengannya dan berpura-pura menjadi kekasihnya.
Tae-Woo mengusap wajah dengan kedua tangannya, matanya menatap layar komputer. Apakah Sandy sungguh ada hubungannya dengan penggemarnya yang meninggal itu? Apakah gadis itu ingin membalas dendam? Tidak, tidak mungkin. Sandy sudah berkata kecelakaan itu bukan kesalahannya.
Tidak, ia tidak bisa duduk saja. Apa yang sedang ditunggunya? Ia harus menemui Sandy. Ia harus bicara dengannya. Bicara apa? Ia tidak tahu. Ia tidak bisa berpikir. Yang pasti, ia harus bertemu gadis itu.
Tepat pada saat Tae-Woo bangkit dari kursi, telepon rumahnya berdering. Ia membiarkan mesin penjawab telepon yang menerimanya. Ia meraih kunci mobilnya dan baru akan keluar dari pintu ketika terdengar suara manajernya di mesin penjawab telepon.
“Tae-Woo, tolong angkat teleponnya. Aku tahu kau ada di sana. Tae-Woo!”
Tae-Woo hanya bergeming menatap mesin penjawab telepon.
“Mereka ingin bertemu denganmu. Kau harus datang kemari.”
Tae-Woo tahu siapa “mereka” yang dimaksud Park Hyun-Shik. Para produser dan agennya.
Ia mengangkat gagang teleponnya dan berkata, “Aku ingin bertemu dengannya dulu. Setelah itu aku baru ke sana.”
Seperti yang sudah diduganya, banyak wartawan sudah menunggu di depan rumah. Ia bisa mendengar mereka berteriak-teriak memanggilnya dari depan pagar. Tae-Woo langsung masuk ke mobil, membuka pagar rumah dengan remote control, dan melesat pergi tanpa menghiraukan wartawan-wartawan itu. Ia tidak bisa memberi komentar apa pun. Tidak sebelum ia bertemu Sandy.
145
Belum begitu jauh meninggalkan rumah, Tae-Woo melihat seorang gadis sedang berlari ke arahnya. Sandy. Gadis itu sedang berlari menuju rumahnya.
Sandy berlari secepat mungkin. Ia berlari menyusuri jalan menuju rumah Jung Tae-Woo. Ia harus bertemu laki-laki itu. Ia harus menjelaskan semuanya. Sebentar lagi sampai. Tiba-tiba ia melihat mobil merah melaju ke arahnya. Mobil Jung Tae-Woo. Ia berhenti berlari, berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Pasti Jung Tae-Woo juga sudah melihatnya, karena mobil itu langsung berhenti tepat di sampingnya.
Sandy melihat jendela mobil diturunkan. Jung Tae-Woo menatapnya dari balik kacamata gelapnya. Sandy tidak mampu berkata apa-apa karena masih berusaha mengatur napas.
“Masuklah,” kata Jung Tae-Woo. “Ada banyak wartawan di belakang.”
Sandy menurut.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak berbicara. Jung Tae-Woo tetap menatap lurus ke depan. Sandy ingin memulai percakapan, tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Dari sikap diam Jung Tae-Woo, Sandy yakin laki-laki itu sudah tahu tentang artikel di internet itu. Apakah Jung Tae-Woo marah? Entahlah. Sandy melirik Jung Tae-Woo dengan hati-hati. Sulit melihat ekspresinya dari balik kacamata gelap. Akhirnya Sandy memilih diam dulu.
Mobil Jung Tae-Woo terus melaju ke arah luar kota. Sandy memperkirakan mereka sedang menuju pantai. Ternyata memang benar. Akhirnya Jung Tae-Woo menghenti-kan mobil di pinggir jalan yang sepi. Di sebelah kanan mereka terbentang laut luas. Di sebelah kiri mereka terdapat beberapa rumah makan.
Sandy duduk tegang sementara Jung Tae-Woo mematikan mesin mobilnya. Dari sudut matanya, ia melihat Jung Tae-Woo membuka kacamata gelapnya namun tetap memakai topi. Laki-laki itu menarik napas panjang dan melepaskan sabuk pengaman. Kemudian ia membuka pintu mobil dan keluar.
“Keluarlah,” katanya pada Sandy.
Sandy melepaskan sabuk pengaman perlahan-lahan. Otaknya terus menyusun kata-kata yang ingin diutarakannya pada Jung Tae-Woo. Ia keluar dari mobil dan mengham-piri Jung Tae-Woo yang berdiri dan setengah bersandar pada bagian depan mobil, memandang laut.
Sandy berdiri di sampingnya. Ia ingin membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Ia tidak suka melihat Jung Tae-Woo yang pendiam seperti ini.
“Maaf,” gumam Jung Tae-Woo.
Sandy menoleh ke arahnya. Apa yang dikatakannya tadi? Maaf?
146
Jung Tae-Woo masih tetap memandang ke laut. Ia mengembuskan napas. “Maafkan aku,” katanya sekali lagi. Nada suaranya lemah, seakan-akan ia tidak bisa mengucap-kan kata-kata yang lain lagi. “Maafkan aku.”
Sandy mengerutkan kening karena heran. “Minta maaf untuk apa?” tanyanya.
Jung Tae-Woo menoleh ke arahnya, tersenyum samar. “Mengenai kakakmu,” katanya. “Maafkan aku.”
Hati Sandy terasa seolah diremas. Kenapa Jung Tae-Woo yang harus meminta maaf? Justru ia sendiri yang ingin meminta maaf karena tidak menceritakan hal ini sejak awal.
“Tidak,” gumam Sandy. “Untuk apa minta maaf? Kau tidak salah.”
“Jadi, artikel itu benar?” tanya Jung Tae-Woo lagi.
Sandy tidak suka mendengar nada suara Jung Tae-Woo yang seperti itu. Laki-laki itu kelihatan sedih, putus asa, kecewa.
Sandy menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. “Benar, dulu aku punya kakak perempuan. Benar, dia meninggal empat tahun lalu. Dan benar, dia meninggal setelah menghadiri acara jumpa penggemar itu.”
Kepala Jung Tae-Woo tertunduk. Mereka terdiam sejenak, lalu Jung Tae-Woo bertanya pelan, “Kukira kau anak tunggal.”
Sandy menoleh ke arah Jung Tae-Woo, lalu kembali menatap laut. Kata-katanya mengalir lancar. “Sebelum ibuku menikah dengan ayahku, ibuku pernah menikah dengan sesama orang Indonesia. Lisa anak hasil pernikahan ibuku dengan suami pertamanya. Tapi ketika Lisa berusia dua tahun, ayahnya meninggal dunia. Dua tahun kemudian, ibuku menikah dengan ayahku. Aku lahir. Ketika usiaku sepuluh tahun, kami sekeluarga pindah ke Seoul. Lisa tidak ingin ikut, jadi ia tetap tinggal di Jakarta bersama neneknya. Walaupun begitu, hubungan kami sangat baik. Ia sering datang ke Seoul, tapi tidak pernah bisa berbahasa Korea.
“Empat tahun yang lalu, ia datang ke Seoul untuk menghadiri jumpa penggemarmu. Dia salah satu penggemar terbesarmu. Selalu membicarakan dirimu. Kadang-kadang aku bosan mendengarnya. Aku tidak mengerti kenapa dia sangat mengidolakan Jung Tae-Woo. Sebelum pergi ke acara itu, dia terus berusaha mengajakku menemaninya ke acara jumpa penggemar itu, tapi aku tidak mau. Katanya aku akan rugi karena tidak mengenal Jung Tae-Woo, tidak mendengar Jung Tae-Woo menyanyi.
“Aku ingin kau mengerti aku tidak menyalahkanmu.” Sandy menatap Jung Tae-Woo. Laki-laki itu juga sedang menatapnya. “Karena itu aku tidak pernah punya dendam terhadapmu. Mungkin awalnya kau sempat heran kenapa aku bersedia membantumu, kenapa aku bersedia terlibat dalam urusanmu. Saat itu aku hanya ingin
147
mengenal dirimu, mengenalmu lebih baik. Aku ingin tahu kenapa kakakku sangat menyukaimu. Aku berpikir, bila aku bisa memahami alasan kakakku menyukaimu, aku akan merasa lebih memahaminya dan perasaanku akan membaik. Hanya itu.”
Sandy memalingkan wajah. “Seharusnya kuceritakan lebih awal. Maafkan aku.”
Jung Tae-Woo memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Lalu,” katanya, “apakah kau sudah bisa memahami kakakmu?”
Sandy tersenyum samar. Jung Tae-Woo menanyakan pertanyaan yang tepat. Apakah ia sudah bisa memahami Lisa? Apakah ia sudah menemukan jawaban kenapa Lisa sangat menyukai Jung Tae-Woo?
“Kurasa belum,” jawabnya.
“Belum?”
Sandy menoleh memandang Jung Tae-Woo. Laki-laki itu juga sedang menatapnya dengan raut wajah yang susah ditebak artinya.
“Kurasa aku tidak akan pernah bisa memahaminya,” Sandy melanjutkan, “karena menurutku apa yang kurasakan berbeda dengan apa yang Lisa rasakan.”
Dahi Jung Tae-Woo berkerut tidak mengerti.
Sepertinya rasa suka yang dirasakan Lisa terhadapmu berbeda dengan rasa suka yang kurasakan terhadapmu, kata Sandy dalam hati. Matanya menatap mata Jung Tae-Woo lurus-lurus.
Kerutan di dahi Jung Tae-Woo perlahan-lahan menghilang. Ketika baru akan mengatakan sesuatu, ponselnya berbunyi. Ia mengeluarkan ponselnya dengan cepat.
“Halo? ... Mm... Aku mengerti.”
Jung Tae-Woo hanya mengucapkan kata-kata pendek itu, lalu menutup flap ponselnya kembali.
“Dari Paman Park Hyun-Shik?” tanya Sandy.
Jung Tae-Woo melihatnya sekilas, lalu mengangguk. “Mm.”
“Kau disuruh menemuinya, bukan?”
Jung Tae-Woo tidak menjawab.
“Mungkin... Apakah menurutmu sebaiknya kita tidak saling bertemu dulu untuk sementara? Maksudku, karena ada masalah seperti ini. Kurasa kita berdua juga perlu... berpikir.”
Jung Tae-Woo mengembuskan napas keras-keras, tapi tidak berkata apa-apa.
Mereka berdua kembali terdiam beberapa saat. Masing-masing menikmati keheningan yang hanya diselingi deburan ombak. Entah kenapa ada sepercik perasaan damai ketika itu. Kalau boleh, Sandy ingin waktu berhenti saat itu juga. Ia ingin menikmati kesunyian itu, perasaan damai itu, dan suara laut yang menenangkan
148
dengan Jung Tae-Woo di sampingnya. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Cepat atau lambat mereka harus menghadapi kenyataan.
“Sebaiknya kita kembali saja sekarang,” kata Sandy akhirnya.
Sandy bergerak, berniat menjauhi mobil, ketika tiba-tiba ia merasa pergelangan tangannya dicekal. Ia menoleh dan melihat Jung Tae-Woo sedang mencengkeram pergelangan tangannya tanpa memandangnya. Mendadak saja ia merasa sulit bernapas.
“Kau tidak usah khawatir,” kata Jung Tae-Woo dengan nada rendah. “Biar aku saja yang menyelesaikan masalah ini. Setelah itu kita akan bicara lagi. Kau... kau mau menunggu sampai saat itu?”
Sandy mengangguk, lalu berkata sekali lag, “Kita kembali saja sekarang...”
Langganan:
Komentar (Atom)